الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat, amma ba’du:
pembahasan tentang tiga puluh lima sifat orang munafik, semoga Allah menjadikan
penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
membujuk dengan kata-kata manis agar tidak disalahkan
Ta’ala berfirman,
إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ
جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (95) يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا
عَنْهُمْ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
(96)
mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada
mereka, supaya kamu berpaling dari mereka (tidak menyalahkan dan mencela
mereka). Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah
najis dan tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka
kerjakan.–Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka.
Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha
kepada orang-orang yang fasik itu.” (Qs. At Taubah: 96)
إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (1) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا
عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (2)
orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa
sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya
kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang
munafik itu benar-benar orang pendusta–Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai[i],
lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya sangat
buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al Munafiqun: 1-2)
keadaan terpaksa
Ta’ala berfirman,
مِنْكُمْ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ (53) وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ
مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ
الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ
(54)
“Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun
nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah
orang-orang yang fasik.–Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima
dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan
Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak
(pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (Qs. At Taubah: 53-54)
mukmin
Ta’ala berfirman,
مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ
kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika
kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata, “Sesungguhnya kami
sebelumnya telah memperhatikan urusan Kami (tidak pergi perang)” dan
mereka berpaling dengan rasa gembira.” (Qs. At Taubah: 50)
mukmin dengan berita bohong
Ta’ala berfirman,
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ
ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا
jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam
hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong (untuk menakut-nakuti) di
Madinah (yang menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi)
mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam
waktu yang sebentar,” (Qs.
Al Ahzab: 60)
takdir
Ta’ala berfirman,
أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ
صَادِقِينَ
yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi
berperang, “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak
terbunuh.” Katakanlah,
“Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang
benar.” (Qs. Ali Imran: 168)
orang-orang saleh
Ta’ala berfirman,
يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ
فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ
أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى
اللَّهِ يَسِيرًا
bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu
memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan
karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu
dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka
itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian
itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Ahzaab: 19)
berjamaah
alaihi wa sallam bersabda,
وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»
shalat yang paling berat dilakukan kaum munafik adalah shalat Isya dan shalat
Subuh. Kalau sekiranya mereka mengetahui keutamaan pada kedunya, tentu mereka
akan mendatanginya meskipun harus merangkak.” (Hr. Bukhari, Ibnu Majah, dan
Nasa’i, lafaz ini adalah lafaz Ibnu Majah)
bahwa seluruh shalat berat bagi kaum munafik, namun yang paling berat adalah
shalat Subuh dan shalat Isya. Demikian pula menunjukkan, bahwa ciri orang
munafik adalah meninggalkan shalat berjamaah.
anhu berkata, “Tidak ada orang meninggalkan shalat berjamaah kecuali orang
munafik yang diketahui kemunafikannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
di muka bumi, namun menyangka bahwa dirinya mengadakan perbaikan
Ta’ala berfirman,
قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ
لَا يَشْعُرُونَ (12)
apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan
perbaikan.”–Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat
kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Qs. Al Baqarah: 11-12)
di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan dengan melakukan
kekafiran dan kemaksiatan, menyebarkan rahasia kaum muslimin kepada musuh
mereka, menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang kaum muslimin,
menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menghias kebatilan.
dan batiniyahnya
Ta’ala berfirman,
وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8)
antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari
Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Qs. Al Baqarah: 8)
orang-orang yang beriman’ karena berbedanya antara lahiriah mereka dengan
batiniah.
ketakutan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi (mudah kaget terhadap suatu
peristiwa dan tidak terkendali)
Ta’ala berfirman,
جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي
يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ
حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ
وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu
memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan
karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu
dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka
itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian
itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Ahzaab: 19)
وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ
كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى
يُؤْفَكُونَ
apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika
mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. mereka seakan-akan kayu
yang tersandar[ii].
Mereka mengira bahwa setiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka[iii]. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap
mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai
dipalingkan (dari kebenaran)?” (Qs. Al Munafiqun: 4)
dusta
Ta’ala berfirman,
قُلْ لَا تَعْتَذِرُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ
(orang-orang munafik) mengemukakan ‘uzurnya kepadamu, apabila kamu telah
kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah, “Janganlah kamu
mengemukakan ‘uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya
Allah telah memberitahukan kepada Kami beritamu yang sebenarnya.” (Qs. At Taubah: 94)
dan mencegah yang ma’ruf
berfirman,
بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ
نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
munafik laki-laki dan perempuan; sebagian dengan sebagian yang lain adalah
sama, mereka menyuruh berbuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf, dan
mereka menggenggamkan tangannya (bersikap bakhil). Mereka telah lupa kepada
Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah
orang-orang yang fasik.”
(Qs. At Taubah: 67)
karena bakhil
disebutkan pada no. 22.
wa Jalla
22.
shahbihi wa sallam.
Maraji’: Tsalatsuna alamatan lil munafiqin (Syaikh
Aidh Al Qarni), Subulus Salam (M. Bin Ismail Ash Shan’ani), Tuhfatul
Ahwadzi (Abul Ala Muhammad Al Mubarakfuriy), 75 Masalah Penting (Penulis),
Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Penulis), Maktabah
Syamilah versi 3.45, dll.
menjaga harta dan jiwa mereka.
maksudnya untuk menyatakan sifat mereka yang buruk meskipun tubuh mereka
bagus-bagus dan mereka pandai berbicara, akan tetapi sebenarnya otak mereka
adalah kosong tidak dapat memahami kebenaran.
mereka takut turun ayat yang membuka rahasia mereka atau menghalalkan darah dan
harta mereka. Mereka takut kalau isi hati mereka terbongkar. Sifat kaum
munafikin ini juga disebutkan di surat Al Ahzaab: 19.





































