Risalah
Taubat (2)
dari kitab “Uriidu An Atuuba wa laakin” karya Syaikh M. bin Shalih Al
Munajjid oleh Marwan bin Musa)
menghilangkan benda-benda haram agar tidak kembali lagi berbuat maksiat.
keras, alat musik, gambar porno, buku-buku yang mengisahkan kisah-kisah porno,
patung dsb.
mencari kawan yang membantunya menjalankan ketaatan atau membantunya tetap
istiqamah.
ta’lim dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, tidak memberikan kesempatan kepada
setan untuk mengingatkannya kepada masa-masa yang telah berlalu.
memperhatikan badannya.
yang haram dan untuk perbuatan yang haram, maka ia bersihkan dengan makanan
yang halal dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
tobat tersebut dilakukan sebelum kiamat kecil yaitu ketika nyawa di tenggorokan
dan sebelum tibanya tanda kiamat besar yaitu matahari terbit dari barat.
‘alaihi wa sallam,
اِلىَ اللهِ
قَبْلَ اَنْ
يُغَرْغِرَ
قَبِلَ اللهُ
مِنْهُ
siapa yang bertobat kepada Allah sebelum nayawanya di kerongkongan, maka Allah
akan menerima tobatnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Shahiihul Jaami’ 6132).
قَبْلَ أَنْ
تَطْلُعَ
الشَّمْسُ
مِنْ مَغْرِبِهَا
تَابَ اللَّهُ
عَلَيْهِ
siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan
menerima tobatnya.” (HR. Muslim)
telah lalu
memang ingin bertobat, namun apa mungkin Allah akan mengampuni dosaku yang
begitu banyaknya, diriku masih ragu. Kalau sekiranya aku mengetahui bahwa Allah
mengampuniku, tentu aku akan bertobat.”
yang menimpa anda, telah menimpa pula kepada orang-orang sebelum anda dari
kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perhatikanlah
kedua hadits di bawah ini agar hilang perasaan tersebut,
Imam Muslim meriwayatkan tentang masuk Islamnya ‘Amr bin ‘Aash radhiyallahu
‘anhu, ia mengatakan, “Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku
datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku katakan, “Bentangkanlah
tanganmu, agar aku membaiatmu,” maka Beliau membentangkan tangannya, namun aku
malah menggenggam tanganku, Beliau pun bertanya, “
“Aku ingin membuat syarat.” Beliau bertanya, “Syarat apa?” ‘Amr menjawab,
“Yaitu agar Dia mengampuniku.” Beliau menjawab:
أَنَّ الإِسْلاَمَ
يَهْدِمُ
مَا كَانَ
قَبْلَهُ
وَأَنَّ الْهِجْرَةَ
تَهْدِمُ
مَا كَانَ
قَبْلَهَا
وَأَنَّ الْحَجَّ
يَهْدِمُ
مَا كَانَ
قَبْلَهُ
» .
kamu tidak mengetahui, bahwa Islam menghapuskan dosa-dosa yang lalu, hijrah
juga menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu, dan hajji juga menghapuskan
dosa-dosa yang telah lalu?”
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada orang-orang musyrik yang sering melakukan
pembunuhan dan sering melakukan perbuatan zina, lalu mereka datang kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya kata-kata
dan seruanmu sangat bagus, kalau sekiranya engkau mau memberitahukan kepada
kami sesuatu yang dapat menghapuskan amal perbuatan kami (tentu kami akan
mengikuti),” maka turunlah ayat,
يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ
وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً
orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar,
juga tidak berzina. Barang siapa yang melakukan perbuatan (buruk) itu, niscaya
Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (QS. Al Furqan: 68)
تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az
Zumar: 53)
banyak dari ampunan yang Allah siapkan, ini tidak lain timbul dari beberapa hal
berikut ini:
Kurangnya
rasa yakin seorang hamba terhadap luasnya rahmat Allah dan ampunan-Nya.
Kurangnya
iman bahwa Allah berkuasa mengampuni semua dosa.
Hilangnya
amalan hati yang sangat penting, yaitu rajaa’ (rasa harap).
Tidak
mengetahui tobat itu sendiri, dan bahwa ia dapat menghapus dosa-dosa.
perhatikanlah ayat dan hadits di bawah ini:
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A’raaf: 156)
Dalam hadits Qudsiy disebutkan,
مَنْ عَلِمَ
اَنِّي ذُوْ
قُدْرَةٍ
عَلىَ مَغْفِرَةِ
الذُّنُوْبِ
غَفَرْتُ
لَهُ وَلاَ
اُبَالِي
مَالَمْ يُشْرِكْ
بِيْ شَيْئًا
mengetahui bahwa Aku dapat menghapuskan dosa-dosa, niscaya Aku akan
mengampuninya, Aku tidak peduli (banyaknya dosa yang dikerjakan) selama dia
tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu.” (HR. Thabrani dalam Al Kabirr dan Hakim,
Shahiihul Jaami’ 4330)
dalam hadits Qudsiy juga disebutkan,
تَعَالَى
: يَا ابْنَ
آدَمَ، إِنَّكَ
مَا دَعَوْتَنِي
وَرَجَوْتَنِي
غَفَرْتُ
لَكَ عَلَى
مَاكَانَ
مِنْكَ وَلاَ
أُبَالِي،
يَا ابْنَ
آدَمَ لَوْ
بَلَغَتْ
ذُنُوْبُكَ
عَنَانَ السَّماَءِ
ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي
غَفَرْتُ
لَكَ، يَا
ابْنَ آدَمَ،
إِنَّكَ لَوْ
أَتَيْتَنِي
بِقُرَابِ
اْلأَرْضِ
خَطاَياَ
ثُمَّ لَقِيْتَنِي
لاَ تُشْرِكْ
بِي شَيْئاً
لأَتَيْتُكَ
بِقُرَابِهَا
مَغْفِرَةً
kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu. Aku tidak peduli
(betapa pun banyak dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam! Seandainya
dosa-dosamu setinggi awan di langit, kemudian kamu meminta ampunan kepada-Ku
niscaya akan Aku ampuni. Wahai anak Adam! Jika kamu datang kepada-Ku dengan
kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menemui-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku
dengan sesuatu, maka Aku akan menndatangkan kepadamu ampunan sepenuh itu pula.“
(HR. Tirmidzi, ia mengatakan, “Hasan shahih”)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِنَ الذَّنْبِ
كَمَنْ لاَ
ذَنْبَ لَهُ
yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu
Majah, Shahihul Jaami’ 3008)
يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ
وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً– يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ
مُهَاناً – إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً
صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ
اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar,
juga tidak berzina. Barang siapa yang melakukan perbuatan (buruk) itu, niscaya
Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)—(yakni) akan dilipat gandakan azab
untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan
terhina—Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal
saleh; maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqan: 68-70)
diganti Allah dengan kebajikan” para ulama menjelaskan, bahwa diganti Allah
dengan kebajikan ini ada dua macam:
Diganti
sifatnya yang buruk dengan sifatnya yang baik, misalnya syirk diganti dengan
iman, zina dengan rasa ‘iffah (menjaga kehormatan), dusta dengan sifat jujur,
khianat diganti dengan amanah, dst.
Diganti
keburukan-keburukan yang dikerjakannya dengan kebaikan-kebaikan pada hari
kiamat.
banyak, bisa juga setara dengan keburukan yang dikerjakan dan bisa juga sedikit
tergantung kejujuran orang yang bertobat dan sempurnanya toubat yang dilakukan.
melebihi ini?
bahwa ada seorang yang tua renta, alisnya berguguran di kedua matanya, sambil
bersandar dengan sebuah tongkat, lalu berdiri di hadapan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seeorang yang
telah mengerjakan semua dosa, tidak menyisakan sedikit pun, dikerjakannya dosa
yang kecil dan besar tanpa terkecuali, apakah masih bisa diterima tobatnya?”
Beliau bertanya, “Apakah anda memeluk Islam?” Ia menjawab, “Saya telah bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan engkau adalah
utusan Allah.”
الْخَيْرَاتِ
وَتَتْرُكُ
السَّيِّئَاتِ
فَيَجْعَلُهُنَّ
اللهُ لَكَ
خَيْرَاتِ
كُلِّهِنَّ
kerjakan kebaikan dan kamu tinggalkan keburukan, niscaya Allah akan
menggantinya dengan kebaikan semua.”
juga) pelanggaran yang aku lakukan dan perbuatan jahatku?” Beliau menjawab,
“Ya.”
Akbar”, dan tetap terus bertakbir sampai pergi dan tidak terlihat lagi.
ketika terjatuh ke dalam perbuatan dosa
dalam perbuatan dosa setelah meninggalkan perbuatan itu melakukan dua amal:
Amal hati,
yaitu dengan rasa penyesalan dan berazm (berniat keras) untuk tidak mengulangi.
Amal
anggota badan, yaitu mengiringinya dengan perbuatan
baik, misalnya melakukan shalat tobat.
ثُمَّ يُصَلِّي (ركعتين) ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ ثُمَّ
قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ
أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ
يَعْلَمُونَ
ada seorang pun yang melakukan perbuatan dosa, lalu bangun dan berwudhu’,
kemudian shalat (dua rakaat), dan meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah
akan mengampuninya.” Kemudian Beliau membacakan ayat, “Dan orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka
ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi
yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135). (HR.
Para penulis kitab Sunan, Shahih At Targhiib wat Tarhib 1/284)
disebutkan tentang sifat shalat dua rakaat yang dapat menghapuskan dosa-dosa,
inilah kesimpulannya:
memperbagus wudhu’nya,
berguguran bersama air dari anggota wudhu’ yang dibasuhnya berdasarkan riwayat
yang lain, dan termasuk memperbagus wudhunya adalah membaca basmalah
“Bismillah” sebelum berwudhu’ dan membaca doa setelahnya.
dihapuskan dan dia akan dimasukkan ke dalam surga. (lihat Shahih At Targhib
wat Tarhib 1/94-95).
Bersambung…
mengatakan, “Diriwayatkan oleh Thabrani, Al Bazzar juga meriwayatkan sama seperti itu, dan para perawi Al Bazzar
adalah para perawi kitab shahih selain Muhammad bin Harun Abu Nasyiithah, ia
adalah tsiqah [Al Majma’ 1/36], Al Mundziriy dalam At Targhib
mengatakan, “Isnadnya jayyid dan kuat.” [4/113] dan Ibnu Hajar dalam Al
‘Ishaabah 4/149 mengatakan, “Hadits tersebut sesuai syarat shahih”, biografi
syathab.





































