Kunci- Kunci Rezeki
yang menjelaskan kepada kamu—(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah
kepada-Nya dan taatlah kepadaku—Niscaya Allah akan mengampuni sebagian
dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai waktu yang
ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat
ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui”. (terjemah Nuh: 2-3)
Pengampun—Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan
harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan
(pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu. (terjemah Nuh: 10-11)
antaranya:
(menyeru beribadah kepada Allah saja dan meniadakan sesembahan selain-Nya),
meskipun syari’atnya berbeda-beda.
(yang lebih terpenting di antara yang penting) yaitu Tauhid sebelum yang lain.
yang semakin hari bertambah jauh dan lari.
kepada Allah Jalla wa ‘Alaa tentang keadaan kaumnya:
kebenaran)—Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar
Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam
telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari)
dan menyombongkan diri dengan sangat. (terjemah Nuh: 6-7)
yang ditekuninya selama 950 tahun dan pengikut yang hanya berjumlah sedikit.
memberikan banyak rezeki kepada kita.
anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di
dalamnya) sungai-sungai untukmu.”
Alllah akan memperbanyak rezeki, menurunkan hujan dari langit karena ia
(langit) diberkahi dan menumbuhkan tanaman-tanaman karena bumi diberkahi.”
adalah salah satu di antara kunci rezeki. Tetapi jangan sampai tujuan
utama dari beristighfar dan bertaubat adalah agar mendapatkan rezeki, karena
akan menodai keikhlasan.
ukhrawi dan ganjaran duniawi maka hanya akan mengurangi pahala keikhlasan.
Tetapi, jika yang lebih besar niatnya adalah agar mendapatkan ganjaran duniawi,
maka ia bisa tidak memperoleh ganjaran ukhrawi, bahkan dikhawatirkan akan menyeretnya kepada dosa. Sebab ia telah
menjadikan ibadah yang semestinya karena Allah, malah dijadikan sarana untuk
mendapatkan dunia yang rendah nilainya.
juga adalah:
Takwa (menjalankan perintah Allah
dan menjauhi larangan-Nya).
baginya jalan keluar (solusi)—Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangkanya. (terj. Ath Thalaq: 2-3)
sebaliknya maksiat adalah salah satu sebab terhalangnya rezeki.
Tawakkal kepada Allah.
mencukupkan (keperluan)nya. (terj. Ath Thalaq: 3)
عَلىَ اللّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُوْ خِمَاصًا
وَتَرُوْحُ بِطَانًا
sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu
akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi dalam
keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, ia
mengatakan, “Hadits hasan shahih.”)
oleh orang-orang yang jahil (tidak mengerti) terhadap Islam, yang mengartikan
tawakkal adalah membuang jauh-jauh sebab dan tidak beramal serta ridha dan rela
terhadap kerendahan. Bahkan tidak demikian. Tawakkal adalah sebuah ketaatan
kepada Allah dengan menjalankan sebab. Oleh karena itu, seseorang
tidaklah berharap untuk memperoleh sesuatu kecuali menjalankan sebab-sebabnya.
Adapun tercapai atau tidaknya dia serahkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala
sambil berharap semoga yang dicita-citakannya tercapai, karena hanya Dia-lah
yang mampu mendatangkan hasilnya. Betapa banyak orang yang menjalankan sebab,
namun ternyata tidak memperoleh hasil apa-apa.
Menyempatkan diri untuk beribadah
yang berupa ibadah lisan seperti dzikr, membaca Al Qur’an dan mengajarkannya,
dsb. maupun yang berupa perbuatan seperti shalat-shalat sunah dsb.
لِعِبَادَتِيْ أَمْلَأُ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلَأُ يَدَكَ رِزْقًا يَا ابْنَ آدَمَ
لَا تُبَاعِدْ مِنِّيْ أَمْلَأُ قَلْبَكَ فَقْرًا وَأَمْلَأُ يَدَكَ شُغْلاً
kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan
memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku.
Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi
tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)
Berhajji dan berumrah
فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبَ كَمَا يَنْفِي اْلكِيْرُ خَبَثَ
الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ
إِلاَّ الْجَنَّةُ
hajji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa.
Sebagaimana kir menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Haji yang mabrur
tidak ada balasannya selain surga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu
Hibban, Syaikh Al Albani menghasankannya dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)
Menyambung tali silaturrahim
رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
umurnya maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Bukhari(
sikap ihsan (berbuat baik) kepada kerabat yang memiliki hubungan baik karena
nasab (keturunan) maupun karena ash-har (perkawinan), bersikap lemah lembut
kepada mereka, memberikan kebaikan dan menghindarkan keburukan semampunya yang
menimpa mereka, serta memperhatikan keadaan mereka baik agama maupun dunianya
Berinfak
dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (terj. surat Saba’:
39)
آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
berinfak kepadamu.” (HR. Bukhari)
الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ ، فَيَقُوْلُ أَحَدَهُمَا :
اللَّهُمَّ أَعطِ مُنْفِقاً خَلَفاً، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكاً
تَلَفاً
satu hari pun, di mana seorang hamba melalui pagi harinya kecuali dua malaikat
turun, yang satu berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang
berinfak”, sedangkan malaikat yang satu lagi berkata, “Ya Allah,
timpakanlah kerugian kepada orang yang bakhil.” (Muttafaq ‘alaih)
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ
لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
tidaklah mengurangi harta, dan Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang sering
memaafkan kecuali kemuliaan. Demikian juga tidaklah seseorang bertawadhu’ karena
Allah, kecuali Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)
Berbuat baik kepada kaum dhu’afa’
(kaum lemah seperti kaum fakir-miskin)
بِضُعَفَائِكُمْ
dibela dan diberi rezeki karena (berbuat ihsan) kepada kaum dhu’afa kamu.” (HR.
Bukhari)
Hijrah
di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (terj. An
Nisaa’: 100)
artinya meninggalkan sesuatu yang dibenci Allah menunju hal yang dicintai Allah
dan diridhai-Nya. Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى
اللَّهُ عَنْهُ »
dari mengganggu muslim lainnya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang
berhijrah dari perbuatan yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)
ini adalah berhijrah dari negeri kafir (negeri tempat merajalelanya kesyirkkan
atau syi’ar-syi’ar kekufuran) dan
dirinya tidak mampu menjalankan ajaran-ajaran Islam di sana, menuju negeri Islam (negeri di mana
syi’ar Islam nampak seperti azan, shalat berjama’ah, shalat Jum’at dan shalat
hari raya). Kecuali jika ia tidak mampu berhijrah atau ia berniat dakwah di sana, maka tidak mengapa
tinggal di negeri kafir.
Bersyukur terhadap nikmat Allah
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih”.(terj. Ibrahim: 7)
didapatkan berasal dari-Nya, memuji-Nya dan menggunakan nikmat itu untuk
ketaatan kepada-Nya.
Membantu penuntul ilmu syar’i.
Sunan At Tirmidzi disebutkan:
اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِى النَّبِيَّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلىَ النَّبِيِّ
صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ
di zaman Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam, yang satu datang kepada
Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam (untuk belajar), sedangkan yang satunya
lagi bekerja. Maka orang yang bekerja ini mengeluhkan kepada Nabi shallalllahu
‘alaihi wa sallam tentang saudaranya. Beliau pun bersabda, “Mungkin saja
kamu diberi rezeki karenanya.”
Katsir, Mafaatiihur rizq (Dr. Fadhl Ilaahiy), Minhaajul Muslim, Subulus Salam
dll.








































