puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Umdatul Ahkam karya Imam Abdul Ghani Al Maqdisi (541 H – 600 H) rahimahullah.
Semoga
Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan kitab ini ikhlas karena-Nya dan
bermanfaat, aamin.
– رضي الله عنه – قَالَ: ((ضَحَّى النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – بِكَبْشَيْنِ
أَمْلَحَيْنِ أَقَرْنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ , وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ
عَلَى صِفَاحِهِمَا)) .
ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berkurban dengan dua
kambing besar yang berwarna putih yang ada hitamnya dan bertanduk. Beliau
menyembelih dengan tangannya sendiri, menyebut nama Allah (Bismillah) dan
bertakbir, serta meletakkan kakinya di bagian pinggir badan hewan itu.”
– عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما ((أَنَّ عُمَرَ قَالَ – عَلَى مِنْبَرِ
رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَمَّا بَعْدُ , أَيُّهَا النَّاسُ , إنَّهُ
نَزَلَ تَحْرِيمُ الْخَمْرِ وَهِيَ مِنْ خَمْسَةٍ: مِنْ الْعِنَبِ , وَالتَّمْرِ ,
وَالْعَسَلِ , وَالْحِنْطَةِ , وَالشَّعِيرِ. وَالْخَمْرُ: مَا خَامَرَ الْعَقْلَ ثَلاثٌ
وَدِدْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ عَهِدَ إلَيْنَا فِيهَا
عَهْداً نَنْتَهِي إلَيْهِ: الْجَدُّ , وَالْكَلالَةُ , وَأَبْوَابٌ مِنْ الرِّبَا))
.
anhuma, bahwa Umar pernah berkata di atas mimbar Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam, “Amma ba’du. Wahai manusia, sesungguhnya telah ada pengharaman arak
dari lima bahan; dari anggur, kurma, madu, gandum, dan gandum sya’ir. Arak
adalah apa saja yang menutupi (menghilangkan) akal. Ada tiga hal yang aku ingin
kiranya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepada kami tentangnya
sehingga kita dapat selesaikan masalahnya, yaitu masalah kewarisan kakek
(bersama saudara), kalalah (seorang yang mati tanpa meninggalkan ayah dan
anak), dan beberapa masalah terkait riba.”
– عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: ((أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سُئِلَ
عَنْ الْبِتْعِ؟ فَقَالَ: كُلُّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ)) .
radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya
tentang Bit’ (minuman keras yang terbuat dari madu), Beliau menjawab, “Setiap
minuman yang memabukkan adalah haram.”
– عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: ((بَلَغَ عُمَرَ: أَنَّ
فُلاناً بَاعَ خَمْراً فَقَالَ: قَاتَلَ اللَّهُ فُلاناً , أَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ((قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ , حُرِّمَتْ عَلَيْهِمْ
الشُّحُومُ , فَجَمَلُوهَا فَبَاعُوهَا؟))
Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata, “Pernah sampai kepada Umar bahwa si fulan
menjual arak, maka ia berkata, “Semoga Allah melaknat si fulan. Tidakkah dia
tahu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat
orang-orang Yahudi. Saat diharamkan lemak (kambing dan sapi) bagi mereka,
maka mereka mencairkannya dan menjualnya.”
– عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى
الله عليه وسلم -: ((لا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ، فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا
لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الآخِرَةِ)) .
anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah
kalian memakai kain sutera. Barang siapa yang memakainya di dunia, maka dia
tidak akan memakainya di akhirat.”
الْيَمَانِ رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم
– يَقُولُ: ((لا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلا الدِّيبَاجَ , وَلا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ
الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهِمَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا
وَلَكُمْ فِي الآخِرَةِ))
radhiyallahu anhuma ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, “Janganlah memakai kain sutera maupun dibaj (sutera yang
tebal). Janganlah kamu minum dengan wadah emas dan perak dan jangan makan
dengan piring keduanya, karena keduanya untuk mereka di dunia dan untuk kalian
di akhirat.”
– عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: ((مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ
فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -، لَهُ
شَعَرٌ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ , بَعِيدُ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، لَيْسَ بِالْقَصِيرِ
وَلا بِالطَّوِيلِ)) .
radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang memiliki
rambut melebihi batas bawah telinga dengan mengenakan pakaian berwarna merah
yang lebih tampan daripada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Beliau
memiliki rambut yang sampai ke bahunya, lebar bahunya, dan fisiknya tidak
pendek dan tidak tinggi.”
– عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: ((أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ
– صلى الله عليه وسلم – بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ: أَمَرْنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ
, وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ , وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ , وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ (أَوْ
الْمُقْسِمِ) , وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ , وَإِجَابَةِ الدَّاعِي , وَإِفْشَاءِ السَّلامِ.
وَنَهَانَا عَنْ خَوَاتِيمَ – أَوْ عَنْ تَخَتُّمٍ – بِالذَّهَبِ , وَعَنْ الشُّرْبِ
بِالْفِضَّةِ، وَعَنْ الْمَيَاثِرِ، وَعَنْ الْقَسِّيِّ , وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ
, وَالإِسْتَبْرَقِ , وَالدِّيبَاجِ))
ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami tujuh
perkara dan melarang kami tujuh perkara: Beliau memerintahkan kami menjenguk
orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yag bersin, membenarkan sumpah
(atau orang yang bersumpah), menolong orang yang terzalimi, memenuhi undangan,
dan menyebarkan salam. Beliau melarang kami mengenakan cincin emas, meminum
dengan tempat minum dari perak, mengenakan pelana dari sutera, pakaian yang
bercampur sutera, pakaian sutera yang tebal, maupun sutera yang tipis.”
صلى الله عليه وسلم – اصْطَنَعَ خَاتَماً مِنْ ذَهَبٍ، فَكَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ فِي
بَاطِنِ كَفِّهِ إذَا لَبِسَهُ، فَصَنَعَ النَّاسُ كَذَلِكَ، ثُمَّ إنَّهُ جَلَسَ عَلَى
الْمِنْبَرِ فَنَزَعَهُ فَقَالَ: إنِّي كُنْتُ أَلْبَسُ هَذَا الْخَاتَمَ , وَأَجْعَلُ
فَصَّهُ مِنْ دَاخِلٍ , فَرَمَى بِهِ ثُمَّ قَالَ: وَاَللَّهِ لا أَلْبَسُهُ أَبَداً
فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ)) .
يَدِهِ الْيُمْنَى)) .
bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat cincin dari emas dan
menjadikan mata cincinnya di bagian bawah telapak tangannya ketika dipakai,
lalu orang-orang pun ikut melakukannya, lalu Beliau duduk di atas mimbar dan
melepasnya sambil bersabda, “Sesungguhnya sebelumnya aku memakai cincin ini dan
aku jadikan mata cincinnya di bawah,” lalu Beliau membuangnya dan bersabda,
“Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi selama-lamanya,” maka orang-orang
pun ikut membuang cincin mereka.”
disebutkan, “Beliau jadikan cincinnya itu di tangan kanannya.”
– عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله
عليه وسلم – ((نَهَى عَنْ لُبُوسِ الْحَرِيرِ إلاَّ هَكَذَا , وَرَفَعَ لَنَا رَسُولُ
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أُصْبُعَيْهِ: السَّبَّابَةَ , وَالْوُسْطَى)) .
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ إلاَّ مَوْضِعَ أُصْبُعَيْنِ
, أَوْ ثَلاثٍ , أَوْ أَرْبَعٍ)) .
Khaththab radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
melarang memakai sutera kecuali seukuran ini. Ketika itu Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam mengangkat kedua jarinya; telunjuk dan jari tengah.”
disebutkan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang memakai sutera
kecuali seukuran dua, tiga, atau empat jari.”
– عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى – رضي الله عنه -: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
– صلى الله عليه وسلم – فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ –
انْتَظَرَ , حَتَّى إذَا مَالَتِ الشَّمْسُ قَامَ فِيهِمْ , فَقَالَ: ((أَيُّهَا النَّاسُ
, لا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ , وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا
لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا , وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلالِ السُّيُوفِ
ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم -: اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ ,
وَمُجْرِيَ السَّحَابِ , وَهَازِمَ الأَحْزَابِ: اهْزِمْهُمْ , وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ))
.
Abi Aufa radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada salah
satu peperangan menghadapi musuh menunggu (suasana sejuk) sehingga ketika
matahari telah tergelincir Beliau bersabda, “Wahai manusia! Janganlah kalian
berkeinginan untuk bertemu musuh dan mintalah kepada Allah keselamatan. Jika kalian
bertemu mereka, maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga di bawah naungan
pedang,” kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah yang
telah menurunkan kitab, menjalankan awan, mengalahkan pasukan bersekutu. Kalahkanlah
mereka dan menangkanlah kami terhadap mereka.”
– عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه
وسلم – قَالَ: ((رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا
عَلَيْهَا , وَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا
عَلَيْهَا , َالرَّوْحَةُ يَرُوحُهَا الْعَبْدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْغَدْوَةُ
خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا)) .
As Sa’idiy radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Menjaga perbatasan sehari di jalan Allah lebih baik daripada dunia
dan seisinya. Tempat cemeti milik salah seorang di antara kamu di surga lebih
baik daripada dunia dan seisinya. Perjalanan di sore hari yang dilakukan
seorang hamba di jalan Allah dan perjalanan di pagi hari lebih baik daripada
dunia dan seisinya.”
Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa






































