
Islamedia – Mempelajari dan mengajarkan
Al-Qur’an adalah pekerjaan yang sangat mulia di hadapan Allah swt. belajar Al
Qur’an pun tidak pernah dibatasi oleh usia. Berapapun usia seseorang, ia masih
bisa untuk mempelajari Al-Qur’an selagi ajal belum datang menjemput. Bu
Rusmiati namanya, Ia adalah salah satu orang yang tidak dibatasi usia. Ia
merupakan peserta baca Al Qur’an di Majlis Taklim Abatasa yang terletak dikawasan
Kemandoran, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Al-Qur’an adalah pekerjaan yang sangat mulia di hadapan Allah swt. belajar Al
Qur’an pun tidak pernah dibatasi oleh usia. Berapapun usia seseorang, ia masih
bisa untuk mempelajari Al-Qur’an selagi ajal belum datang menjemput. Bu
Rusmiati namanya, Ia adalah salah satu orang yang tidak dibatasi usia. Ia
merupakan peserta baca Al Qur’an di Majlis Taklim Abatasa yang terletak dikawasan
Kemandoran, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Keinginan ibu-ibu dikawasan
komplek TVRI Kemandoran untuk belajar Al-Qur’an menjadi salah satu latar
belakang didirikannya Majlis Taklim Abatasa dikawasan Komplek TVRI.
komplek TVRI Kemandoran untuk belajar Al-Qur’an menjadi salah satu latar
belakang didirikannya Majlis Taklim Abatasa dikawasan Komplek TVRI.
Ibu-ibu kontrakan adalah
sebutan untuk ibu-ibu yang mengontrak disekitar Komplek TVRI. Mereka selalu
datang secara bersama-sama ke Majlis Taklim Abatasa dua kali sepekan yakni hari
selasa dan rabu, seusai menunaikan ibadah Shalat Magrib sampai pukul 21.00 WIB
dan tidak terkecuali bu Rusmiati pun ikut dalam rombongan tersebut.
sebutan untuk ibu-ibu yang mengontrak disekitar Komplek TVRI. Mereka selalu
datang secara bersama-sama ke Majlis Taklim Abatasa dua kali sepekan yakni hari
selasa dan rabu, seusai menunaikan ibadah Shalat Magrib sampai pukul 21.00 WIB
dan tidak terkecuali bu Rusmiati pun ikut dalam rombongan tersebut.
Beda dengan ibu-ibu yang lain,
Bu Rusmiati belajar tiga kali sepekan yaitu setiap selasa, rabu dan minggu. Ia
pun pergi ke tempat belajar Al-Qur’an dengan berjalan kaki kurang lebih
setengah kilo dengan membawa tas kecil berwarna coklat yang berisi buku Iqro’
dan buku pemantau Iqro.
Bu Rusmiati belajar tiga kali sepekan yaitu setiap selasa, rabu dan minggu. Ia
pun pergi ke tempat belajar Al-Qur’an dengan berjalan kaki kurang lebih
setengah kilo dengan membawa tas kecil berwarna coklat yang berisi buku Iqro’
dan buku pemantau Iqro.
Bu Rusmiati sangat berbeda
sekali dengan ibu-ibu yang lain, tingkat kecerdasan bu Rusmini tidaklah sama
dengan peserta lainnya. Kecerdasannya bisa dibilang sangatlah lemah sehingga
kerap kali salah dalam mengucapkan huruf-huruf hijaiyah dan mengingat
bentuk-bentuk hurufnya. Hampir setiap dua huruf ia baru bisa menghafalnya dalam
jangka dua sampai tiga minggu. Itupun tidak lantas membuat dia hafal betul.
Ketika berpindah dari satu huruf ke huruf , dari satu halaman ke halaman yang
lain, ia lupa lagi dengan huruf yang sebelumnya. Kita tidak bisa bayangkan seandainya hal yang
demikian itu terjadi pada diri kita, mungkin kita akan mudah berputus asa dan
mengatakan bahwa saya tidak akan bisa membaca Al-Qur’an.
sekali dengan ibu-ibu yang lain, tingkat kecerdasan bu Rusmini tidaklah sama
dengan peserta lainnya. Kecerdasannya bisa dibilang sangatlah lemah sehingga
kerap kali salah dalam mengucapkan huruf-huruf hijaiyah dan mengingat
bentuk-bentuk hurufnya. Hampir setiap dua huruf ia baru bisa menghafalnya dalam
jangka dua sampai tiga minggu. Itupun tidak lantas membuat dia hafal betul.
Ketika berpindah dari satu huruf ke huruf , dari satu halaman ke halaman yang
lain, ia lupa lagi dengan huruf yang sebelumnya. Kita tidak bisa bayangkan seandainya hal yang
demikian itu terjadi pada diri kita, mungkin kita akan mudah berputus asa dan
mengatakan bahwa saya tidak akan bisa membaca Al-Qur’an.
Bu Rusmiati dengan semangatnya
yang tinggi, menjadikan dirinya murid teladan di Majlis Taklim itu, bahkan bu
Rusmiati menjadi peserta yang paling tua karena umurnya yang sudah mencapai 71
tahun . Semangatnya untuk mempelajari Al-Qur’an tidak pernah padam ditelan oleh
usia. Ketika musim hujan tiba, biasanya rasa malas sering menimpa kita. Namun, berbeda lagi dengan bu Rusmiati, ia
selalu hadir meskipun hujan turun dengan derasnya.
yang tinggi, menjadikan dirinya murid teladan di Majlis Taklim itu, bahkan bu
Rusmiati menjadi peserta yang paling tua karena umurnya yang sudah mencapai 71
tahun . Semangatnya untuk mempelajari Al-Qur’an tidak pernah padam ditelan oleh
usia. Ketika musim hujan tiba, biasanya rasa malas sering menimpa kita. Namun, berbeda lagi dengan bu Rusmiati, ia
selalu hadir meskipun hujan turun dengan derasnya.
Kesabaran dan kesungguhannya
dalam mempelajari kitab suci, bisa kita bayangkan dari jilid yang dia
selesaikan, bahwa hampir satu tahun bu Rusmiati mempelajari Al Qur’an tapi baru
sampai pada huruf ya’. Namun ia terus berusaha semaksimal mungkin agar ia
benar-benar bisa membaca Al Qur’an seperti teman-temannya. Umurnya yang sudah
71 tahun tentu tidak mudah bagi seseorang mempelajari Al Qur’an tapi
keyakinannya bahwa setiap usaha pasti ada imbalannya membuat ia bertahan sampai
sekarang ini. Mudah-mudahan kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari bu
Rusmiati. Harapan itu masih ada.
dalam mempelajari kitab suci, bisa kita bayangkan dari jilid yang dia
selesaikan, bahwa hampir satu tahun bu Rusmiati mempelajari Al Qur’an tapi baru
sampai pada huruf ya’. Namun ia terus berusaha semaksimal mungkin agar ia
benar-benar bisa membaca Al Qur’an seperti teman-temannya. Umurnya yang sudah
71 tahun tentu tidak mudah bagi seseorang mempelajari Al Qur’an tapi
keyakinannya bahwa setiap usaha pasti ada imbalannya membuat ia bertahan sampai
sekarang ini. Mudah-mudahan kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari bu
Rusmiati. Harapan itu masih ada.
Lalu
Ismul Hakiki
Grogol Selatan,Kebayoran Lama Jaksel
[Lomba #AYTKTM]
ADVERTISEMENT
![[#AYTKTM] Belajar dari Bu Rusmiati](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2024/10/ibu-anak.jpg?resize=572%2C392&ssl=1)










