الله الرحمن الرحيم
semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang
mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Riyadhush Shalihin yang banyak kami rujuk dari kitab Bahjatun
Nazhirin karya Syaikh Salim bin Ied Al Hilaliy, Syarh Riyadhush Shalihin karya
Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy, dan lainnya. Hadits-hadits di dalamnya merujuk kepada
kitab Riyadhush Shalihin, akan tetapi kami mengambil matannya
dari kitab-kitab hadits induk. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan
penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ
عِنْدَ الْمِائَةِ، ثُمَّ مَضَى، فَقُلْتُ: يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ، فَمَضَى،
فَقُلْتُ: يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ، فَقَرَأَهَا، ثُمَّ
افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ، فَقَرَأَهَا، يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا، إِذَا مَرَّ
بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ
بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ، فَجَعَلَ يَقُولُ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ
الْعَظِيمِ» ، فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ: «سَمِعَ
اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» ، ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ، ثُمَّ
سَجَدَ، فَقَالَ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى» ، فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا
مِنْ قِيَامِهِ.
bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Pada suatu malam, aku shalat
bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau memulai dengan surat Al
Baqarah (setelah Al Fatihah). Dalam hati aku berkata, “Mungkin Beliau akan ruku
setelah sampai seratus ayat,” namun ternyata Beliau melanjutkan. Dalam hati aku
berkata, “Mungkin Beliau melakukan shalat ini membaca surat Al Baqarah,” namun Beliau
melanjutkan dengan surat An Nisa dan menyelesaikannya, kemudian membaca surat
Ali Imran dan menyelesaikannya. Beliau membacanya dengan perlahan. Ketika
sampai pada ayat tentang tasbih, maka Beliau bertsabih, dan ketika sampai pada
ayat tentang permohonan,
maka Beliau memohon. Ketika sampai pada ayat permohonan perlindungan, maka
Beliau berlindung. Setelah itu Beliau ruku dan mengucapkan, “Subhaana
Rabbiyal ‘azhiim” (artinya: Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung). Ketika itu
rukunya hampir sama dengan berdirinya, lalu Beliau mengucapkan “Sami’allahu
liman hamidah,” (artinya: Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Beliau
berdiri lama seperti ketika ruku, lalu Beliau sujud dan mengucapkan, “Subhaana
Rabbiyal A’laa,” (artinya: Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi). Ketika itu
sujud Beliau hampir sama dengan berdirinya.” (HR. Muslim)
qiyamullail dan memperlama melakukannya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat, dimana Beliau
menggabung antara membaca dan mentadabburi, serta memperlama ibadah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah.
melakukan qiyamullail dengan berjamaah, namun jarang-jarang; tidak
terus-menerus.
seseorang ketika melewati ayat tentang rahmat, maka ia meminta rahmat Allah,
dan ketika melewati ayat tentang ancaman Allah, maka ia meminta perlindungan
daripadanya. Hal ini dilakukan dalam shalat malam.
mendahulukan surat yang satu daripada surat yang lain.
tasbih ketika ruku dan sujud.
مَعَ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَيْلَةً، فَأَطَالَ الْقِيَامَ
حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سُوْءٍ! قِيْلَ: وَمَا هَمَمْتَ بِهِ؟ قَالَ: هَمَمْتُ
أَنْ أجْلِسَ وَأَدَعَهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
“Pada suatu malam aku pernah shalat (tahajjud) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, lalu Beliau memperlama berdiri (dengan membaca surat panjang), sehingga
aku hendak berniat buruk.” Lalu ia ditanya, “Apa niat burukmu?” Ibnu Mas’ud
menjawab, “Aku ingin duduk dan meninggalkan Beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
atau pemimpin, yaitu dengan tidak menyelisihinya baik dengan ucapan maupun
perbuatan, selama sikapnya tidak diharamkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesungguhan beribadah.
bersabar beribadah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
sebaiknya bertanya agar lebih jelas.
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ
اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ،
فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ» . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Ada tiga yang mengantarkan
mayit; yang dua kembali, sedangkan yang satu tetap bersamanya. Keluarganya,
hartanya, dan amalnya akan mengantarkannya, namun keluarga dan hartanya
kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
yang menemaninya di kubur.
dikejarnya, diperolehnya, dan dijaganya akan ditinggalkan.
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ
شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»
berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga lebih dekat
dengan seseorang di antara kamu daripada tali sandalnya, demikian pula keadaan
neraka.” (HR. Bukhari)
Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mudahnya masuk neraka
bagi mereka yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
meremehkan perbuatan maksiat meskipun kecil.
mengerjakan ketaatan meskipun kecil.
رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَمِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ – قَالَ: كُنْتُ
أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ
وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي: «سَلْ» فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي
الْجَنَّةِ. قَالَ: «أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ» قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ. قَالَ: «فَأَعِنِّي
عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ»
radhiyalahu ‘anhu pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk
Ahlush Shuffah[i],
ia berkata, “Aku pernah bernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, lalu aku membawakan air wudhu dan menyiapkan kebutuhan Beliau,
kemudian Beliau bersabda kepadaku, “Mintalah,” aku menjawab, “Aku meminta
kepadamu agar dapat menemanimu di surga,” Beliau bersabda, “Apakah tidak ada
yang selain itu?” Aku berkata, “Itu saja.” Beliau bersabda, “Bantulah aku untuk
dirimu dengan banyak melakukan sujud (shalat sunah).” (HR. Muslim)
hal itu dapat mendekatkan diri kepada Allah serta dapat menemani Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.
mengerjakan ketaatan; tidak mengikuti selera hawa nafsu, dan tidak cukup hanya
dengan berangan-angan saja.
wa sallam, dan keutamaan mereka.
‘alaihi wa sallam adalah orang-orang miskin, dan seperti itulah pengikut para
nabi ‘alaihimush shalatu was salam.
kebaikan orang lain yang berbuat baik kepada kita. Jika tidak menemukan sesuatu
untuk membalasnya, maka ucapkanlah “Jazakallahu khaira,” (artinya:
semoga Allah balas engkau dengan kebaikan), karena orang yang mengucapkan
demikian berarti telah membalas lebih dan memujinya.
الْيَعْمَرِيُّ، قَالَ: لَقِيتُ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ يُدْخِلُنِي اللهُ
بِهِ الْجَنَّةَ؟ أَوْ قَالَ قُلْتُ: بِأَحَبِّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ،
فَسَكَتَ. ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَسَكَتَ. ثُمَّ سَأَلْتُهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ:
سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «عَلَيْكَ
بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ، فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً، إِلَّا
رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً» قَالَ مَعْدَانُ:
ثُمَّ لَقِيتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ لِي: مِثْلَ مَا قَالَ
لِي: ثَوْبَانُ
“Aku pernah bertemu Tsauban maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku bertanya, “Beritahukanlah kepadaku
amalan yang jika aku lakukan, Allah akan memasukkanku ke surga?” atau ia
berkata, “Sebagai amalan yang paling dicintai Allah?” Maka Tsauban diam, laku
aku bertanya lagi, namun ia diam juga, kemudian aku bertanya lagi yang ketiga
kalinya, maka dia berkata, “Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Hendaknya
engkau banyak bersujud kepada Allah, karena tidaklah engkau bersujud kepada
Allah sekali saja, melainkan Allah akan mengangkat derajatmu dengannya dan
menggugurkan kesalahanmu.” Ma’dan berkata, “Kemudian aku bertemu dengan Abu
Darda, lalu aku bertanya kepadanya hal yang sama, maka ia menjawab dengan
jawaban yang sama dengan ucapan Tsauban.” (HR. Muslim)
dan ketaatan dapat menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat.
seorang muslim menambahkan amalan sunah setelah yang wajib.
hendaknya mentarbiyah umat dengan sebaik-baiknya dan memberikan wasiat yang
dapat memperbaiki dunia dan akhirat mereka.
yang dapat memasukkan mereka ke surga.
dapat memasukkan seseorang ke surga, meninggikan derajat, dan mendatangkan
kecintaan Allah Azza wa Jalla.
alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Maraji’: Tathriz Riyadh Ash Shalihin (Syaikh Faishal bin
Abdul Aziz An Najdiy), Syarh Riyadh Ash Shalihin (Muhammad bin
Shalih Al Utsaimin), Bahjatun
Nazhirin (Salim bin ’Ied Al Hilaliy), Al Maktabatusy Syamilah
versi 3.45, dll.
Shuffah adalah kaum muhajirin yang fakir yang tidak memiliki rumah, dimana mereka
tinggal di tempat yang teduh di bagian belakang dalam masjid Nabawi.






































