الله الرحمن الرحيم
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
penyakit hati, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini
ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
hati yang membantu hati agar tetap sehat
- Menghiasi
diri dengan sikap sabar
tetap terus menjalankan perintah Allah, tetap terus menjauhi larangan Allah,
dan menerima taqdir Allah yang buruk dengan tidak keluh kesah dan marah-marah
(tidak menerima).
wa Ta’ala berfirman,
الصَّابِرِينَ — الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ
وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ — أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ
وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
kepada orang-orang yang sabar.–(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa
musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun[i]“.–Mereka
Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Terj. QS. Al Baqarah: 155-157)
بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. “ (QS. At Taghabun: 11)
Allah Ta’ala, “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah,…dst.”
Alqamah berkata, “Orang itu adalah yang mendapatkan musibah, ia mengetahui
bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah, maka ia pun ridha dan
menerima.”
- Bersyukur
mengakui nikmat Allah dengan hatinya, menyebut nikmat itu dengan lisannya, dan
menggunakan nikmat itu untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala; bukan untuk
kemaksiatan.
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ
إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
mengagumkan urusan orang mukmin. Semua urusannya baik baginya, dan hal itu
hanya ada pada seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur,
maka hal itu baik baginya dan apabila dia mendapatkan musibah, ia bersabar; itu
pun baik baginya.” (HR. Muslim)
dikatakan kepada Abul Mughirah, “Bagaimana keadaanmu di pagi hari wahai
Abu Muhammad?” Ia menjawab, “Kami berada di pagi hari tenggelam dalam
nikmat, kurang bersyukur, Dia memperlihatkan cinta-Nya kepada kita padahal Dia
tidak membutuhkan kita, dan kita menampakkan hal-hal yang tidak Dia sukai
padahal kita membutuhkan Dia.”
Bertawakkal (Menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla)
Jalla berfirman,
عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Terj. QS. Ath Thalaq: 3)
Mencintai Allah ‘Azza wa Jalla dan mencintai Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
wa Ta’ala berfirman,
آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ
sangat cinta sekali kepada Allah.” (Terj.
QS. Al Baqarah: 165)
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
antara kamu sampai menjadikan aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang
tuanya, dan manusia semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Azza wa Jalla adalah sebab hidupnya hati, dan tidak ada kenikmatan dan
kebahagiaan kecuali dengan mencintai-Nya. Jika hati hilang dari kecintaan
kepada Allah, maka sakit yang dialami hati melebihi sakit yang dialami mata
ketika kehilangan penglihatannya, dan melebihi sakitnya telinga ketika
kehilangan pendengarannya.
tidak mencintai Allah? Padahal tidak ada satu pun nikmat yang kita peroleh
melainkan dari-Nya, Dia memberi sebelum hamba meminta, dan memberikan pemberian
melebihi permintaan hamba, Dia mensyukuri amal yang sedikit dan
mengembangkannya menjadi banyak, Dia mengampuni berbagai bentuk ketergelinciran
dan menghapusnya. Semua penduduk langit dan bumi meminta kepada-Nya; setiap
hari Dia dalam kesibukan. Dia tidak pernah bosan diminta, bahkan mencintai
mereka yang suka meminta kepada-Nya serta murka kepada yang tidak mau meminta
kepada-Nya. Bagaimana hati tidak cinta kepada-Nya? Padahal tidak ada yang
mendatangkan kebaikan selain Dia, tidak ada yang mengabulkan doa selain Dia,
Dia memaafkan ketergelinciran, mengampuni kesalahan, menutupi aurat,
menghilangkan derita, menyayangi hamba melebihi sayangnya seorang ibu kepada
anaknya, menolong yang membutuhkan bantuan serta memberikan harapan. Oleh
karena itu, Dia berhak disebut, berhak dipuji, berhak disyukuri, dan berhak
diibadahi.
Ridha dengan takdir Allah
dalam menerima takdir Allah yang buruk ada dua tingkatan; tingkatan ridha dan
tingkatan sabar. Tingkatan ridha lebih tinggi daripada sabar, dan sabar wajib
dimiliki setiap mukmin ketika mendapatkan musibah.
sabar dengan ridha adalah, bahwa sabar berarti menahan diri dari sikap
marah dan keluh kesah serta berangan-angan hilangnya derita itu, sedangkan ridha
berarti lapang dadanya menerima musibah itu serta tidak berangan-angan hilangnya
derita itu.
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ
فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَط
tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum,
maka Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka dia mendapatkan
keridhaan-Nya, dan barang siapa yang murka, maka dia mendapatkan
kemurkaan-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan dihasankan oleh As
Suyuthiy dan Al Albani).
Berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla
wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)
berkata, “Termasuk tertipu sekali menurutku adalah orang yang
terus-menerus berbuat dosa namun berharap dimaafkan tanpa ada rasa menyesal.
Berharap dekat dengan Allah namun tidak menjalankan ketaatan, menunggu hasil
tanaman surga dengan menabur benih neraka, menginginkan tempat orang-orang yang
taat dengan berbuat maksiat, menanti balasan tanpa beramal, serta
berangan-angan kepada Allah Ta’ala dengan sikap melampaui batas.”
Takut kepada Allah
adalah cemeti Allah yang dengannya Allah mengarahkan hamba-hamba-Nya kepada
ilmu dan amal agar mereka memperoleh kedekatan dengan Allah Ta’ala.
Jalla berfirman,
اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari azab
Allah kecuali orang-orang yang merugi.”
(QS. Al A’raaf: 99)
kurang biasanya menjadikan seorang hamba tetap lalai dan berani berbuat
maksiat, sedangkan takut yang berlebihan biasanya menjadikan seseorang berputus
asa.
Hakim berkata, “Barang siapa yang takut kepada sesuatu, niscaya ia akan
melarikan diri darinya. Tetapi barang siapa yang takut kepada Allah, maka dia
akan melarikan diri kepada Allah.”
berkata, “Tidaklah seorang mukmin mengerjakan keburukan melainkan akan
diiringi oleh dua perisai; takut kepada siksa dan berharap ampunan.”
berkata, “Ketahuilah, bahwa yang dipilih untuk seorang hamba ketika
sehatnya adalah memiliki rasa takut dan harap, dimana rasa takut dan harapnya
seimbang. Tetapi ketika sakit, maka dikhususkan sikap berharap.”
Tobat
berkata, “Tobat wajib pada setiap dosa. Jika maksiatnya hanya terkait
antara hamba dengan Allah Ta’ala; tidak terkait hak manusia, maka syaratnya
tiga: (1) Berhenti dari maksiat itu, (2) Menyesal karena melakukannya, (3)
Berniat keras untuk tidak mengulangi lagi selamanya. Jika salah satu syarat ini
tidak ada, maka tidak sah tobatnya. Dan
jika maksiatnya terkait dengan hak manusia, maka syaratnya ada empat, yaitu
tiga yang di atas dan (ditambah) dengan melepaskan diri dari hak pemiliknya.
Jika berupa harta atau semisalnya, maka barang itu dikembalikan. Jika berupa
had qadzaf (menuduh) dan semisalnya, maka dia memberikan kesempatan kepadanya
menegakkannya atau meminta maafnya. Dan jika berupa ghibah, maka dia meminta
kepadanya agar dihalalakan.” (Dari kitab Riyadhush Shalihin, bab
Taubat).
wa Ta’ala berfirman,
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
wahai kaum mukmin kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31)
awal dan akhirnya. Awalnya adalah kembali kepada Allah dengan menempuh
jalan-Nya yang lurus, sedangkan akhirnya adalah kembali kepada-Nya di akhirat
dan menempuh jalan yang telah dibentangkan-Nya menuju surga-Nya. Barang siapa
yang kembali kepada Allah di dunia ini dengan bertobat, maka dia akan kembali
kepada-Nya di akhirat dengan mendapatkan pahala. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat
yang sebenar-benarnya.”
(QS. Al Furqan: 71)
(Penutup)
dari Syaqiq Al Balkhiy rahimahullah, bahwa ia pernah berkata kepada Hatim
rahimahullah, “Engkau telah menemaniku beberapa lama, lalu pelajaran apa
yang dapat kamu ambil daripadanya?” Hatim menjawab, “Ada delapan
pelajaran: yaitu,
masing-masingnya memiliki sesuatu yang disukainya. Tetapi ketika ia telah
sampai ke kubur, maka sesuatu yang disukainya itu ditinggalkan, maka sekarang
kesukaanku adalah amal baikku agar ia menemaniku di kubur.
nafsunya,” (Terj. QS. An Nazi’at: 40), maka aku tekan diriku untuk
menolak keinginan hawa nafsu sehingga nafsuku berada di atas ketaatan kepada
Allah Ta’ala.
berharga, ia selalu menjaganya, lalu aku perhatikan firman Allah Ta’ala, “Apa
yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
(Terj. QS. An Nahl: 96). Oleh karena itu, setiap kali aku memiliki barang yang
berharga, maka aku hadapkan kepada-Nya agar barang itu tetap padaku di
sisi-Nya.
harta, keturunan, dan kedudukan, padahal semua itu tidak ada artinya, maka aku
perhatikan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Terj.
QS. Al Hujurat: 13), maka aku mengerjakan ketakwaan agar aku menjadi orang yang
mulia di sisi-Nya.
aku perhatikan firman Allah Ta’ala, “Kami telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,” (Terj. QS. Az
Zukhruf: 32) maka aku tinggalkan hasad.
firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka
jadikanlah ia musuh.” (Terj. QS. Fathir: 6) maka aku meninggalkan
memusuhi mereka dan menjadikan setan saja musuh bagiku.
rezeki, lalu aku perhatikan firman Allah Ta’ala, “Dan tidak ada suatu
binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya,” (Terj.
QS. Huud: 6), maka aku sibukkan diri dengan harta-Nya dan aku tinggalkan hartaku
di sisi-Nya.
dan sehatnya badan mereka, tetapi aku hanya bertawakkal kepada Allah Ta’ala.”
Majmu’ Fatawanya menyebutkan, Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata,
menuliskan surat kepada yang lainnya dengan untaian kalimat berikut:
batinnya, Allah akan memperbaiki amalan lahiriyahnya.
hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan
sesama manusia.
akhirat, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.
Taimiyah, 7/9-10).
shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Al Qur’anul Karim, Maktabah Syamilah versi 3.45, Mausu’ah
Haditsiyyah Mushaghgharah, Tazkiyatun Nufus (Dr. Ahmad Farid, cet.
Darul Qalam, Beirut), Riyadhush Shalihin (Imam Nawawi, cet. Ar Risalah), dll.
Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali.




































![[Lirik+Terjemahan] SketxSketch – Sekai wa Okujou de Miwataseta (Dunia Yang Kau Perlihatkan Dari Atap Rumah)](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/01/TheSketchbookAlbum-ReAction.jpg?fit=400%2C400&ssl=1)
![[Lirik+Terjemahan] The Sketchbook – Startup (Memulai)](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/01/TheSketchBook-StartuoLyrics.jpg?fit=400%2C400&ssl=1)


