الله الرحمن الرحيم
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ
شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ :
hamd.
akbar wa ajallu. Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.
syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang telah melimpahkan kepada kita
berbagai macam nikmat yang tidak terhitung jumlahnya oleh kita. Di antara
nikmat-nikmat itu, yang paling besarnya adalah nikmat Islam dan nikmat taufik
atau dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkan ajaran Islam, yang di antaranya
adalah melaksanakan shalat Idul Adh-ha yang dilanjutkan dengan berkurban.
berbahagia!
untuk tetap bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, karena ia adalah solusi
menghadapi problematika di dunia, kunci meraih rezeki dan memperoleh berbagai
kemudahan, serta sebagai jalan untuk meraih surga di akhirat kelak.
berbahagia!
kegembiraan dan kebahagiaan. Di hari raya, umat Islam menampakkan rasa gembira
dan bahagia, serta berusaha menghibur dirinya dari kelelahan dalam menjalani
hidup di dunia. Oleh karena itu, nikmatilah semua yang baik yang Allah halalkan
untuk kita, syukurilah nikmat itu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya agar Dia akan menjaga nikmat itu untuk kita dan menambahkannya. Allah
Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih.“ (Qs. Ibrahim: 7)
Ied dan berkurban. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
dengan menyebut nama-Nya saja ketika menyembelih, sekaligus untuk menghidupkan
sunnah kekasih Allah; Nabi Ibrahim alaihis salam
dimana Nabi kita Muhamad shallallahu alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah
untuk mengikutinya. Dia berfirman,
حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs.
An Nahl: 123)
bahwa maksud ‘milah Ibrahim’ adalah ‘agamanya’
(Islam), dan perintah mengikuti agama di sini dua
pendapat:
diperintahkan mengikuti seluruh ajaran agamanya selain yang diperintahkan untuk
ditinggalkan. Inilah zhahirnya.
diperintahkan mengikutinya dalam berlepas diri dari berhala dan mengamalkan
ajaran Islam, demikian pendapat Abu Ja’far Ath Thabari.
mengikuti ‘yang berada di bawah keutamaannya’, karena Nabi kita Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam adalah rasul yang paling utama, tetapi Beliau
diperintahkan mengikuti Nabi Ibrahim alaihis salam karena Nabi Ibrahim alaihis
salam lebih dulu menyatakan kebenaran.
kepada diri, keluarga, kerabat, tetangga, tamu, teman, dan kaum fakir-miskin,
dimana Allah memerintahkan kita berbuat ihsan, memberikan balasan kebaikan di
dunia dan balasan surga di akhirat bagi orang-orang yang berbuat ihsan, dan
bahwa Dia mencintai mereka. Allah Ta’ala berfirman,
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu.” (Qs.
Al Qashash: 77)
وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ
mendapat balasan yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat (surga) adalah
lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,” (Qs. An
Nahl: 30)
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Qs.
Al Baqarah: 195)
yang disyariatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dan
melaksanakan perintah-Nya.
kesabaran, pengorbanan, dan mendahulukan kecintaan kepada Allah Azza wa jalla.
pembenaran kita terhadap berita yang Allah sampaikan, bukti akan benarnya
keimanan seorang hamba, dan sikapnya menyambut perintah Allah Azza wa Jalla.
dan membesarkan Allah Azza wa Jalla, serta agar nama-Nya saja yang disebut
ketika menyembelih hewan; tidak selain-Nya. Dia berfirman,
الْعَالَمِينَ –لَا شَرِيكَ لَهُ
وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.—Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan yang
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An’aam: 162-163)
Allah Azza wa Jalla, Dia berfirman,
يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)
naik menghadap Allah Azza wa Jalla.
berbahagia!
saat bermimpi menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail alaihis salam, dimana
mimpi para nabi adalah benar, maka ketika Nabi Ibrahim alaihis salam hendak
melaksanakan mimpinya itu dan telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya,
ketika itu semakin nyatalah kesabaran keduanya, patuh dan tunduknya mereka
berdua kepada perintah Allah, dan cinta yang dalam Nabi Ibrahim alaihis salam
kepada Allah Rabbnya, Allah pun melarangnya menyembelih anaknya dan menebusnya
dengan seekor kambing yang besar. Berkat kesabaran dan kepatuhannya kepada Allah
Azza wa Jalla, maka Allah menjadikan Nabi Ibrahim
alaihis salam sebagai imam yang patut dijadikan teladan dan menjadikannya
sebagai kekasih-Nya.
dilakukan pada hari raya Idul Adh-ha di berbagai pelosok dunia.
شَيْئًا ِللهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ
meningalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan mengganti dengan yang lebih
baik daripadanya.” (Dari hadits riwayat Ahmad, dan dinyatakan shahih
isnadnya oleh Syaikh Al Albani)
salam kita juga dapat mengambil pelajaran, bahwa seorang anak hendaknya
berbakti kepada kedua orang tuanya, menaati keduanya dalam hal yang bukan
maksiat, dan bahwa seorang bapak hendaknya membimbing anaknya kepada kebaikan,
mendidiknya dengan pendidikan Islami, dan membiasakan berakhlak terpuji.
Termasuk membimbing kepada kebaikan adalah membawanya ke majlis ilmu,
menempatkan di tempat pendidikan Islam, dan mengajaknya bersilaturrahim.
mengambil pelajaran tentang pentingnya berkorban di jalan Allah seperti dengan
mengerahkan tenaga, waktu, dan fikiran untuk menegakkan agama Allah Azza wa
Jalla, dimana sikap ini sangat langka ditemukan di zaman sekarang.
kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimissalam adalah bahwa kesabaran, tetap
mengutamakan taat kepada Allah Azza wa Jalla dan mencintai-Nya di atas
kecintaan kepada diri dan anak merupakan sebab diangkatnya cobaan dan sebab
mendapatkan pertolongan Allah Aza wa Jalla. Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda,
وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْراً
kesabaran, jalan keluar setelah penderitaan, dan bahwa setelah kesulitan ada
kemudahan.” (Hr. Al Khathib Al Baghdadhi dari Anas, Ahmad, Abd bin Humaid, Hakim,
Abu Nu’aim, dan Adh Dhiya dari Ibnu Abbas, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul
Jami no. 6806 dan dalam Ash Shahihah no. 2382)
إِلاَّ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ الْحَمْدُ.
berbahagia!
Allah. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
Ta’aala adalah hari nahar (Idul Adh-ha), lalu hari qar (setelah hari nahar).”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim, dishahihkan
oleh Hakim dan Al Albani, Shahihul Jami’ no. 1064).
(jamaah haji) melakukan empat hal; melempar jumrah Kubra (aqabah), menyembelih
hewan hadyu, mencukur rambut, dan thawaf ifadhah. Sedangkan kita yang di sini
membersihkan lahir maupun batin, berhias dengan pakaian yang indah dan syar’i,
bertakbir, shalat Ied, dan berkurban.
menahan diri dari mencukur rambut dan memotong kuku sampai mereka menyembelih hewan
hadyunya, maka Allah juga menjadikan orang yang berkurban sama seperti mereka,
yakni menahan diri dari memotong rambut dan kuku dari sejak tanggal 1
Dzulhijjah sampai ia berkurban.
muslimin; di samping Idul Fitri dan hari Jum’at. Rasululullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
أَهْلُ الْإِسْلاَمِ وَ هِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ
adalah hari raya kita kaum muslim. Ia adalah hari makan dan minum. (HR. Ahmad,
Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul
Jami no. 8193)
hari makan, minum, dan berdzikr kepada Allah.” (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’i, dan
Ibnu Majah).
diharamkan melakukan puasa pada hari-hari tersebut kecuali bagi orang yang
tidak memperoleh hadyu tamattu, maka ia boleh melakukan puasa pada hari
tersebut.
Oleh karenanya, kita disyariatkan
melakukan takbir pada hari raya Idul Adh-ha dimulai dari subuh hari Arafah (9
Dzulhijjah) hingga akhir hari tasyriq. Ini adalah takbir muqayyad, takbir yang
kita baca seusai shalat setelah beristighfar tiga kali dan mengucapkan Allahumma
antas salam wa minkas salam tabaarakta yaa dzal Jalalil wal Ikram, di
samping kita baca juga secara mutlak.
radhiyallahu anhu, bahwa ia bertakbir di kemahnya di Mina lalu penghuni masjid
mendengar takbirnya sehingga mereka bertakbir, demikian pula penduduk di pasar ikut
bertakbir sehingga pasar bergemuruh suara takbir.
pada hari-hari tasyriq dan seusai shalat, demikian pula ketika berada di tempat
tidurnya, di kemahnya, di majlisnya, dan di jalan-jalan yang dilaluinya.
bertakbir pada hari Nahar.
belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari tasyriq
bersama kaum lelaki di masjid.
menunjukkan adanya takbir pada hari-hari itu seusai shalat dan dalam keadaan
lainnya.”
أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ
الْحَمْدُ.
berbahagia!
menyebut nama Alah padanya terdapat hikmah yang besar, yaitu agar hanya Allah
yang diagungkan dan agar hewan yang dikonsumsi aman dari bahaya penyakit,
karena jika hewan dikonsumsi tidak dengan cara disembelih, membuat darah tidak
mengalir dan tetap berada dalam tubuh hewan, sedangkan darah merupakan tempat
berkembang biaknya kuman penyakit. Dengan disembelihnya hewan membuat darah dalam
tubuh hewan tersebut mengalir keluar sehingga aman untuk dikonsumsi. Sedangkan dipotong
bagian leher yang terdiri dari kerongkongan, tenggorokan, dan dua urat leher
adalah agar segera membuat hewan mati dan agar tidak menyiksanya.
berbahagia!
yang telah diterangkan dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
yaitu:
sapi, dan kambing.
berakhir sampai akhir hari tasyriq.
penghalang untuk keabsahannya. Cacat tersebut adalah buta sebelah matanya
dengan jelas, pincang dengan jelas, sakit dengan jelas, dan kurus sekali tidak
bersumsum (Hal ini berdasarkan hadits Al Barra’). Termasuk pula cacat-cacat
yang semisal itu atau lebih parah lagi.
usianya minimal 5 tahun, sapi usianya 2 tahun, kambing usianya
setahun, sedangkan biri-biri atau domba minimal 6 bulan.
hewan kurbannya, oleh karenanya ia tidak menajamkan pisaunya di hadapan hewan
kurban, tidak menyembelih di hadapan hewan kurban yang lain, tidak menarik
hewan kurban dengan menyeretnya, tidak mengulitinya sampai hewan itu
benar-benar telah mati.
dianjurkan menambahkan dengan takbir “Allahu akbar”.
berkurban ikut memakan daging hewan kurbannya, lalu menyedekahkan
kepada kaum fakir-miskin, dan menghadiahkan kepada orang lain
seperti kepada teman, tetangga, dan kerabatnya.
atau menghadiri proses penyembelihan hewan kurbannya.
tidak mengapa memberinya dalam bentuk hadiah (bukan sebagai upah).
yang diridhai-Nya, memasukkan kita ke surga, dan menghindarkan kita dari
neraka.
مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْوَرَى ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ سُبْحَانَهُ
: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ” ، اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَّمَدٍ ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ ، وَعَلَى الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ ، وخُصَّ مِنْهُمُ الْخُلَفَاءُ الْأَرْبَعَةُ الرَّاشِدِيْنَ ، أَبِي
بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ ، وَاجْعَلْ هَذَا
الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِناًّ وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا ، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ
، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ
ضَالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.







































