الله الرحمن الرحيم
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga
hari Kiamat, amma ba’du:
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ، فَكَأنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا
harinya aman, sehat badannya, dan pada sisinya ada makanan untuk hari itu, maka
seakan-akan dunia beserta segala isinya diberikan kepadanya.” (HR.
Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Al Albani)
atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada kita, bahwa
barang siapa yang keadaannya aman, badannya sehat, dan memiliki makanan untuk
hari itu, maka seakan-akan dunia beserta isinya telah diberikan kepadanya. Dari
sini kita mengetahui besarnya nikmat keamanan, besarnya nikmat kesehatan, dan
besarnya nikmat memiliki bahan pangan. Dan saat ini kita tengah merasakannya.
nikmat keamanan dicabut dari kita seperti yang dirasakan saudara-saudara kita
di beberapa negara yang hari-harinya penuh dengan perang dan pertumpahan darah,
tentu kita tidak akan merasakan ketenangan dalam hidup.
jika nikmat kesehatan itu dicabut dari kita, badan kita demam, kepala kita
pusing, fisik kita lemah, tentu nikmatnya hidup menjadi berkurang.
pula jika nikmat memiliki bahan pangan dan kecukupan dicabut dari kita sehingga
kita merasakan kelaparan dan kekurangan seperti yang dialami saudara-saudara
kita kaum muslim di Somalia dan negeri lainnya, tentu nikmatnya hidup menjadi kurang
terasa. Maka bersyukurlah kepada Allah Azza wa Jalla atas semua nikmat itu;
nikmat keamanan, nikmat kesehatan, dan nikmat kecukupan…
ورُزِقَ كَفَافًا, وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”
beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup dan diberikan oleh
Allah sifat qana’ah (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya.” (HR. Tirmidzi,
dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
itu syukur?
sebuah kata yang penuh dengan kebaikan. Ia akan menjaga nikmat itu,
mengembangkannya dan menambahkannya. Syukur maksudnya mengakui bahwa semua
nikmat yang kita rasakan berasal dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Dia
berfirman,
فَمِنَ اللّهِ
kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),” (An Nahl: 53)
janganlah kita sandarkan nikmat-nikmat itu kepada selain-Nya, seperti
menyandarkan kekayaan karena kepandaian kita dalam berbisnis, menyandarkan
kesuksesan karena kehebatan kita, menyandarkan turunnya hujan karena bintang
ini dan bintang itu, tahun ini dan tahun itu, dan lain sebagainya. Dan termasuk
tidak bersyukur adalah apa yang dilakukan sebagian orang yang tinggal di
pelosok berupa mempersembahkan sesaji ke laut atau ke tempat lainnya ketika
mereka mendapatkan kemakmuran dan mendapatkan hasil panen yang banyak dari tanaman
mereka. Ini merupakan syirk dan sikap kufur nikmat yang besar.
tidak termasuk bersyukur kepada Allah, ketika kita membanggakan nikmat-nikmat
itu di hadapan hamba-hamba-Nya sambil menyombongkan diri.
adalah menyebut nama pemberi nikmat dan memuji-Nya, yaitu Allah Azza wa Jalla.
Oleh karena itu, setelah Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan nikmat-Nya yang
paling besar, yaitu diutus-Nya Rasul kepada kita dan diturunkan kitab-Nya agar
kita tidak tersesat dan dapat berbahagia di dunia dan akhirat, maka Dia
menyuruh kita menyebut nama-Nya, Dia berfirman,
وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan
janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Terj. QS. Al Baqarah: 152)
hendaknya kita mengingat dan menyebut nama Allah serta memuji-Nya ketika
mendapatkan nikmat. Kita sandarkan nikmat itu kepada-Nya sambil memuji-Nya.
antara cara bersyukur
cara bersyukur pula di samping memuji-Nya adalah dengan melakukan sujud syukur.
Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Bakrah,
أَنَّهُ كَانَ «إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا
لِلَّهِ»
shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau apabila mendapatkan sesuatu yang
menggembirakan atau diberikan kabar gembira, maka Beliau tersungkur sujud
kepada Allah. (Dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4701)
dengan menampakkan bekas nikmat itu pada diri kita. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَى عَبْدِهِ
bekas nikmat-Nya kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Hakim, dihasankan
oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1887)
kasih kepada manusia atas kebaikan mereka termasuk syukur
bahwa termasuk bersyukur pula kepada Allah adalah berterima kasih kepada
manusia atas kebaikan mereka. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُفْرٌ وَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ الْقَلِيْلَ لاَ يَشْكُرُ الْكَثِيْرَ وَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ
النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللهَ وَ الْجَمَاعَةُ بَرَكَةٌ وَ الْفُرْقَةُ عَذَابٌ
adalah kufur. Barang siapa tidak bersyukur terhadap yang sedikit, maka dia
tidak akan bersyukur kepada yang banyak. Barang siapa yang tidak berterima
kasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Berjamaah adalah
berkah, sedangkan berpecah adalah azab.” (HR. Baihaqi dalam Asy Syu’ab,
dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3014)
manusia adalah membalasnya, mendoakannya, menyebutnya, dan memujinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَادْعُوا لَهُ
siapa yang memberikan hal yang baik kepada kamu maka balaslah setimpal
dengannya, jika kamu tidak dapat membalasnya, maka doakanlah untuknya.” (HR.
Thabrani, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5937)
وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ
nikmat, lalu ia menyebut orang yang memberi, maka ia telah bersyukur kepadanya
dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka ia telah kufur.” (HR. Abu
Dawud dan Adh Dhiyaa’, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’
no. 5933)
dari syukur yang tidak terpisahkan
Allah Ta’ala di samping mengakui nikmat itu berasal dari-Nya dan memuji-Nya adalah
mengerjakan perintah-perintah Allah yang memberi nikmat dan menjauhi
larangan-Nya.
Allah berikan kepada kita begitu banyak. Jika sekiranya, kita mau menghitungnya
satu-persatu, niscaya kita tidak akan sanggup menghitungnya. Maka sudah
sepantasnya kita bersyukur kepada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya
dan menjauhi larangan-Nya.
perintah-Nya adalah beribadah hanya kepada-Nya, mendirikan shalat yang lima
waktu dan melaksanakannya dengan berjamaah, membayar zakat, berpuasa di bulan
Ramadhan, berbakti kepada orang tua, bersedekah, berbuat baik kepada orang lain
dan tetangga, menyambung tali silaturrahim, memberikan santunan kepada kerabat,
orang miskin, ibnus sabil (musafir yang kehabisan bekal), dan anak yatim,
berkata jujur, memenuhi janji, menunaikan amanah, dan menjalankan
perintah-perintah Allah lainnya.
antara larangan-Nya adalah syirk, meninggalkan shalat, durhaka kepada orang
tua, memakan riba, berzina, memutuskan tali silaturrahim, enggan memberikan
santunan (bakhil), berkata dusta, ingkar janji, tidak amanah dan sebagainya.
melaksanakan perintah Allah dan belum menjauhi larangan-Nya, maka berarti kita
belum bersyukur.
inginkah nikmat-nikmat yang kita rasakan ini dipelihara oleh Allah dan
ditambah-Nya, dan tidak dicabut-Nya nikmat itu dari kita?
itulah caranya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
saudaraku, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِنَ الدُّنْيَا مَا يَحِبُّ وَ هُوَ مُقِيْمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ
مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ
memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba yang ia sukai, sedangkan ia
tetap di atas kemaksiatannya, maka hal itu adalah istidraj (penangguhan azab)
dari-Nya.” (HR. Ahmad, Thabrani dalam Al Kabir, dan Baihaqi dalam Asy
Syu’ab, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 561)
termasuk syukur juga adalah kita menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan
kepada kita untuk ketataan kepada-Nya, bukan untuk kemaksiatan.
untuk membantu saudara kita yang kekurangan, untuk membantu mujahid fii
sabilillah, untuk pembangunan masjid dan madrasah, dan proyek-proyek kebaikan
lainnya. Sudahkah kita gunakan kendaraan kita untuk membantu
saudara kita, dan untuk menghadiri majlis ilmu, dan sudahkah kita gunakan
kenikmatan lainnya untuk ketataan kepada-Nya?
termasuk tidak bersyukur jika nikmat-nikmat itu kita gunakan untuk bermaksiat
kepada Allah, seperti menggunakan kendaraan kita ke diskotik, ke tempat-tempat hiburan
(maksiat), dan ke tempat-tempat kemaksiatan lainnya. Demikian juga termasuk tidak
bersyukur apa yang dilakukan oleh sebagian kaum wanita yang melepas jilbabnya
dan menampilkan keindahan tubuhnya di hadapan masyarakat, karena hal itu sama saja
menggunakan nikmat itu untuk maksiat kepada-Nya. Suaminya yang meridhai
istrinya melakukan demikian adalah dayyuts yang diancam Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak masuk surga, dan orang tua yang membiarkan puterinya berbuat
seperti itu adalah orang tua yang buruk yang membiarkan puterinya celaka.
bagi orang yang bersyukur
yang akan diperoleh bagi orang yang bersyukur. Di antaranya:
- Mendapatkan
keridhaan Allah.
meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Terj. QS. Az Zumar: 7)
- Allah akan
menjaga nikmat itu dan menambahkannya.
masalah ini adalah surat Ibrahim ayat 7 yang telah disebutkan sebelumnya.
- Allah akan
memberikan keberkahan kepadanya.
hadits riwayat Muslim,
bahwa ada seorang sedang berada di tanah lapang tiba-tiba ia mendengar suara di
awan yang bunyinya, “Siramilah kebun si fulan.” Maka awan itu bergeser dan
menurunkan airnya ke tanah berbatu hitam sehingga salah satu selokan di antara
selokan yang ada penuh berisi air, maka ia menelusuri ke mana air mengalir,
tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya yang memindahkan air
dengan sekopnya, lalu ia berkata, “Wahai hamba Allah, siapa namamu?” Ia
menjawab, “Fulan.” Sesuai nama yang didengarnya di awan. Lalu orang itu kembali
bertanya, “Wahai hamba Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku?” Ia
menjawab, “Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang di sinilah airnya
(dialirkan) bunyinya, “Siramilah kebun si fulan,” menyebut namamu. Memangnya,
apa yang engkau lakukan dengan kebunmu?” Ia menjawab, “Jika kamu bertanya
begitu, maka sesungguhnya aku memperhatilkan hasil dari kebun ini, sepertiganya
aku sedekahkan, sepertiga lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiga lagi
aku kembalikan ke kebun.”
wa shahbihi wa sallam.






































