الله الرحمن الرحيم
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
(santun). Semoga Allah Azza wa Jalla
menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma
aamin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pergi mendakwahi sukunya “Daus”
kepada agama Islam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengizinkannya. Tetapi mereka (kaumnya) tidak mau mengikuti ajakan Thufail,
maka ia kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya
Daus telah durhaka dan enggan. Maka doakanlah keburukan atas mereka.” Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat dan mengangkat kedua
tangannya, lalu para sahabat berkata, “Mereka (suku Daus) akan binasa. Karena
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendoakan kecelakaan atas mereka,
sedangkan doa Beliau mustajab. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa
dengan berkata, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Daus dan datangkanlah
mereka.” (Muttafaq ‘alaih) Maka Thufail kembali kepada sukunya dan mengajak
mereka untuk yang kedua kalinya kepada Islam, mereka pun semua masuk Islam.
Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau adalah seorang yang
santun; mendoakan kebaikan bagi mereka dan tidak mendoakan keburukan.
rakyatnya. Ketika itu Beliau ditemani oleh seorang pengawal, maka keduanya
masuk masjid. Saat itu suasana masjid gelap, lalu Umar terpeleset menimpa
seorang laki-laki yang sedang tidur, maka orang itu mengangkat kepalanya dan
berkata kepada Umar, “Apakah kamu sudah gila?” Umar menjawab, “Tidak.” Pengawalnya
pun hendak memukul laki-laki itu, namun Umar berkata kepadanya, “Jangan kamu
lakukan. Dia hanyalah bertanya kepadaku, “Apakah kamu sudah gila?” Lalu aku
menjawab “Tidak”.
Ahnaf bin Qais. Disebutkan, bahwa ada seorang yang mencaci-makinya, namun ia
tidak membalasnya dan terus berjalan, lalu orang yang mencaci-makinya
mengikutinya dari belakang sambil mencaci-makinya. Saat Ahnaf bin Qais hampir
tiba di kampungnya, maka Ahnaf bin Qais berkata, “Jika masih ada unek-unek yang
hendak engkau sampaikan, maka sampaikanlah sebelum ada orang yang mendengarnya,
sehingga ia akan menyakitimu.”
untuk mendatangi Ahnaf dengan maksud mencaci-makinya, namun Ahnaf diam saja dan
tidak membalas, lalu orang itu terus mencaci-makinya hingga tiba waktu makan
siang, maka Ahnaf berkata kepadanya, “Wahai fulan! Makan siang kita telah tiba,
ayo ikut bersamaku (untuk makan) kalau kamu mau.: Maka orang yang
mencaci-makinya menjadi malu dan pergi.
sikap itu serta membalas keburukan dengan kebaikan. Akhlak ini bukanlah berarti
seseorang ridha dengan kehinaan atau menerima kerendahan. Akhlak ini hanyalah
sikap tidak memperhatikan cacian manusia dan kurang mempedulikan cacian dan
hinaan mereka.
Al Halim (Maha Penyantun), Dia menyaksikan kemaksiatan mereka yang bermaksiat terhadap
perintah-Nya, namun Dia memberikan
kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan tidak segera menyiksa. Dia
berfirman,
Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,
santun.” (QS. At Taubah: 114)
sangat santun.” (QS. Ash Shaaffaat: 101)
santun. Beliau tidak sempit dadanya karena kekeliruan yang dilakukan sebagian
kaum muslimin, bahkan Beliau mengajarkan para sahabatnya untuk mengendalikan
jiwa dan menahan marah.
Santun adalah sifat yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla.
kepada salah seorang sahabat,
يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ وَالْاَنَاةُ
dicintai Allah; santun dan perlahan-lahan.” (HR. Muslim)
Santun merupakan sarana untuk memperoleh keridhaan Allah dan surga-Nya.
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ
اللَّهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ
mampu mewujudkannya, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memanggilnya di hadapan
seluruh makhluk-Nya pada hari Kiamat, lalu memberikan pilihan kepadanya untuk
memilih bidadari yang ia mau.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dihasankan oleh Al
Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6518)
Santun adalah bukti kuatnya azam pelakunya dan mampu menahan emosi.
بِالصُّرْعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Orang yang kuat adalah orang yang menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Muslim)
Santun
adalah sarana untuk mengalahkan musuh, menaklukkan setan, serta menjadikan
musuh sebagai kawan.
أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ
حَمِيمٌ
orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi
teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)
Santun merupakan sarana untuk meraih kecintaan manusia dan penghormatan
mereka.
Santun menjauhkan pelakunya dari jatuh ke dalam kesalahan dalam bersikap
dan tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mengusai dirinya.
dan tidak sanggup mengendalikan jiwa.
sallam untuk meminta wasiat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berulang kali mengatakan,
yang timbul karena dilanggarnya salah satu larangan Allah. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang panutan dan teladan terbaik, tidak pernah
marah selamanya kecuali jika larangan Allah dilanggar.
yang dilakukan bukan karena Allah atau sebabnya adalah karena sesuatu yang
ringan, dimana seseorang tidak mampu menguasai dirinya, yang biasanya berakhir kepada
hal yang tidak terpuji. Di antara marah yang tercela adalah seorang marah pada
suatu keadaan yang sesungguhnya ia mampu membalas keburukan itu dengan sikap
santun dan mengendalikan jiwa.
pengendalian diri adalah seperti yang dikisahkan berikut, bahwa ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dengan para sahabatnya, maka ada
seorang yang mencaci-maki Abu Bakar, tetapi Abu Bakar diam, kemudian orang itu mencaci-maki
lagi, namun Abu Bakar tetap diam, lalu untuk yang ketiga kalinya ia mencaci-maki
lagi, maka Abu Bakar pun membalasnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bangun (dari majlis) ketika Abu Bakar membela diri, lalu Abu Bakar berkata
kepada Beliau, “Apakah engkau marah kepadaku wahai Rasulullah?” Maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa salah satu malaikat dari
langit turun mendustakan ucapannya, tetapi ketika engkau membalas, maka setan
akhirnya yang duduk, dan aku tidak mau duduk di majlis yang di
dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud dan dalam Ash
Shahiihah 2376)
mengobati marah. Di antaranya:
Diam.
no. 693)
Mengucapkan
A’udzu billahi minasy syaithanirrajim (artinya: aku berlindung kepada
Allah dari godaan setan yang terkutuk).
بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ
tentu akan hilang marahnya.” (HR. Bukhari)
Merubah posisi sebelumnya.
الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
berdiri, maka hendaknya ia duduk. Jika marahnya hilang, (maka sudah cukup).
Jika belum, maka hendaknya ia berbaring (berbaring di atas rusuknya atau
bersandar).” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul
Jami’ no. 694)
Melatih
jiwa untuk bersikap santun.
Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan hal itu, Dia berfirman,
بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al
A’raaf: 199).
يَغْفِرُونَ
a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa
Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: http://islam.aljayyash.net/,
Maktabah Syamilah versi 3.45, Modul Akhlak kelas 8
(Penulis), dll.






































