“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan,
Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus
dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan
ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada
Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah
yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).
Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus
dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan
ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada
Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah
yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).
Bagi umat Islam, Ramadhan bukan sekedar salah satu nama bulan Qomariyah,
tapi dia memiliki makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah
dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang
penuh dengan berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus
nafs (pembersihan jiwa) dan riyadhotur ruhiyah (olah rohani).
Kehidupan yang penuh dengan amal taqarrub kepada Allah, mulai dari tilawah
Al-Quran, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf
di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan
hikmah puasa Ramadhan, yaitu agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.
tapi dia memiliki makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah
dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang
penuh dengan berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus
nafs (pembersihan jiwa) dan riyadhotur ruhiyah (olah rohani).
Kehidupan yang penuh dengan amal taqarrub kepada Allah, mulai dari tilawah
Al-Quran, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf
di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan
hikmah puasa Ramadhan, yaitu agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.
Allah Swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertaqwa (QS Al-Baqarah:183).
kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertaqwa (QS Al-Baqarah:183).
Ramadhan juga merupakan bulan
latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Hal itu terlihat pada
esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya di hadapan
Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif
yang ada pada bulan Ramadhan. Di antara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah Saw – baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtima’iyah
– adalah sebagai berikut:
latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Hal itu terlihat pada
esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya di hadapan
Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif
yang ada pada bulan Ramadhan. Di antara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah Saw – baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtima’iyah
– adalah sebagai berikut:
1. Shiyam (puasa)
ADVERTISEMENT
Amaliyah terpenting pada bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam
(puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada QS 2: 183-187. Di antara
amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. adalah:
(puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada QS 2: 183-187. Di antara
amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. adalah:
a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan
mengetahui dan menjaga rambu-rambunya.
mengetahui dan menjaga rambu-rambunya.
Puasa bukanlah sekedar tidak
makan dan tidak minum, tapi ada rambu-tambu kehidupan yang harus ditaati
sehingga puasa itu menjadi sarana tarbiyyah (pendidikan) menuju kehidupan yang
bertaqwa kepada Allah Swt. Puasa seperti inilah yang bisa menghapus dosa
seorang muslim, Rasulullah Saw bersabda:
makan dan tidak minum, tapi ada rambu-tambu kehidupan yang harus ditaati
sehingga puasa itu menjadi sarana tarbiyyah (pendidikan) menuju kehidupan yang
bertaqwa kepada Allah Swt. Puasa seperti inilah yang bisa menghapus dosa
seorang muslim, Rasulullah Saw bersabda:
Barangsiapa berpuasa
Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang
semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang
pernah dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu
Hibban dan Al-Baihaqi).
Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang
semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang
pernah dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu
Hibban dan Al-Baihaqi).
b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari,
dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat Islam.
dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat Islam.
Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang mesti ditunaikan, tanpa uzur syar’I
(halangan yang bisa dibenarkan menurut syari’at), maka seorang muslim tidak
boleh meninggalkan puasa. Ini merupakan dosa yang sangat besar sehingga tidak
bisa ditebus meskipun seseorang berpuasa sepanjang masa, Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa
tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau
sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya
ia berpuasa selama hidup” (HR.At-Turmudzi).
(halangan yang bisa dibenarkan menurut syari’at), maka seorang muslim tidak
boleh meninggalkan puasa. Ini merupakan dosa yang sangat besar sehingga tidak
bisa ditebus meskipun seseorang berpuasa sepanjang masa, Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa
tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau
sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya
ia berpuasa selama hidup” (HR.At-Turmudzi).
c.Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai
shiyam.
shiyam.
Puasa merupakan pendidikan
untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak benar, bila hal itu tidak bisa
ditinggalkan, maka tidak ada nilai atau paling tidak berkurang nilai ibadah
seseorang, Rasulullah Saw. pernah bersabda:
untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak benar, bila hal itu tidak bisa
ditinggalkan, maka tidak ada nilai atau paling tidak berkurang nilai ibadah
seseorang, Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkan makan dan minum,
melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak ternilai) dan kata-kata bohong” (HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).
melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak ternilai) dan kata-kata bohong” (HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).
Rasulullah Saw. juga pernah bersabda bahwa, “Barangsiapa yang selama
berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya, maka
tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu
sekedar meninggalkan makan dan minum” (HR.Bukhori dan Muslim).
berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya, maka
tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu
sekedar meninggalkan makan dan minum” (HR.Bukhori dan Muslim).
d.
Bersungguh-sungguh
melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya.
Bersungguh-sungguh
melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya.
Ibadah puasa merupakan ibadah yang harus dilaksanakan dengan penuh
kesungguhan sehingga apa yang menjadi ketentuannya bila dipatuhi, Rasulullah Saw. bersabda:
kesungguhan sehingga apa yang menjadi ketentuannya bila dipatuhi, Rasulullah Saw. bersabda:
”Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka
akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan” (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).
akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan” (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).
e.Bersahur.
Bagi orang yang hendak berpuasa, disunnahkan untuk makan sahur pada
saat sebelum tiba waktu subuh (fajar), sahur merupakan makanan yang berkah (Al-ghoda’
al-mubarok). Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa:
saat sebelum tiba waktu subuh (fajar), sahur merupakan makanan yang berkah (Al-ghoda’
al-mubarok). Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa:
”Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan Anda tinggalkan,
sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam
kepada orang-orang yang makan sahur” (HR. Ahmad).
sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam
kepada orang-orang yang makan sahur” (HR. Ahmad).
f. Ifthor.
Ketika waktu maghrib telah tiba, yakni saat matahari telah terbenam,
maka saat itulah waktu berbuka sehingga sangat ditekankan kepada orang yang
berpuasa untuk segera berbuka puasa. Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salah
satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan
mendahulukan ifthor dan mengakhirkan sahur. Sabda Rasulullah Saw:
maka saat itulah waktu berbuka sehingga sangat ditekankan kepada orang yang
berpuasa untuk segera berbuka puasa. Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salah
satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan
mendahulukan ifthor dan mengakhirkan sahur. Sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai oleh-Nya ialah mereka
yang bersegera berbuka puasa” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
yang bersegera berbuka puasa” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob
(kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja (HR. Abu Daud dan
Ahmad).
(kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja (HR. Abu Daud dan
Ahmad).
g.
Berdoa.
Berdoa.
Sesudah menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthor, Rasulullah Saw.
sebagaimana yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai
wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do’a sebagai berikut:
sebagaimana yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai
wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do’a sebagai berikut:
عن انس قال كان
رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : بسم الله اللهم لك صمت وعلى
رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : بسم الله اللهم لك صمت وعلى
رزقك أفطر ت. وزاد ابن عباس وقال : فتقبل مني
إنك انت السميع العليم. وعن ابن عمر
إنك انت السميع العليم. وعن ابن عمر
قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا افطر
قال : ذهب الظمأ وابتلـت العروق وثبت
قال : ذهب الظمأ وابتلـت العروق وثبت
الاجر إنشاء الله
Rasulullah bahkan
mensyariatkan agar orang-orang yang berpuasa banyak memanjatkan do’a, sebab
do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda
bahwa,
mensyariatkan agar orang-orang yang berpuasa banyak memanjatkan do’a, sebab
do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda
bahwa,
“Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak
ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-orang yang berpuasa sehingga
mereka berbuka” (HR.Ahmad dan
Turmudzi).
ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-orang yang berpuasa sehingga
mereka berbuka” (HR.Ahmad dan
Turmudzi).
2.
Tilawah
(membaca) Al-Quran
Tilawah
(membaca) Al-Quran
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran (QS 2:
185). Pada bulan ini malaikat Jibril pernah turun dan menderas Al-Quran dengan
Rasulullah Saw. (HR. Bukhari). Maka tidak aneh jika Rasulullah Saw. lebih
sering membacanya pada bulan Ramadhan.
185). Pada bulan ini malaikat Jibril pernah turun dan menderas Al-Quran dengan
Rasulullah Saw. (HR. Bukhari). Maka tidak aneh jika Rasulullah Saw. lebih
sering membacanya pada bulan Ramadhan.
Iman Az-Zuhri pernah berkata, ”Apabila datang
Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Quran”. Hal
ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan esensi dasar
diturunkannya Al-Quran untuk ditadabburi, dipahami, dan diamalkan (QS Shod:
29).
Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Quran”. Hal
ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan esensi dasar
diturunkannya Al-Quran untuk ditadabburi, dipahami, dan diamalkan (QS Shod:
29).
3. Ith’am Ath-Tho’am (memberikan makanan dan shadaqah
lainnya)
lainnya)
Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah
memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa.
Seperti sabda beliau: “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang
yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu,
tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut” (HR. Turmudzi dan
An-Nasa’I).
memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa.
Seperti sabda beliau: “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang
yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu,
tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut” (HR. Turmudzi dan
An-Nasa’I).
Memberikan makan dan sedekah selama bulan Ramadhan
ini bukan hanya untuk keperluan ifthor melainkan juga untuk segala kebajikan.
Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada
bulan Ramadhan kedermawanannya dan keperduliannya tampil lebih menonjol,
kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai ‘lebih cepat dari
angin” (HR.Bukhori).
ini bukan hanya untuk keperluan ifthor melainkan juga untuk segala kebajikan.
Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada
bulan Ramadhan kedermawanannya dan keperduliannya tampil lebih menonjol,
kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai ‘lebih cepat dari
angin” (HR.Bukhori).
4.
Memperhatikan
Kesehatan
Memperhatikan
Kesehatan
Shaum termasuk kategori ibadah mahdhah (murni).
Sekalipun semikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah
justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan
kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :
Sekalipun semikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah
justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan
kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :
1.
Menyikat gigi dengan
siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
Menyikat gigi dengan
siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
2.
Berobat seperti
dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
Berobat seperti
dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
3.
Memperhatikan
penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah
ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan
wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).
Memperhatikan
penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah
ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan
wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).
5.
Memperhatikan
Harmoni Keluarga
Memperhatikan
Harmoni Keluarga
Sekalipun puasa
adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang memang juga
mempunyai nilai khusus di hadapan Allah, tetapi agar hal tersebut di atas dapat
terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama
berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang
diriwayatkan oleh istri-istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah RA, Rasulullah
adalah tokoh yang paling baik untuk keluarga, dimana selama bulan Ramadhan
tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada
dalam puncak praktek ibadah shaum yakni I’tikaf, harmoni itu tetap terjaga.
adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang memang juga
mempunyai nilai khusus di hadapan Allah, tetapi agar hal tersebut di atas dapat
terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama
berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang
diriwayatkan oleh istri-istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah RA, Rasulullah
adalah tokoh yang paling baik untuk keluarga, dimana selama bulan Ramadhan
tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada
dalam puncak praktek ibadah shaum yakni I’tikaf, harmoni itu tetap terjaga.
6.
Memperhatikan
Aktivitas Da’wah dan Sosial
Memperhatikan
Aktivitas Da’wah dan Sosial
Kontradiksi dengan
kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan
bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang
telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan da’wah,
kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang
pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (th. 2 H),
Mekkah (th. 8 H) dan ke Tabuk (th.9H), mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad
yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin), melaksanakan pernikahan
putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab RA, meruntuhkan
berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’, meruntuhkan masjid
Adh-Dhiror, dll.
kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan
bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang
telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan da’wah,
kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang
pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (th. 2 H),
Mekkah (th. 8 H) dan ke Tabuk (th.9H), mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad
yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin), melaksanakan pernikahan
putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab RA, meruntuhkan
berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’, meruntuhkan masjid
Adh-Dhiror, dll.
7.
Qiyam
Ramadhan (Shalat Terawih)
Qiyam
Ramadhan (Shalat Terawih)
Diantara kegiatan
ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al-lail (shalat
Terawih) yang dilakukan bersama dengan para sahabat. Disaat Rasulullah khawatir
akan diwajibkannya sholat tarawih secara berjamaah, akhirnya beliau tidak
melakukannya sepanjang ramadhan (HR.Bukhari dan Muslim). Pada saat Rasulullah
SAW sholat tarawih berjamaah bersama sahabat, banyak riwayat menyebutkan bahwa
beliau sholat 11 rakaat dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR.Bukhari dan
Muslim). Tetapi disaat kekhawatiran akan diwajibkannya sholat tarawih tidak ada
lagi, kita dapati riwayat-riwayat lain, juga dari Umar bin Khattab menyebutkan
jumlah rakaat sholat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (HR.Abdur Rozzaq dan
Baihaqi).
ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al-lail (shalat
Terawih) yang dilakukan bersama dengan para sahabat. Disaat Rasulullah khawatir
akan diwajibkannya sholat tarawih secara berjamaah, akhirnya beliau tidak
melakukannya sepanjang ramadhan (HR.Bukhari dan Muslim). Pada saat Rasulullah
SAW sholat tarawih berjamaah bersama sahabat, banyak riwayat menyebutkan bahwa
beliau sholat 11 rakaat dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR.Bukhari dan
Muslim). Tetapi disaat kekhawatiran akan diwajibkannya sholat tarawih tidak ada
lagi, kita dapati riwayat-riwayat lain, juga dari Umar bin Khattab menyebutkan
jumlah rakaat sholat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (HR.Abdur Rozzaq dan
Baihaqi).
Menyikapi perbedaan
rakaat ini, mari kita simak paparan salah seorang tokoh dibidang ilmu hadits,
Ibnu Hajar al Asqolani as Syafi’I, beliau mengatakan : Beberapa riwayat yang
sampai kepada kita tentang jumlah raka’at sholat tarawih menyiratkan ragam
sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Kadang ia mampu
melaksanakan sholat 11 rakaat, kadang 21 dan terkadang 23 rakaat, tergantung
semangat dan antusiasmenya masing-masing. Dahulu mereka sholat 11 rakaat dengan
bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan dengan tongkat penyangga,
sedangkan mereka yang sholat 21 atau 23 raka’at, mereka membaca bacaan-bacaan
yang pendek dengan tetap memperhatikan masalah thuma’ninah, sehingga tidak
membuat mereka sulit.
rakaat ini, mari kita simak paparan salah seorang tokoh dibidang ilmu hadits,
Ibnu Hajar al Asqolani as Syafi’I, beliau mengatakan : Beberapa riwayat yang
sampai kepada kita tentang jumlah raka’at sholat tarawih menyiratkan ragam
sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Kadang ia mampu
melaksanakan sholat 11 rakaat, kadang 21 dan terkadang 23 rakaat, tergantung
semangat dan antusiasmenya masing-masing. Dahulu mereka sholat 11 rakaat dengan
bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan dengan tongkat penyangga,
sedangkan mereka yang sholat 21 atau 23 raka’at, mereka membaca bacaan-bacaan
yang pendek dengan tetap memperhatikan masalah thuma’ninah, sehingga tidak
membuat mereka sulit.
8. I’tikaf
Di antara amaliyah
sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah pada bulan ramadhan adalah I’tikaf,
yakni berdiam diri di masjid dengan niat
beribadah kepada Allah. Abu Sa’id al Khudri meriwayatkan bahwa
Rasulullah pernah melakukan I’tikaf pada awal ramadhan, pertengahan dan paling
sering pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Ibadah yang penting ini sering
dianggap berat oleh kaum muslimim, sehingga banyak yang tidak melakukannya.
sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah pada bulan ramadhan adalah I’tikaf,
yakni berdiam diri di masjid dengan niat
beribadah kepada Allah. Abu Sa’id al Khudri meriwayatkan bahwa
Rasulullah pernah melakukan I’tikaf pada awal ramadhan, pertengahan dan paling
sering pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Ibadah yang penting ini sering
dianggap berat oleh kaum muslimim, sehingga banyak yang tidak melakukannya.
Tidak aneh kalau Imam
az-Zuhri berkomentar, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan
I’tikaf, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke
Madinah sampai beliau wafat.”
az-Zuhri berkomentar, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan
I’tikaf, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke
Madinah sampai beliau wafat.”
9.
Lailatul
Qadar
Lailatul
Qadar
Selama bulan
ramadhan terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer dengan sebutan
lailatul qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS Al Qodr:1-5).
Rasulullah tidak pernah melewatkan bulan ramadhan untuk meraih lailatul qodr
terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan ramadhan
(HR.Bukhari dan Muslim).
ramadhan terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer dengan sebutan
lailatul qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS Al Qodr:1-5).
Rasulullah tidak pernah melewatkan bulan ramadhan untuk meraih lailatul qodr
terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan ramadhan
(HR.Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Saw.
bersabda, “Barangsiapa yang sholat pada malam lailatil qodr berdasarkan
iman dan ihtissab, maka Allah akan
mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR.Bukhari dan Muslim).
bersabda, “Barangsiapa yang sholat pada malam lailatil qodr berdasarkan
iman dan ihtissab, maka Allah akan
mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR.Bukhari dan Muslim).
Ketika kita
mendapatkannya, Rasulullah Saw.mengajarkan kita untuk membaca doa berikut:
mendapatkannya, Rasulullah Saw.mengajarkan kita untuk membaca doa berikut:
اللهم إنك عفو
تحب العفو فا عف عنى
تحب العفو فا عف عنى
10. Umrah
Umrah pada bulan
ramdhan juga sangat baik dilaksanakan, karena akan mendapatkan pahala yang
berlipat-lipat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah kepada
seorang wanita dari Anshor yang bernama Ummu Sinan,
ramdhan juga sangat baik dilaksanakan, karena akan mendapatkan pahala yang
berlipat-lipat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah kepada
seorang wanita dari Anshor yang bernama Ummu Sinan,
“Agar apabila datang
bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara dengan
haji bersama Rasulullah Saw”(HR.Bukhari
dan Muslim).
bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara dengan
haji bersama Rasulullah Saw”(HR.Bukhari
dan Muslim).
11. Zakat Fithrah
Zakat Fithrah
dibayar pada hari-hari terakhir ramadhan. Ia merupakan kewajiban yang harus
dipenuhi oleh seluruh komponen umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan,
dewasa maupun anak-anak. (HR.Bukhari dan Muslim).
dibayar pada hari-hari terakhir ramadhan. Ia merupakan kewajiban yang harus
dipenuhi oleh seluruh komponen umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan,
dewasa maupun anak-anak. (HR.Bukhari dan Muslim).
Zakat fithrah ini
dibayarkan dengan tujuan untuk menyucikan orang yang melaksanakan puasa dan
untuk membantu kaum fakir miskin. (HR.Abu Dawud dan Ibnu Majah).
dibayarkan dengan tujuan untuk menyucikan orang yang melaksanakan puasa dan
untuk membantu kaum fakir miskin. (HR.Abu Dawud dan Ibnu Majah).
12. Ramadhan bulan taubat menuju fithrah
Selama sebulan
penuh, umat Islam berlomba kembali kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Pengampun. Allah mengatakan bahwa Dia setiap malam bulan ramadhan membebaskan banyak
hamba-Nya dari api neraka (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah).
penuh, umat Islam berlomba kembali kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Pengampun. Allah mengatakan bahwa Dia setiap malam bulan ramadhan membebaskan banyak
hamba-Nya dari api neraka (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Oleh sebab itu,
ramadhan adalah kesempatan emas agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah
puasa, mereka benar-benar kembali kepada fithrahnya.
ramadhan adalah kesempatan emas agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah
puasa, mereka benar-benar kembali kepada fithrahnya.






























