الله الرحمن الرحيم
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ :
Laailaahaillallahu
wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
muslimaat
shalat ‘Ied yang berbahagia!
apakah bulan itu akan kita jumpai lagi atau tidak? Orang yang malang adalah
orang yang tidak memperoleh kebaikan dan keberkahan di bulan itu dan
dosa-dosanya tidak diampuni. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
kemudian bulan itu berlalu namun dosa-dosanya dalam keadaan belum diampuni.”
(Hr. Tirmidzi, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)
sebagian yang lain, “Siapakah orang-orang yang malang di bulan ini? Orang yang
malang adalah orang yang terhalang dari memperoleh kebaikan. Orang yang malang
adalah orang yang terhalang dari istiqamah di atas ketaatan.”
memberikan kesempatan lagi kepada kita untuk dapat menjumpai kembali bulan
Ramadhan dan mengisinya dengan berbagai amalan saleh.
oleh-Nya
agar Dia menerima amal ibadah yang kita kerjakan selama di bulan Ramadhan,
seperti puasa, shalat tarawih, membaca Al Qur’an, dzikrullah, sedekah, dan
lainnya. Hal itu, karena ibadah-ibadah tersebut sangat besar pahalanya apalagi
di bulan yang utama (bulan Ramadhan). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,
“Pahala terhadap amal semakin bertambah karena waktu yang utama.”
menerima ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan dan bulan-bulan
lainnya. Kita pun berhusnuzhzhan (bersangka baik) kepada-Nya, bahwa Dia akan
menerimanya, karena Dia tidaklah memerintahkan beramal saleh, melainkan karena
Dia hendak menerimanya dari kita. Bukankah Dia berfirman,
الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar Rahman: 60)
pada hari raya Idul Fitri dalam khutbahnya, “Wahai manusia, kalian telah
berpuasa selama tiga puluh hari dan melakukan qiyamullail selama tiga puluh
hari. Hari ini kalian keluar meminta kepada Allah agar Dia menerima amal
ibadahmu.” (Lathaiful Ma’arif hal. 209)
kepada Allah selama enam bulan agar disampaikan ke bulan Ramadhan, lalu mereka
berdoa selama enam bulan agar amal-amal mereka diterima.” (Latha’iful
Ma’arif hal. 148)
“Sebagian kaum salaf tampak bersedih pada hari raya Idul Fitri.” Lalu
ada orang yang berkata kepadanya, “Ini adalah hari bergembira dan
bersenang-senang.” Umar bin Abdul ‘Aziz menjawab, “Betul. Akan tetapi
aku adalah seorang hamba yang diperintahkan Tuhanku (Allah Ta’ala) untuk beramal
untuk-Nya, namun aku tidak tahu, apakah Dia menerima amalku atau tidak?”
“Wahai sekiranya diriku tahu siapa yang diterima amalnya sehingga kami dapat
menyambutnya dan siapa yang ditolak amalnya sehingga kami berduka cita
terhadapnya?”
amal adalah bahwa Allah Azza wa Jalla memberikan taufiq kepada seseorang untuk
beramal saleh setelahnya.
menjadi lapang dalam beribadah, merasa nikmat dalam menjalankan ketaatan,
bertaubat dari dosa-dosa yang terdahulu, khawatir amalnya tidak diterima, dan
memiliki kecemburuan terhadap agama; ia marah ketika kemuliaan agama dinodai,
dan rela mengorbankan tenaga dan harta di jalan Allah.
muslimin wal muslimaat
berbahagia!
berkumpul di tempat ini, di antara kita ada yang lemah dan ada yang kuat, ada
yang masih muda dan ada yang suda tua, ada yang menjadi atasan dan ada yang
menjadi bawahan, ada yang kaya dan ada yang miskin, setelah itu kita akan
pulang ke rumah kita masing-masing. Ingatlah, kita juga akan berkumpul lagi di
suatu tempat dengan jumlah yang lebih banyak dari ini, yaitu di padang mahsyar
untuk dihisab (diperiksa amal) oleh Allah Azza wa Jalla. Selanjutnya masing-masing kita akan pulang, ada yang pulangnya ke
neraka –wal ‘iyadz billah-, dan ada yang pulang ke surga. Maka dari itu, hendaklah masing-masing kita memperhatikan
dirinya; apakah dia sudah berada di atas ketaatan kepada Allah ataukah masih berada di atas kemaksiatan? Jika dirinya
bergelimang di atas kemaksiatan, maka berarti dia telah bersiap-siap pulang ke
neraka dan menjadi bahan bakarnya, dan jika dirinya berada di atas ketaatan,
maka berarti dia telah bersiap-siap pulang ke surga. Allah Subhaanahu wa Ta’ala
berfirman,
لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (Terj. QS. Al Hasyr: 18)
kita adalah ke surga dan tidak ke neraka. Maka perbaikilah amal
kita dari sekarang dan jangan menunda!
muslimin wal muslimaat
Ramadhan dan mengisinya dengan ibadah juga dimaksudkan agar setelah Ramadhan
berlalu, kita menjadi terbiasa mengisi hidup dengan beribadah kepada Allah Azza
wa Jalla. Dan inilah tujuan dari diciptakan kita di dunia, yaitu menyembah
hanya kepada Allah saja dan mengisi hidup di dunia dengan beribadah. Oleh
karena itu, ibadah yang kita lakukan bukan hanya di bulan Ramadhan, bahkan di
seluruh bulan.
Hafiy, “Ada orang-orang yang beribadah di bulan Ramdhan dan bersungguh-sungguh
beribadah di bulan itu. Tetapi setelah Ramadhan berlalu, mereka meninggalkan
ibadahnya, maka Bisyr berkata, “Seburuk-buruk orang adalah mereka yang tidak
mengenal Allah selain di bulan Ramadhan.” (Miftahul Afkar Lit Ta’ahhub
Lidaril Qarar 2/283).
perintah beribadah, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi terus diperintahkan
di setiap hari, di setiap bulan, di setiap tahun, dan seterusnya hingga ajal
menjemput. Allah
Ta’ala berfirman,
kepadamu yang diyakini (ajal).” (Terj. QS. Al
Hijr: 99)
yang nantinya setelah mereka menjalankannya, maka Allah akan membalas mereka
dengan balasan yang besar, yaitu masuk ke dalam surga-Nya yang penuh dengan
kenikmatan. Sebaliknya, barang siapa yang meninggalkan ibadah (menyembah selain
Allah dan enggan mengisi hidupnya dengan beribadah, minimal yang wajib) dan
lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka nerakalah tempatnya, wal ‘iyadz
billah. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
طَغَى- وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا-فَإِنَّ
الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى
orang yang melampaui batas,–Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,– Maka
sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An Naazi’at: 37-39)
muslimin wal muslimaat
Penghuninya akan kekal dan tidak akan mati, akan senang dan tidak akan sedih,
akan bahagia dan tidak akan sengsara, akan sehat dan tidak akan sakit, akan
muda terus dan tidak akan tua, dan apa yang diinginkan ada di hadapan tanpa
perlu bekerja dan berusaha. Namun, apakah kenikmatan ini diberikan kepada
orang-orang yang malas beribadah atau enggan melakukannya; ketika ada seruan
yang memanggilnya untuk beribadah (seperti seruan untuk shalat), lalu ia tidak
mau menyambutnya, bahkan memilih bersenang-senang dengan dunia dan
berleha-leha.
saja, seperti harta, kekayaan, rumah, kendaraan, dan semisalnya seseorang tidak
mungkin memperolehnya dengan santai, tiduran, dan bermalas-malasan. Akankah
kesenangan itu diperoleh dengan bermalas-malasan, tidur, dan bersantai sambil
menunggu rezeki turun dari langit? Tidak wahai saudaraku, ini semua harus
dikejar dengan berusaha dan bekerja. Lalu bagaimana dengan kenikmatan surga,
akankan diperoleh dengan bermalas-malasan? Ini pun sama, engkau harus
mengejarnya dengan beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, menyambut
seruan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tidak cukup
hanya keinginan di hati dan ucapan di lisan.
pekerjaan akhirat demikian pula hasil yang akan diperolehnya, maka engkau akan
temukan ringan dan mudahnya pekerjaan akhirat dan besarnya hasil yang diperoleh
dari pekerjaan akhirat, namun anehnya banyak manusia yang lebih mengutamakan
kesenangan dunia. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا- وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
kamu memilih kehidupan duniawi.–Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik
dan lebih kekal.”
(QS. Al A’laa: 16-17).
agar kita lebih mengutamakan akhirat di atas dunia dan tidak berlebihan
terhadapnya.
muslimin wal muslimaat
agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang bertakwa agar
kita menjadi penghuni surga-Nya, karena surga-Nya diperuntukkan oleh Allah
untuk mereka yang bertakwa. Maka dari itu, jangan sampai setelah kita
menjalankan ibadah puasa, kita kembali lagi berbuat maksiat; kita kembali lagi
meninggalkan shalat, kita kembali lagi durhaka kepada kedua orang tua, kita
kembali lagi bergaul dengan orang lain menggunakan akhlak tercela, dan
wanita-wanita kita kembali lagi melepas jilbab dan memamerkan aurat.
muslimaat
bulan Ramadhan adalah agar bekal kita menghadapi kematian semakin banyak.
Bukankah setelah kematian terdapat safar yang panjang?
sekiranya salah seorang di antara kamu hendak safar, bukankah ia perlu
menyiapkan bekal yang bermanfaat baginya?” Kawan-kawannya berkata, “Ya.” Abu
Darda berkata, “Safar pada hari Kiamat lebih panjang, maka bawalah bekal yang
bermanfaat bagimu. Berhajilah untuk menghadapi perkara-perkara besar,
berpuasalah di siang hari yang panas untuk menghadapi panasnya hari
kebangkitan, shalatlah di kegelapan malam untuk menghadapi kegelapan kubur, dan
bersedekahlah secara sembunyi-sembunyi untuk menghadapi hari yang sulit.”
“Sesungguhnya Allah menjadikan Ramadhan sebagai arena berlomba bagi manusia. Manusia
berlomba-lomba dengan melakukan ketaatan, sebagian orang mendahului sehingga
mereka beruntung, sedangkan yang lain tertinggal sehingga mereka menyesal.
Sungguh aneh terhadap orang yang masih bermain dan tertawa pada hari yang di
sana orang-orang yang berbuat baik berbahagia dan orang yang melakukan
kebatilan rugi.”
muslimaat
melakukan puasa, menambahkan shalat sunah di samping shalat fardhu, bersedekah,
membaca Al Qur’an, dan melakukan berbagai amal lainnya, sebenarnya engkau mampu
melakukannya di bulan-bulan lainnya.
bisa jadi karena dosa-dosa kita sehingga kita kurang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala.
melihat dirimu ditimpa rasa malas menjalankan ketaatan, maka berhati-hatilah
karena boleh jadi Allah tidak suka kamu taat kepada-Nya.” Allah Ta’ala
berfirman,
وَلَـكِن كَرِهَ اللّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُواْ مَعَ
الْقَاعِدِينَ
mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai
keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan
kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal
itu.” (QS. At Taubah: 46)
muslimaat
pernah bersabda,
وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
banyak orang dari neraka, dan hal itu terjadi pada setiap malamnya.” (Hr.
Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)
neraka pada bulan Ramadhan, tetapi yang menjadi perhatian kita adalah siapakah
mereka? Apakah mereka ini adalah orang-orang yang senang duduk di pinggir jalan
menghabiskan waktu mereka dengan melakukan obrolan, mengisi waktunya dengan hal
yang sia-sia dan main-main, serta
mengisi bulan Ramadhan dengan banyak tidur, ataukah mereka itu adalah
orang-orang yang mengisi siang dan malam Ramadhan dengan berbagai amal saleh;
puasa, shalat, membaca Al Quran, bersedekah dan amal saleh
lainnya? Jelas, jawabannya adalah bahwa orang-orang yang
dibebaskan Allah dari neraka adalah orang-orang yang mengisi siang dan malam
Ramadhan dengan berbagai amal saleh.
muslimaat
manusia ketika diajak menaati Allah dan Rasul-Nya masih berat melakukannya,
padahal itu pertanda bahwa dirinya tidak mendapatkan taufiq dari Allah
Subhaanahu wa Ta’ala, Dia berfirman,
صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا
كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ
siapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan
dadanya untuk (menjalankan agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki
Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit,
seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.”
(QS. Al An’aam: 125)
siap menaati Allah dan Rasul-Nya karena menyangka dirinya masih jauh dari
kematian; dirinya masih muda dan sehat, di samping ingin memanfaatkan masa muda
dengan bersenang-senang.
kepadanya, “Saudaraku, sesungguhnya kematian jika datang tidak memperhatikan orang
yang dijemput, baik muda atau tua, masih sehat atau sedang sakit, ia bisa
mendatanginya. Dan jika kematian telah datang kepadanya sedangkan masa mudanya
hanya ia isi dengan bersenang-senang dan hal yang sia-sia, maka dia akan
menyesal sekali; saat itu ia pun sadar. Padahal ketika kematian telah datang, maka penyesalan dan
sikap sadar tidak berguna lagi, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى – يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ
لِحَيَاتِي
tetapi tidak berguna lagi kesadaran itu baginya.–Dia mengatakan,
“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk
hidupku ini.” (QS. Al Fajr: 23-24)
muslimaat
meraih pahala yang banyak masih ada, di antaranya adalah dengan melanjutkan
berpuasa selama enam hari di bulan Syawwal, dimana bagi mereka yang
melakukannya akan dianggap seperti berpuasa setahun. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ»
siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti
berpuasa setahun.” (HR.
Jama’ah Ahli Hadits selain Bukhari dan Nasa’i)
setahun adalah karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan,
bulan Ramadhan dihitung sepuluh bulan, sedangkan enam hari di bulan Syawwal
dihitung dua bulan.”
memanfaatkan kesempatan ini untuk berpuasa sebelum waktunya habis.
amalan terbaik kami adalah pada bagian akhirnya, umur terbaik kami adalah pada
bagian akhirnya, hari terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu, aamiin.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ
الْوَرَى ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ سُبْحَانَهُ : إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ” ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى مُحَّمَدٍ ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ ، وَعَلَى الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ ، وخُصَّ
مِنْهُمُ الْخُلَفَاءَ الْأَرْبَعَةَ الرَّاشِدِيْنَ ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِناًّ
وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ
أُمُوْرِنَا ، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ
وَلاَ مُضِلِّيْنَ ، رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
Musa
Blog: http://wawasankeislaman.blogspot.co.id/






































