(Bag. 4)
اما بعد:
yang telah kami sebutkan dalam risalah sebelumnya. Kami meminta kepada Allah
agar risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Permulaan Buah
بَارِكْ لَنَا فِيْ مَدِيْنَتِنَا، بَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِنَا، بَارِكْ لَنَا
فِيْ مُدِّنَا
berkah buah-buahan kami, berilah berkah kota
kami, berilah berkah sha’ kami (sehingga di antara kami tidak sering mengurangi
timbangan) dan berilah berkah mud kami.” (HR. Muslim)
Kepada Pasangannya
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَوْ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ
مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا
عَلَيْهِ وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأْخُذْ بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ
مِثْلَ ذَلِكَ
atau membeli pembantu, hendaklah mengucapkan:
وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا
عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ.
perempuan atau pembantu ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.
Dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan perempuan atau pembantu ini
dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.”
dan ucapkanlah seperti itu.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu
Majah 1/324)
Dajjal
‘alaihi wa sallam bersabda:
عُصِمَ مِنْ الدَّجَّالِ
siapa yang hapal sepuluh ayat surah Al Kahfi, maka akan dijaga dari Dajjal.”
(HR. Muslim dari Abud Darda’)
dalam doa sebelum salam yang berbunyi, “Allahumma innii a’uudzu bika min
‘adzaabi Jahannam…dst.”
Pinjaman Saat Membayar Hutang Kepadanya
‘alaihi wa sallam bersabda:
جَزَاءُ السَّلَفِ الْحَمْدُ وَاْلأَدَاءِ
Allah memberikan berkah kepadamu dalam keluarga dan hartamu. Sesungguhnya
balasan meminjamkan adalah pujian dan pembayaran.” (HR. Nasa’i dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah
hal. 300, Ibnu Majah 2/809, dan lihat Shahih Ibnu Majah 2/55)
{سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ.
وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ
لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ
الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak
mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di
hari Kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Mahasuci Engkau ya Allah, sesungguhnya
aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang
mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR.
Abu Dawud, Tirmidzi, lihat Shahih Tirmidzi 3/156)
sanadnya yang sampai kepada Ali bin Rabi’ah, ia berkata: Aku melihat Ali
radhiyallahu ‘anhu ketika disiapkan kendaraan untuk ia naiki. Saat ia meletakkan
kakinya di injakan pelana, ia mengucapkan “Bismillah” dan ketika ia
telah berada di atas punggung kendaraannya, ia mengucapkan “Al
hamdulillah” selanjutnya ia membaca “Subhaanalladzii…dst.”
(lihat doanya di atas). Kemudian Ali tersenyum, lalu ia ditanya, “Wahai
Amirul Mukminin, karena apa engkau tersenyum?” Ia menjawab, “Aku
melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan seperti yang aku lakukan.
Kemudian Beliau tersenyum, lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, karena
apa engkau tersenyum?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Tuhanmu takjub
kepada hamba-Nya ketika berkata, “Ampunilah dosaku,” dia mengetahui bahwa
tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Aku (Allah).”
{سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا
إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ
سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى،
اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ
أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ
إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ
الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ.
Maha Besar (3x). Mahasuci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami,
sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada
Tuhan kami (di hari Kiamat). Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan
takwa dalam bepergian ini, kami memohon perbuatan yang meridhakan-Mu. Ya Allah,
permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah,
Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, sesungguhnya
aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang
menyedihkan dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga.”
selalu memuji kepada Tuhan kami.” (HR. Muslim 2/998)
أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا
أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنَ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ
وَمَا ذَرَيْنَ. أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا،
وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا
وَشَرِّ مَا فِيْهَا
Allah Tuhan Penguasa tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Tuhan penguasa
tujuh bumi dan apa yang di atasnya, Tuhan yang menguasai setan-setan dan apa
yang mereka sesatkan, Tuhan yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya.
Aku memohon kepada-Mu kebaikan desa ini, kebaikan penduduknya dan apa yang ada
di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan desa ini, kejelekan
penduduknya dan apa yang ada di dalamnya.” (HR. Hakim, ia menshahihkannya dan
disepakati oleh Adz Dzahabi 2/100, Ibnussunniy no. 524, dan dihasankan oleh Al
Haafizh dalam Takhrij Al Adzkar 5/154. Syaikh Ibnu Baz berkata, “Diriwayatkan
oleh Nasa’i dengan isnad yang hasan,” lihat Tuhfatul Akhyar hal. 37)
Kendaraan Tergelincir
nama Allah.” (HR. Abu Dawud 4/296, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih Abi Dawud 3/941)
Orang Yang Ditinggalkan
لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ
hilang titipan-Nya.” (HR. Ahmad 2/403, Ibnu Majah 2/943, lihat Shahih Ibnu
Majah 2/133)
kepada Musafir
وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ
yang terakhir kepada Allah.” (HR. Ahmad 2/7, Tirmidzi 5/499, lihat Shahih At
Tirmidzi 2/155)
وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ
mengampuni dosamu dan memudahkan kebaikan kepadamu di mana saja kamu berada.”
(HR. Tirmidzi, lihat Shahih At Tirmidzi 3/155)
Tempat
التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang
diciptakan-Nya.” (HR. Muslim)
Menaik Dan Bertasbih Ketika Turun
“Kami ketika naik bertakbir dan ketika turun bertasbih.” (HR.
Bukhari)
Menjelang Subuh
وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا. رَبَّنَا صَاحِبْنَا، وَأَفْضِلْ
عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ
saksi yang menyaksikan pujian kami kepada Allah (atas nikmat) dan cobaan-Nya
yang baik kepada kami. Wahai Tuhan kami, temanilah kami (peliharalah kami) dan
berilah karunia kepada kami, sambil kami berlindung kepada Allah dari api
Neraka.” (HR. Muslim)
‘Arafah
yang terbaik (yang mustajab) adalah di hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang
aku dan para nabi sebelumku baca, adalah:
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Allah, Yang Maha Esa, Tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian.
Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh
Syaikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi 3/184 dan dalam Ash Shahiihah 4/6)
أَمْسَيْتُمْ- فَكُفُّوْا صِبْيَانَكُمْ؛ فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْتَشِرُ حِيْنَئِذٍ،
فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ
فَخَلُّوْهُمْ، وَأَغْلِقُوا اْلأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا
مُغْلَقًا، وَأَوْكُوْا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَخَمِّرُوْا
آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوْا عَلَيْهَا شَيْئًا،
وَأَطْفِئُوْا مَصَابِيْحَكُمْ
anak-anakmu, sesungguhnya setan pada saat itu bertebaran[i].
Apabila malam telah terlewati sesaat, maka lepaskan mereka, dan tutuplah pintu serta
sebutlah nama Allah (membaca: Bismillaah). Sesungguhnya setan tidak membuka
pintu yang tertutup, ikatlah gerabamu (tempat air dari kulit) dan sebutlah nama
Allah. Tutuplah wadah-wadahmu dan sebutlah nama Allah, sekalipun dengan
melintangkan sesuatu di atasnya, dan padamkan lampu-lampumu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةُ
مَرَّةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَقُومَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ
التَّوَّابُ الْغَفُورُ
Shallallahu’alaihi wasallam dalam satu majlis seratus kali sebelum Beliau
berdiri, yaitu:
Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengampun.” (HR. Tirmidzi dan lainnya,
lihat Shahih At Tirmidzi 3/153 dan Shahih Ibnu Majah 2/321)
أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku meminta ampun dan bertobat
kepada- Mu.” (HR. Para pemilik kitab Sunan, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/153.
Dari Aisyah
Radhiallahu’anha, dia berkata, “Setiap Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
duduk di suatu tempat, setiap membaca Al-Qur’an dan setiap melakukan shalat,
beliau mengakhirinya dengan beberapa kalimat.” Aisyah Radhiallahu’anha berkata:
Aku berkata: “Wahai Rasululllah, Aku melihat engkau setiap duduk di suatu
majelis, membaca Al-Qur’an atau melakukan shalat, engkau selalu mengakhiri
dengan beberapa kalimat itu.” Beliau bersabda,
لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً، سُبْحَانَكَ
وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
itu (pahala bacaan kalimat tersebut), barang siapa yang berkata jelek, maka
kalimat tersebut merupakan penghapusnya. (Kalimat itu adalah: Subhaanaka wa
bihamdika laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik).” HR.
An-Nasa’i dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah, hal. 308. Imam Ahmad 6/77. Dr.
Faruq Hammadah menyatakan, hadits tersebut shahih dalam Tahqiq ‘Amalul Yaum wal
Lailah, karya An Nasa’i hal. 273).
aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Hishnul Muslim (Dr. Sa’id
Al Qahthani), Al Maktabatusy Syaamilah, Fathul Bari dll.
berkata, “Dikhawatirkan keadaan anak pada saat itu, karena najis yang menempel
pada setan biasanya ada pada mereka, sedangkan dzikr yang dapat menjaga anak
biasanya tidak ada pada anak, dan para setan ketika bertebaran berpegangan
dengan apa saja yang bisa mereka pegang. Oleh karena itu, dikhawatirkan keadaan
anak-anak pada saat itu. Hikmah bertebarannya mereka pada waktu itu adalah
karena gerakan mereka di malam hari lebih memungkinkan bagi mereka daripada di
siang hari, karena gelap lebih dapat menghimpun kekuatan setan daripada
selainnya, demikian pula setiap kegelapan.”










































