الله الرحمن الرحيم
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ :
hamd.
akbar wa ajallu. Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.
syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang telah melimpahkan kepada kita
berbagai macam nikmat yang tidak terhitung jumlahnya oleh kita. Di antara
nikmat-nikmat itu, yang paling besarnya adalah nikmat diutusnya Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa agama Islam, sehingga manusia yang
sebelumnya berada dalam kegelapan dan kebodohan, maka dengan mengikuti Beliau
mereka berada dalam cahaya dan pengetahuan. Mereka menjadi kenal siapa Rabb
mereka, mengenal jalan mana yang diridhai Rabb mereka, dan mengetahui untuk apa
mereka diciptakan di dunia.
Bakar Syu’bah bin Ayyasy rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah
mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk bumi
sedangkan mereka berada dalam kerusakan, maka Allah memperbaiki kondisi mereka
dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, barang
siapa yang mengajak untuk mengikuti selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang
mengadakan kerusakan.”
berbahagia!
untuk tetap bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, karena ia adalah solusi
menghadapi problematika di dunia, kunci meraih rezeki dan memperoleh berbagai
kemudahan, serta sebagai jalan untuk menggapai surga di akhirat kelak. Allah
Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
baginya jalan keluar.–Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq: 2-3)
السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa,” (QS. Ali Imran: 133)
berbahagia!
وَهَذَا عِيدُنَا
adalah hari raya kita.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
kelebihan dibanding hari raya-hari raya yang ada yang diperingati manusia. Hari
raya yang diperingati sebagian manusia isinya mengandung kemusyrikan dan
kekufuran, dosa dan kemaksiatan. Sedangkan hari raya umat Islam ini mengandung
takbir (mengagungkan Allah) dan tauhid (mengesakan-Nya dalam beribadah) agar
hubungan kita dengan-Nya menjadi baik. Demikian pula dalam hari raya Idul
Adh-ha mengandung sikap ihsan (berbuat baik) kepada hamba-hamba Allah Subhanahu
wa Ta’ala dengan berbagi kepada mereka, seperti menghadiahkan daging kurban
kepada mereka agar hubungan kita dengan orang lain menjadi baik.
berbahagia!
kegembiraan dan kebahagiaan. Di hari raya, umat Islam menampakkan rasa gembira
dan bahagia, serta berusaha menghibur dirinya dari kelelahan dalam menjalani
hidup di dunia. Oleh karena itu, nikmatilah semua yang baik yang Allah halalkan
untuk kita, syukurilah nikmat itu dengan melaksanakan perintah-Nya, dan
jauhilah hal-hal yang diharamkan niscaya Dia akan menjaga nikmat itu atas kita
dan akan memberinya tambahan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika
benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah: 172)
namun tidak melampaui batas dengan mengerjakan larangan-Nya; silahkan
besenang-senang menikmati kesenangan dunia ini, namun jangan melupakan akhirat.
Inilah keseimbangan dalam hari raya kita.
Ied dan berkurban. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
dengan menyebut nama-Nya saja ketika menyembelih, sekaligus untuk menghidupkan
sunnah dua kekasih Allah; Nabi Ibrahim alaihis salam dan Nabi Muhamad
shallallahu alaihi wa sallam.
Ied agar kita mengawali hidup kita dengan kebaikan dan untuk membedakan antara
hari raya kita kaum muslimin dengan hari raya non muslim.
tetangga, teman, tamu, dan kaum fakir-miskin.
berbahagia!
saat bermimpi menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail alaihis salam, dimana
mimpi para nabi adalah benar, maka ketika Nabi Ibrahim alaihis salam hendak
melaksanakan mimpinya itu dan telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya,
ketika itu semakin nyatalah kesabaran keduanya, patuh dan tunduknya mereka
berdua kepada perintah Allah, dan cinta yang dalam Nabi Ibrahim alaihis salam
kepada Allah Rabbnya, Allah pun melarangnya menyembelih anaknya dan menebusnya
dengan seekor kambing yang besar. Berkat kesabaran dan kepatuhannya kepada
Allah Azza wa Jalla, maka Allah jadikan Nabi Ibrahim alaihis salam sebagai imam
yang patut dijadikan teladan dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya.
dilakukan pada hari raya Idul Adh-ha di berbagai pelosok dunia.
مِنْهُ
mengganti dengan yang lebih baik daripadanya.” (Dari hadits riwayat Ahmad, dan
dinyatakan shahih isnadnya oleh Syaikh Al Albani)
إِلاَّ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ الْحَمْدُ.
berbahagia!
Allah. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
paling agung di sisi Allah Tabaaraka wa Ta’aala adalah hari nahar (Idul Adh-ha),
lalu hari qar (setelah hari nahar).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim, dishahihkan oleh Hakim
dan Al Albani, Shahihul Jami’ no. 1064).
raya Idul Adh-ha lebih utama daripada Idul Fitri karena di hari Idul Adh-ha
terdapat shalat Ied dan berkurban, dalam Idul Fitri terdapat shalat Ied dan
bersedekah, sedangkan berkurban lebih utama daripada bersedekah. Di samping
itu, pada hari nahar berkumpul dua keutamaan; waktu dan tempat yang utama.
di samping Idul Fitri dan hari Jum’at. Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
أَهْلُ الْإِسْلاَمِ وَ هِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ
adalah hari raya kita kaum muslim. Ia adalah hari makan dan minum. (HR. Ahmad,
Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul
Jami no. 8193)
hari makan, minum, dan berdzikr kepada Allah.” (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’i, dan
Ibnu Majah).
diharamkan melakukan puasa pada hari-hari tersebut kecuali bagi orang yang
tidak memperoleh hadyu tamattu, maka ia boleh melakukan puasa pada hari
tersebut.
Oleh karenanya, kita disyariatkan
melakukan takbir pada hari raya Idul Adh-ha dimulai dari subuh hari Arafah (9
Dzulhijjah) hingga akhir hari tasyriq. Ini adalah takbir muqayyad, takbir yang
kita baca seusai shalat setelah beristighfar tiga kali dan mengucapkan Allahumma
antas salam wa minkas salam tabaarakta yaa dzal Jalalil wal Ikram, di
samping kita baca juga secara mutlak.
أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ
الْحَمْدُ.
yaitu Nabi Ibrahim alaihis salam; bagaimana Beliau berdakwah mengajak kaumnya
hanya menyembah Allah dan meninggalkan patung-patung serta apa saja yang
disembah selain Allah, bagaimana Beliau menghancurkan patung-patung yang
disembah kaumnya, dan bagaimana Beliau selalu tunduk dan patuh terhadap
perintah Allah, sehingga Dia menjadikan Ibrahim sebagai imam; panutan bagi umat
manusia. Demikian pula Idul Adh-ha mengingatkan kita terhadap salah satu sunnah
Nabi Ibrahim alaihis salam, yaitu berkurban.
yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimash shalatu was salam. Ibadah
ini disyariatkan untuk merealisasikan tauhid, mengagungkan dan membesarkan
Allah Azza wa Jalla, serta agar nama-Nya saja yang disebut ketika menyembelih
hewan; tidak selain-Nya. Dia berfirman,
الْعَالَمِينَ –لَا
شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.—Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan yang
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An’aam: 162-163)
Allah Azza wa Jalla,
يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)
berbahagia!
bahkan sebagian ulama berpendapat wajib bagi mereka. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
tidak mau melakukannya, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami
(lapangan).” (HR. Ibnu Majah dan
lain-lain dengan sanad hasan).
berbahagia!
yang telah diterangkan dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
yaitu:
penghalang untuk keabsahannya. Cacat tersebut adalah buta sebelah matanya
dengan jelas, pincang dengan jelas, sakit dengan jelas, dan kurus sekali tidak
bersumsum (Hal ini berdasarkan hadits Al Barra’). Termasuk pula cacat-cacat
yang semisal itu atau lebih parah lagi.
usianya 5 tahun, sapi yang usianya 2 tahun, kambing yang usianya setahun, sedangkan
biri-biri atau domba minimal 6 bulan.
tasyriq.
dianjurkan menambahkan dengan takbir “Allahu akbar”.
berkurban ikut memakan daging hewan kurbannya, lalu menyedekahkan, dan
menghadiahkan kepada orang lain.
atau menghadiri proses penyembelihan hewan kurbannya.
tidak mengapa memberinya dalam bentuk hadiah (bukan sebagai upah).
yang diridhai-Nya, memasukkan kita ke surga, dan menghindarkan kita dari
neraka.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ
الْوَرَى ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ سُبْحَانَهُ : إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ” ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى مُحَّمَدٍ ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ ، وَعَلَى الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ ، وخَصَّ
مِنْهُمُ الْخُلَفَاءَ الْأَرْبَعَةَ الرَّاشِدِيْنَ ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِناًّ
وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ
أُمُوْرِنَا ، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ
وَلاَ مُضِلِّيْنَ ، رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.





































