![]() |
| Putin dan Erdogan |
bersamaislam.com Rusia – Presiden Vladimir Putin memerintahkan serangkaian sanksi ekonomi terhadap Turki setelah jet tempur Rusia ditembak jatuh oleh pasukan Turki pada pekan lalu.
“Ini sangksi dari Rusia dan belum pernah terjadi sebelumnya. Wajar ancaman ini kami berikan,” kata Dmitry Peskov, juru bicara Putin.
Keputusan Putin termasuk larangan impor beberapa barang dan perpanjangan kontrak tenaga kerja Turki untuk bekerja di Rusia yang rencananya akan dimulai pada tanggal 1 Januari 2016.
Putin juga memerintahkan untuk mengakhiri penerbangan carteran dari Rusia ke Turki. Untuk perusahaan travel Rusia, mereka diminta untuk menghentikan penjualan paket liburan yang akan menyediakan wisata ke Turki.
Keputusan Putin juga termasuk mengakhiri perjalanan bebas visa antara Rusia dan Turki serta memerintahkan kontrol ketat atas operator udara Turki di Rusia untuk alasan keamanan.
“Keputusan itu dikeluarkan untuk melindungi warga negara Rusia dari kejahatan,” ujar Kremlin berdalih.
Seorang analis Rusia, Lincoln Mitchell mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sanksi tersebut akan merugikan kedua belah pihak.
“Sanksi adalah cara negara-negara barat yang telah digunakan terhadap sejumlah negara lain termasuk diantaranya Rusia. Namun sekarang kita melihat Rusia mengambil alat negara barat tersebut dan menggunakannya,” kata Mitchell.
“Sanksi ini tidak akan membawa keuntungan besar untuk Rusia, meski akan memukul Turki cukup keras. Namun sanksi ini juga merugikan Rusia”, lanjutnya.
Sementara seorang pejabat senior Turki mengatakan kepada Reuters bahwa ancaman tersebut hanya akan memperburuk konflik antara Moskow dan Ankara.
Rusia adalah pemasok terbesar gas alam untuk Turki dan mitra dagang terbesar.
Ankara mengatakan jet tempur Rusia memasuki wilayah udaranya pada Selasa (24/11) meskipun sudah diperingatkan berulang kali. Namun pihak Moskow berdalih pilotnya tidak mendapat peringatan sama sekali.
Salah seorang pilot pesawat tempur itu ditembak mati oleh pejuang Suriah saat keluar melalui parasut darurat dan terjun ke wilayah mereka.
Sebelumnya pada hari Sabtu (28/11), Erdogan mempertahankan tindakan Turki dan mengkritik Rusia karena bergerak di Suriah bukan untuk menumpas ISIS namun melindungi Assad. (mh)











