Kunci-Kunci Rezeki
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
semua yakin, bahwa Allah yang memberikan rezeki; tidak selain-Nya, Dia
berfirman,
suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya,”
(Terj. QS. Huud: 6)
bergantung dan memohon rezeki.
memerintahkan kita untuk mencarinya dan tidak tinggal diam bermalas-malasan,
Dia berfirman.
مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”
(Terj. QS. Al Jumu’ah: 6)
rezeki dari-Nya.
Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada kaumnya,
وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً
Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun—Niscaya Dia akan
mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya)
sungai-sungai untukmu. (Terj. QS. Nuh: 10-11)
dan tobat adalah salah satu di antara kunci rezeki.
kunci rezeki juga adalah:
Takwa (menjalankan
perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya).
Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (solusi)—Dan memberinya rezeki dari
arah yang tidak disangka-sangkanya. (Terj. QS. Ath Thalaq: 2-3)
satu pintu rezeki, sebaliknya maksiat adalah salah satu sebab terhalangnya
mendapatkan rezeki.
Tawakkal kepada
Allah.
Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (Terj. QS. Ath
Thalaq: 3)
أَنَّكُمْ
كُنْتُمْ
تَتَوَكَّلُوْنَ
عَلىَ اللّهِ
حَقَّ تَوَكُّلِهِ
لَرُزِقْتُمْ
كَمَا تُرْزَقُ
الطَّيْرُ
تَغْدُوْ
خِمَاصًا
وَتَرُوْحُ
بِطَانًا
sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu
akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi dalam
keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, ia
mengatakan, “Hadits hasan shahih.”)
yang dipahami oleh orang-orang yang jahil (tidak mengerti) terhadap Islam, yang
mengartikan bahwa tawakkal adalah membuang jauh-jauh sebab dan tidak beramal
serta ridha dan rela terhadap kerendahan. Bahkan tidak demikian. Tawakkal
adalah sebuah ketaatan kepada Allah dengan menjalankan sebab.
Oleh karena itu, seseorang tidaklah berharap untuk memperoleh sesuatu kecuali
menjalankan sebab-sebabnya. Adapun tercapai atau tidaknya dia serahkan kepada
Allah Subhaanahu wa Ta’aala sambil berharap agar yang dicita-citakannya
tercapai, karena hanya Dia-lah yang mampu mendatangkan hasilnya. Betapa banyak
orang yang menjalankan sebab, namun ternyata tidak memperoleh hasil apa-apa.
Menyempatkan diri
untuk beribadah
wajib. Baik yang berupa ibadah lisan seperti dzikr, membaca Al Qur’an dan
mengajarkannya maupun yang berupa perbuatan seperti shalat-shalat sunah dsb.
beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku
akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh
dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan
memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Al
Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)
Berhajji dan
berumrah
بَيْنَ الْحَجِّ
وَاْلعُمْرَةِ
فَإِنَّهُمَا
يَنْفِيَانِ
الْفَقْرَ
وَالذُّنُوْبَ
كَمَا يَنْفِي
اْلكِيْرُ
خَبَثَ الْحَدِيْدِ
وَالذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ
وَلَيْسَ
لِلْحَجَّةِ
الْمَبْرُوْرَةِ
ثَوَابٌ إِلاَّ
الْجَنَّةُ
hajji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa.
Sebagaimana kir menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Haji yang mabrur
tidak ada balasannya selain surga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu
Hibban, Syaikh Al Albani menghasankannya dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)
Menyambung tali
silaturrahim
أََحَبَّ
أَنْ يُبْسَطَ
عَلَيْهِ
فِي رِزْقِهِ,
وَأَنْ يُنْسَأَ
لَهُ فِي
أَثَرِهِ,
فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ
umurnya maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Bukhari(
untuk sikap ihsan (berbuat baik) kepada kerabat yang memiliki hubungan baik
karena nasab (keturunan) maupun karena ash-har (perkawinan), bersikap lemah
lembut kepada mereka, memberikan kebaikan dan menghindarkan keburukan
semampunya yang menimpa mereka, serta memperhatikan keadaan mereka baik agama
maupun dunianya.
Berinfak
الرَّازِقِينَ
Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Terj.
QS. Saba’: 39)
اللَّهُ أَنْفِقْ
يَا ابْنَ
آدَمَ أُنْفِقْ
عَلَيْكَ
Aku akan berinfak kepadamu.” (HR. Bukhari)
ada satu hari pun, di mana seorang hamba melalui pagi harinya kecuali dua
malaikat turun, yang satu berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang
yang berinfak”, sedangkan malaikat yang satu lagi berkata, “Ya Allah,
timpakanlah kebinasaan kepada orang yang bakhil.” (Muttafaq ‘alaih)
نَقَصَتْ
صَدَقَةٌ
مِنْ مَالٍ
وَمَا زَادَ
اللَّهُ عَبْدًا
بِعَفْوٍ
إِلَّا عِزًّا
وَمَا تَوَاضَعَ
أَحَدٌ لِلَّهِ
إِلَّا رَفَعَهُ
اللَّهُ
tidaklah mengurangi harta, dan Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang sering
memaafkan kecuali kemuliaan. Dan seseorang tidaklah bertawadhu’ karena Allah,
kecuali Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)
Berbuat baik kepada
kaum dhuafa (kaum fakir-miskin)
تُنْصَرُونَ
وَتُرْزَقُونَ
إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ
kamu dibela dan diberi rezeki karena (berbuat ihsan) kepada kaum dhuafa kamu.” (HR.
Bukhari)
Hijrah
يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً
niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki
yang banyak.” (Terj.
QS. An Nisaa’: 100)
dibenci Allah menunju hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Rasulullah
shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَلِمَ
الْمُسْلِمُونَ
مِنْ لِسَانِهِ
وَيَدِهِ
، وَالْمُهَاجِرُ
مَنْ هَجَرَ
مَا نَهَى
اللَّهُ عَنْهُ
»
muslim adalah orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari mengganggu
muslim lainnya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari
perbuatan yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)
kafir (negeri tempat merajalelanya kesyirkkan atau syi’ar-syi’ar kekufuran)
dan dirinya tidak mampu menjalankan
ajaran-ajaran Islam di
menuju negeri Islam (negeri di mana syi’ar Islam tampak seperti azan, shalat
berjama’ah, shalat Jum’at dan shalat hari raya). Kecuali jika ia tidak mampu
berhijrah atau ia berniat berdakwah di
maka tidak mengapa tinggal di negeri kafir.
Bersyukur terhadap
nikmat Allah
وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih.” (Terj. QS. Ibrahim: 7)
yang didapatkan berasal dari-Nya, memuji-Nya, dan menggunakan nikmat itu untuk
ketaatan kepada-Nya.
Membantu penuntul
ilmu syar’i.
Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَخَوَانِ
عَلَى عَهْدِ
رَسُوْلِ
اللّهِ صَلَّى
اللّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَأْتِى النَّبِيَّ
صَلَّى اللّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَالْآخَرُ
يَحْتَرِفُ،
فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ
أَخَاهُ إِلىَ
النَّبِيِّ
صَلَّى اللّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
فَقَالَ: لَعَلَّكَ
تُرْزَقُ
بِهِ
di zaman Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam, yang satu datang kepada
Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam (untuk belajar), sedangkan yang satunya
lagi bekerja. Maka orang yang bekerja ini mengeluhkan kepada Nabi shallalllahu
‘alaihi wa sallam tentang saudaranya. Beliau pun bersabda, “Mungkin saja
kamu diberi rezeki karenanya.” (Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani).
Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraaji’: Tafsir
Al Qur’anil ‘Azhim (Ibnu Katsir), Mafaatiihur rizq (Dr. Fadhl
Ilaahiy), Minhaajul Muslim (Abu Bakar Al Jaza’iri), Subulus Salam
(Imam Ash Shan’ani), dll.





































