Mendahulukan Ilmu Sebelum Beramal
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
merahmatimu-, bahwa wajib bagi kita mendalami empat masalah:
agama Islam, berdasarkan dalil.
الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
masa–Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian,—kecuali
orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati
untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar”. (QS.
Al-Ashr: 1-3).
bab dalam kitab Shahihnya dengan judul Bab Ilmu Sebelum Berkata
dan Berbuat, lalu ia membawakan firman Allah Ta’ala,
أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
selain Allah.“ (QS. Muhammad:
19)
didahulukan sebelum ia berkata-kata dan berbuat. Mengapa demikian?
Dalilnya adalah surat Muhammad ayat 19 di atas dan firman Allah Ta’ala,
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Israa’: 36)
untuk mengetahui terlebih dahulu sebelum mengikuti.
ilmu. Dia berfirman,
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)
seseorang tergelincir dalam perkataannya dan perbuatannya. Ketika seseorang
berkata tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka perkataan itu mengandung kemungkinan
benar dan bisa salah. Ia jika benar, lalu bagaimana jika salah? Maka kadar
kesalahannya tergantung yang dia bicarakan, jika yang dia bicarakan adalah
Allah, maka sangat besar sekali dosanya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ
بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا
لاَ تَعْلَمُونَ
keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar
hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan)
mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al A’raaf: 33)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
maka amalan itu terolak.” (HR. Muslim)
orang-orang Nasrani sehingga mereka disebut adh dhaallin (orang-orang
yang sesat).
Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka; bukan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat.” (QS. Al
Faatihah : 6-7)
dan beramal, yaitu:
Orang yang mendahulukan
ilmu lalu mengamalkannya, merekalah orang yang ditunjuki Allah Subhaanahu wa Ta’ala
ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan nikmat kepada
mereka (para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh).
Orang yang mempelajari
ilmu namun tidak mau mengamalkannya. Ini adalah jalan orang-orang yang dimurkai,
seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang yang seperti mereka.
Orang-orang yang
mendahulukan amal namun tidak memiliki
ilmu. Ini adalah jalan orang-orang yang sesat seperti orang-orang Nasrani dan orang-orang
yang seperti mereka.
utama. Ia merupakan bukti kebaikan pada seseorang. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي
Dia akan memahamkan orang itu terhadap agama. Saya hanya sekedar menyebarkan
ilmu, dan Allah yang memberikan (ilmu dan pemahaman).” (HR. Bukhari dan Muslim)
mendapatkan ilmu yang bermanfaat yang dengannya ia bisa beramal saleh. Allah
Ta’ala berfirman,
(Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan dinul haq.” (QS. Ash
Shaff : 9)
dinul haq adalah amal yang saleh.
sallam untuk meminta kepada-Nya penambahan ilmu sebagaimana firman-Nya,
114)
ilmu, karena Allah tidaklah menyuruh Nabi-Nya meminta tambahan dalam sesuatu
selain dalam hal ilmu.”
amalan, ia harus mengetahui cara pelaksanaannya agar amal itu dapat dilakukan
dengan benar sehingga memperoleh hasil yang diharapkan. Maka bagaimana
seseorang bisa melakukan ibadah tanpa ada ilmu? Tentu tidak bisa.
menyempatkan mempelajari tatacaranya agar pekerjaan yang dilakukannya benar
sehingga memperoleh hasil, namun untuk urusan akhirat ia tidak memperhatikannya
padahal ia merupakan penentu surga dan nerakanya; ia tidak mempelajari
bagaimana ibadah yang benar, bagaimana wudhu yang benar, shalat yang benar,
puasa yang benar, haji yang benar, dan sebagainya?
yang bersandar kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih
dan para ulama yang mengikuti jejak mereka, kemudian dibantu dengan
melihat kita-kitab tafsir, syarah-syarah hadits, kitab-kitab fiqh, kitab-kitab
bahasa Arab dan sebagainya. Semua ini adalah cara untuk memahami keduannya (Al
Qur’an dan As Sunnah). Bacalah kitab-kitab yang bermanfaat, datangilah para
ulama, dan bertanyalah kepada para ulama dalam hal-hal yang musykil atau belum
jelas bagimu.
semakin bertambah pula ilmumu, ada kata-kata hikmah,
kepadanya ilmu yang sebelumnya tidak diketahuinya.”
Allah Ta’ala,
شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dia akan mengajarkan kamu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.
Al Baqarah: 282)
pantas diluangkan waktu untuk mencarinya dan dikejar oleh orang-orang yang
berakal; karena dengan ilmu hati akan menjadi hidup dan amal menjadi baik.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala memuji mereka yang berilmu dan mengamalkan ilmunya,
Dia berfirman,
يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)
الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadilah: 11)
Ta’ala menyebutkan keutamaan orang-orang yang berilmu, lalu Dia memberitahukan,
bahwa Dia mengetahui apa yang kita kerjakan. Hal ini untuk menunjukkan, bahwa
ilmu hendaknya disertai amal, dan hendaknya itu semua didasari iman dan
pengawasan Allah Subhaanahu wa Ta’ala (Lihat bagian mukadimah kitab Al
Mulakhkhash Al Fiqhi karya Syaikh Shalih Al Fauzan).
Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Al Ushul Ats
Tsalatsah (M. Bin Abdul Wahhab), Al Mulakhkhash Al Fiqhi (Syaikh Shalih
bin Fauzan Al Fauzan), Al Fiqhul Muyassar Fii Dhau’il Kitab was Sunnah (Tim
Ahli Fiqh, KSA) dan lain-lain.







































