
Islamedia.co – Yang paling perlu kita risaukan bukanlah naiknya BBM, tapi turunnya
integritas dan hilangnya kejernihan nurani kita dan khususnya para
politisi (yang benar menurut bahasa Indonesia, politisi atau poliTIKUS?).
Bersebab hilangnya integritas itulah, apa yang dulu ditentang, sekarang
dilakukan. Kenaikan BBM hanya salah satu akibat. Ada akibat-akibat
lainnya yang sangat mungkin terjadi, yang tampak maupun yang diam-diam (dan ini lebih mengkhawatirkan).
integritas dan hilangnya kejernihan nurani kita dan khususnya para
politisi (yang benar menurut bahasa Indonesia, politisi atau poliTIKUS?).
Bersebab hilangnya integritas itulah, apa yang dulu ditentang, sekarang
dilakukan. Kenaikan BBM hanya salah satu akibat. Ada akibat-akibat
lainnya yang sangat mungkin terjadi, yang tampak maupun yang diam-diam (dan ini lebih mengkhawatirkan).
Integritas
adalah kualifikasi mutlak seorang perawi hadits. Jika lemah atau rusak
integritasnya, maka riwayatnya tidak dipakai. Akan tetapi, alangkah
sering kita abaikan hal semacam ini untuk menakar orang-orang yang akan
mengurusi kita. Padahal rusaknya integritas akan menjadi awal yang
buruk, betapa pun cerdasnya dia. Integritas ini tidak hanya terhadap
satu dua orang yang memegang tampuk tertinggi, tapi keseluruhan yang
memegang amanah mengurusi negeri.
adalah kualifikasi mutlak seorang perawi hadits. Jika lemah atau rusak
integritasnya, maka riwayatnya tidak dipakai. Akan tetapi, alangkah
sering kita abaikan hal semacam ini untuk menakar orang-orang yang akan
mengurusi kita. Padahal rusaknya integritas akan menjadi awal yang
buruk, betapa pun cerdasnya dia. Integritas ini tidak hanya terhadap
satu dua orang yang memegang tampuk tertinggi, tapi keseluruhan yang
memegang amanah mengurusi negeri.
Malu adalah perisai
kehormatan. Jika sudah putus urat malunya, maka khawatirilah sikap dan
tindakannya, betapa pun banyak langkah baiknya. Jika integritas sudah
tiada, urat malu pun putus sudah, maka BBM naik itu hanyalah dampak
terkecil. Boleh jadi akan ada yang lebih besar.
kehormatan. Jika sudah putus urat malunya, maka khawatirilah sikap dan
tindakannya, betapa pun banyak langkah baiknya. Jika integritas sudah
tiada, urat malu pun putus sudah, maka BBM naik itu hanyalah dampak
terkecil. Boleh jadi akan ada yang lebih besar.
Senantiasa
kita perlu bertanya, adakah kita turut berperan di masa lalu maupun
masa kini terhadap tiadanya integritas para pemegang amanah? DI saat
yang sama, kita perlu menata langkah untuk saling menguati agar tak
kehilangan integritas saat memegang amanah serupa. Alangkah banyak orang
yang dulu kita kenal sangat vokal, lalu sekarang seolah tak pernah kita
kenal. Sebagian memang benar-benar idealis, lalu terkikis saat melihat
lembar-lembar kesempatan yang sangat manis. Sebagian memang sangat
vokal sebagai modal untuk memperoleh jalur cepat meraih kesempatan.
kita perlu bertanya, adakah kita turut berperan di masa lalu maupun
masa kini terhadap tiadanya integritas para pemegang amanah? DI saat
yang sama, kita perlu menata langkah untuk saling menguati agar tak
kehilangan integritas saat memegang amanah serupa. Alangkah banyak orang
yang dulu kita kenal sangat vokal, lalu sekarang seolah tak pernah kita
kenal. Sebagian memang benar-benar idealis, lalu terkikis saat melihat
lembar-lembar kesempatan yang sangat manis. Sebagian memang sangat
vokal sebagai modal untuk memperoleh jalur cepat meraih kesempatan.
Yang
memilih vokal sehingga tampak idealis untuk memperoleh kesempatan
meraih kepercayaan, bukan bagian kita membincangkannya. Ini memang rusak
semenjak awal, sehingga saat memperoleh kesempatan, bersemangatlah
mereka melampiaskan ambisi. Tetapi yang awalnya benar-benar sangat
idealis, lalu tiba-tiba runtuh karena tergoda syahwat dunia, inilah
yang perlu kita khawatiri menimpa kita. Di antara yang hari ini sangat
keras berteriak, dulu justru sebaliknya. Demikian pula yang hari ini
gigih membela, tahun lalu paling nyinyir mencerca hal serupa.
memilih vokal sehingga tampak idealis untuk memperoleh kesempatan
meraih kepercayaan, bukan bagian kita membincangkannya. Ini memang rusak
semenjak awal, sehingga saat memperoleh kesempatan, bersemangatlah
mereka melampiaskan ambisi. Tetapi yang awalnya benar-benar sangat
idealis, lalu tiba-tiba runtuh karena tergoda syahwat dunia, inilah
yang perlu kita khawatiri menimpa kita. Di antara yang hari ini sangat
keras berteriak, dulu justru sebaliknya. Demikian pula yang hari ini
gigih membela, tahun lalu paling nyinyir mencerca hal serupa.
Saat
kecewa amat membuncah, ambillah jarak sejenak agar tak gegabah
mengiyakan setiap yang senada dengan gelegak emosi. Ini dapat
menjerumuskan kita kepada keadaan yang lebih buruk. Lari dari satu
keburukan, lari pada keburukan lain yang lebih mengejutkan.
kecewa amat membuncah, ambillah jarak sejenak agar tak gegabah
mengiyakan setiap yang senada dengan gelegak emosi. Ini dapat
menjerumuskan kita kepada keadaan yang lebih buruk. Lari dari satu
keburukan, lari pada keburukan lain yang lebih mengejutkan.
Apakah ini berarti kita meninggalkan do’a kebaikan bagi pemimpin? Tidak. Fudhail bin โIyadh rahimahullah mengatakan, โSeandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.โ
Kita
menyukainya atau tidak, mendo’akan pemimpin tetap merupakan keutamaan.
Jika ia buruk, semoga Allah Ta’ala membaguskannya. Jadi, mendo’akan
kebaikan bagi pemimpin serta mengatakan yang haq dan adil merupakan
satu rangkaian yang saling menguatkan. Bukan bertentangan. Mengingatkan
dengan kalimat yang haq dan adil merupakan peneguhan dari do’a kebaikan
yang seharusnya kita mohonkan untuk para pemimpin. Mengatakan kalimat
yang haq dan adil kepada pemimpin adalah dalam rangka amru bil ma’ruf.
Bukan mencari-cari kesalahan dan memperolokkannya.
menyukainya atau tidak, mendo’akan pemimpin tetap merupakan keutamaan.
Jika ia buruk, semoga Allah Ta’ala membaguskannya. Jadi, mendo’akan
kebaikan bagi pemimpin serta mengatakan yang haq dan adil merupakan
satu rangkaian yang saling menguatkan. Bukan bertentangan. Mengingatkan
dengan kalimat yang haq dan adil merupakan peneguhan dari do’a kebaikan
yang seharusnya kita mohonkan untuk para pemimpin. Mengatakan kalimat
yang haq dan adil kepada pemimpin adalah dalam rangka amru bil ma’ruf.
Bukan mencari-cari kesalahan dan memperolokkannya.
Ada
sebuah ungkapan dari Al-Jazairi bahwa pemimpin itu cerminan rakyat yang
dipimpinnya. Ini mengingatkan kita tentang pentingnya berbenah.
Fakhruddin Ar-Razi menasehati, โJika rakyat ingin terbebas dari penguasa
yang zalim maka hendaklah mereka (rakyat) meninggalkan kezaliman yang
mereka lakukan.โ
sebuah ungkapan dari Al-Jazairi bahwa pemimpin itu cerminan rakyat yang
dipimpinnya. Ini mengingatkan kita tentang pentingnya berbenah.
Fakhruddin Ar-Razi menasehati, โJika rakyat ingin terbebas dari penguasa
yang zalim maka hendaklah mereka (rakyat) meninggalkan kezaliman yang
mereka lakukan.โ
Mohammad Fauzil Adhim
Dikutip dari Fan Page Facebook Mohammad Fauzil Adhim
ADVERTISEMENT











