puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Umdatul Ahkam karya Imam Abdul Ghani Al Maqdisi (541 H – 600 H) rahimahullah.
Semoga
Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan kitab ini ikhlas karena-Nya dan
bermanfaat, aamin.
– عَنْ أَبِي مُوسَى – عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ – عَنْ النَّبِيِّ – صلى الله عليه
وسلم – قَالَ: ((مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاحَ فَلَيْسَ مِنَّا)) .
Qais, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang siapa
yang mengangkat senjata kepada kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.”
– عَنْ أَبِي مُوسَى – رضي الله عنه – قَالَ: ((سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله
عليه وسلم – عَنْ الرَّجُلِ: يُقَاتِلُ شَجَاعَةً , وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ
رِيَاءً. أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه
وسلم -: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا , فَهُوَ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ))
radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah
ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang agar disebut pemberani, berperang
karena membela sukunya, dan berperang karena riya, yang manakah yang termasuk
fii sabilillah? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa
yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi itulah fi sabilillah (di jalan
Allah).”
Budak)
– عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله
عليه وسلم – قَالَ: ((مَنْ أَعْتَقَ شِرْكاً لَهُ فِي عَبْدٍ , فَكَانَ لَهُ مَالٌ
يَبْلُغُ ثَمَنَ الْعَبْدِ: قُوِّمَ عَلَيْهِ قِيمَةَ عَدْلٍ , فَأَعْطَى شُرَكَاءَهُ
حِصَصَهُمْ , وَعَتَقَ عَلَيْهِ الْعَبْدُ , وَإِلاَّ فَقَدْ عَتَقَ مِنْهُ مَا عَتَقَ))
.
Umar radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Barang siapa yang memerdekakan saham(bagian)nya pada seorang budak, dan
ia memiliki harta untuk membayar sisa harga budak itu, maka dinilai budak itu
secara adil (tidak lebih dan tidak kurang), lalu diberikan bagian kepada
masing-masing sekutu sehingga budak itu menjadi merdeka. Jika tidak demikian,
maka budak itu hanya merdeka sesuai bagian yang dimerdekakan.”
– عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – عَنْ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم –
قَالَ: ((مَنْ أَعْتَقَ شِقْصَاً مِنْ مَمْلُوكٍ , فَعَلَيْهِ خَلاصُهُ كُلُّهُ فِي
مَالِهِ , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ قُوِّمَ الْمَمْلُوكُ قِيمَةَ عَدْلٍ , ثُمَّ
اُسْتُسْعِيَ الْعَبْدُ , غَيْرَ مَشْقُوقٍ عَلَيْهِ)) .
dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang siapa yang
memerdekakan bagiannya dari budak itu, maka hendaknya ia memerdekakan sisanya
dari hartanya. Jika ia tidak memiliki harta, maka budak itu ditaksir nilainya
secara adil, lalu budak itu diminta bekerja untuk memerdekakan dirinya tanpa
menyusahkannya.”
Mudabbar
yang merdekanya tergantung wafat tuannya.
– عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما قَالَ: ((دَبَّرَ رَجُلٌ مِنْ الأَنْصَارِ
غُلاماً لَهُ – ,
Abdullah radhiyallahu anhuma ia berkata, “Salah seorang Anshar menyatakan
budaknya merdeka setelah dirinya wafat.”
– وَفِي لَفْظٍ: ((بَلَغَ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم -: أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِهِ
أَعْتَقَ غُلاماً لَهُ عنْ دُبُرٍ – لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَبَاعَهُ رَسُولُ
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِثَمَانِمِائَةِ دِرْهَمٍ , ثُمَّ أَرْسَلَ ثَمَنَهُ
إلَيْهِ)) .
berita kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa salah seorang sahabatnya
menjadikan merdeka budaknya setelah dia wafat, padahal dia tidak memiliki harta
selain budaknya itu, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjualnya
dengan harga 800 dirham, lalu mengirimkan hasilnya kepadanya.”
Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa






































