الله الرحمن الرحيم
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
tauhid dan bahaya syirk. Kami kumpulkan hadits-haditsnya agar kita dapat
mencapai kesempurnaan tauhid dan terhindar dari syirk. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan
penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
TERHADAP KUBUR ORANG-ORANG SALEH DAPAT MENJADIKAN KUBURAN ITU SEBAGAI
SESEMBAHAN YANG DISEMBAH SELAIN ALLAH SUBHAANAHU WA TA’ALA
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا
يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ
أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
‘Athaa’ bin Yasar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya
Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah.” Sangat
besar kemurkaan Allah kepada orang-orang yang menjadikan kubur para nabi mereka
sebagai masjid.” (HR. Malik dari ‘Atha’ bin Yasar secara mursal, Ibnu
Abi Syaibah dari Zaid bin Aslam secara mursal, dan dimaushulkan oleh
Imam Ahmad dalam Al Musnad (2/246) dari hadits Abu Hurairah serta
dimaushulkan pula oleh Al Bazzar (440-Kasyful Astar) dari hadits Abu
Sa’id Al Khudri. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Tahdziirussaajid
hal. 18-19)
ILMU NUJUM
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنْ النُّجُومِ اقْتَبَسَ
شُعْبَةً مِنْ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu nujum[i],
maka sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian ilmu sihir. Semakin bertambah
(ia mempelajari ilmu nujum) semakin bertambah pula (dosanya).” (HR.
Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul
Jaami’ no. 6074)
BERTANYA SESUATU KEPADA DUKUN DAN PARANORMAL MESKIPUN TIDAK MEMBENARKAN
النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ
شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً » .
sebagian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam Beliau bersabda, “Barang siapa mendatangi paranormal, lalu ia
bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama empat
puluh malam.” (HR. Muslim)
UCAPAN DUKUN DAN PARANORMAL MERUPAKAN KEKUFURAN
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا
أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى
مُحَمَّدٍ
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Barang siapa yang menggauli wanita yang haidh atau menggauli
wanita di duburnya atau mendatangi dukun dan membenarkan kata-katanya, maka ia
telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Abu Dawud dan
Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwaa’
(2006))
NUSYRAH
MENYEMBUHKAN ORANG YANG TERKENA SIHIR DENGAN MANTRA DAN JAMPI-JAMPI)
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النُّشْرَةِ فَقَالَ هُوَ مِنْ
عَمَلِ الشَّيْطَانِ
Jabir bin Abdullah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
ditanya tentang nusyrah?” Beliau menjawab, “Perbuatan itu termasuk amal setan[ii].”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abi
Dawud (3868), Al Misykaat (4553))
THIYARAH[iii]
SIAL DENGAN SESUATU)
الله عليه وسلم قَالَ :« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ
صَفَرَ » . زَادَ مُسْلِمٌ:
(وَلاَ نَوْءَ، وَلاَ غُوْلَ).
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau
bersabda, “Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya)[iv],
tidak ada thiyarah, tidak ada (kesialan dari) burung hantu[v]
dan tidak ada Shafar[vi].”
(HR. Bukhari dan Muslim, Muslim menambahkan, “Tidak ada Nau’[vii]
dan tidak ada Ghuul[viii].”)
FA’L
OPTIMIS TERHADAP SESUATU)
الله عليه وسلم يَقُولُ : « لاَ طِيَرَةَ ، وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ » . قَالُوا :
وَمَا الْفَأْلُ ؟ قَالَ :« الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ »
Abu Hurairah ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tidak ada thiyarah, dan yang baik adalah fa’il.”
didengar oleh salah seorang di antara kamu[ix].”
(HR. Bukhari dan Muslim)
BAHWA THIYARAH TERMASUK SYIRK
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
Abdullah bin Mas’ud, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau
bersabda, “Thiyarah itu syirk, thiyarah itu syirk,” (Beliau mengucapkan)
sebanyak tiga kali, “Tidak ada seorang pun di antara kita (kecuali terdapat
perasaan itu), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah,
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah (3538), Ghaayatul
Maram (303) dan Ash Shahiihah (430))
(PELEBUR) DOSA THIYARAH
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ
اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ
غَيْرُكَ
‘Amr ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang
siapa yang ditahan keperluannya karena thiyarah (merasa sial dengan sesuatu),
maka ia telah berbuat syirk.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa
kaffaratnya?” Beliau menjawab, “Yaitu salah seorang di antara mereka
mengucapkan, “Allahumma…dst. (artinya: Ya Allah, tidak ada kebaikan
kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada nasib sial kecuali yang Engkau tentukan dan
tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad, Al Haitsami
berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani, namun di sana terdapat Ibnu
Lahii’ah, dan haditsnya hasan namun padanya
terdapat kelemahan, sedangkan para perawi yang lain adalah tsiqah.”
Syaikh Al Albani mengomentari perkataan Al Haitsami dalam Silsilah Ash
Shahiihah, “Kelemahan yang ada pada hadits Ibnu Lahii’ah, yaitu pada selain
riwayat para ‘Abaadilah (yang bernama Abdullah) darinya, karena jika tidak
begitu, hadits mereka semua (para ‘abaadilah) adalah shahih sebagaimana telah
ditahqiq oleh para Ahli ilmu dalam (membicarakan) biografinya, dan di antaranya
adalah Abdullah bin Wahb, dimana ia telah meriwayatkan darinya sebagaimana yang
telah anda lihat…dst.” (lihat Ash Shahiihah (1065)).
wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Kitabut Tauhid (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab), Fathul
Majid (Abdurrahman bin Hasan), Maktabah Syamilah, Mausu’ah Haditsiyyah
Mushaghgharah (Markaz Nurul Islam), dll.
dua:
bintang, peredarannya, posisinya, dan ukurannya. Ini disebut juga ilmu falak.
Ilmu ini tidak mengapa dipelajari dan dipraktekkan.
ruhani, dimana ilmu ini disangka dapat mengetahui ruhani bintang,
pengaruhnya di bumi dan golongan orang yang mendapatkan penyakit, perang,
kesulitan, kelapangan, kematian dan kehidupan, kebahagiaan dan kesengsaraan
antara suami-istri ketika dijalin pernikahannya saat berkaitan dengan bintang
ini dengan itu. Di antaranya ada yang mereka namai dengan thaali’
(muncul) dan mereka membuatkan jadwal terhadap kejadian yang akan terjadi dalam
setahun, baik kejadian umum maupun khusus. Ini termasuk sihir, menggunakan
pelayanan setan dan termasuk berkata tentang Allah tanpa ilmu (Lihat Ta’liq
terhadap Fat-hul Majid hal. 348 cet. Daarul Fikri). Termasuk dalam hal ini
juga adalah zodiak.
berkata, “Nusyrah adalah melepaskan sihir dari orang yang terkena sihir, ia
terbagi dua: Pertama, melepaskan dengan menggunakan sihir yang serupa,
dan ini termasuk amal setan. Dibawa ke sanalah maksud ucapan Al Hasan, lalu
yang melakukan nusyrah dan orang yang hendak disembuhkan dengan nusyrah
mendekatkan diri kepada setan dengan apa yang setan sukai sehingga perbuatan
setan itu gagal memberi pengaruh terhadap orang yang terkena sihir itu. Kedua,
penyembuhan dengan menggunakan ruqyah dan ayat-ayat yang
berisikan meminta perlindungan (kepada Allah), juga obat-obatan dan doa-doa
yang diperbolehkan. Cara ini hukumnya boleh.”
(thiyarah) adalah bahwa orang-orang Jahiliyyah apabila melakukan suatu
keperluan bersandar kepada burung; jika dilihatnya burung itu terbang ke kanan,
maka ia berfirasat baik dan melanjutkan maksudnya, tetapi apabila dia melihat
burung itu terbang ke kiri, maka dia merasa sial dengannya dan pulang (tidak
melanjutkan keinginannya).
yang berbunyi, “Larilah kamu dari orang yang berpenyakit kusta
sebagaimana kamu lari dari singa.” (HR. Bukhari). Sebagian ulama
menjama’ (menggabung) antara hadits ini dengan hadits di atas, yang
kesimpulannya, bahwa tidak ada penyakit yang menular sendiri. Adapun perintah
melarikan diri dari orang yang berpenyakit kusta adalah termasuk bagian saddudz
dzari’ah (menutup celah) agar orang yang bergaul dengan orang yang
berpenyakit kusta itu tidak terkena penyakit kusta karena taqdir (bukan karena
penyakit itu menular sendiri), sehingga ia menyangka bahwa hal itu akibat dari
bergaul dengan orang yang berpenyakit kusta itu, ia pun beranggapan bahwa penyakit menular itu ada
dan akhirnya ia jatuh ke dalam dosa.
berkata, “Mereka (orang-orang Jahiliyyah) merasa sial karena burung hantu yang
hinggap di rumah salah seorang di antara mereka.”
dengan bulan Shafar, demikian pula merasa sial dengan hari tertentu dan tanggal
tertentu.
turunnya hujan karena bintang ini dan itu, padahal hujan turun karena karunia
Allah dan rahmat-Nya.
berkata, “Ghuul adalah satuan dari ghiilaan (jama’ ghuul), yaitu salah satu
jenis jin dan setan, dimana orang-orang Arab menyangka bahwa ghuul terbayang
oleh manusia di
sahara, berganti warna dengan bentuk yang bermacam-macam menyesatkan mereka di
jalan dan membinasakan mereka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
meniadakan dan membatalkannya.”
fa’l karena ia merasa optimis dan berharap kepada Allah ketika di hadapannya
ada sebab yang lemah atau kuat untuk tercapainya cita-citanya. Sedangkan
thiyarah adalah buruk, karena di
terdapat sikap bersangka buruk kepada Allah dan merasa akan mendapatkan
musibah. Contoh tafaa’ul (optimis) adalah seorang yang sakit, lalu ia mendengar
orang lain berkata kepadanya, “Wahai orang yang sehat,” atau seorang yang
sedang mencari barang yang hilang, lalu dia mendengar orang lain berkata, “Wahai
orang yang menemukan barangnya yang hilang,” sehingga ia pun merasakan dalam
pikirannya bahwa dirinya akan sehat dari sakitnya dan bahwa barang miliknya
yang hilang akan ditemukannya, itulah maksud, “Kata-kata
yang baik yang didengar oleh salah seorang di antara kamu.”




































