(Bag. 1)
sebutkan dalam lembaran yang ringkas agar dapat diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari sehingga kita tergolong ke dalam laki-laki dan perempuan yang
banyak berdzikr kepada Allah, yang Allah janjikan dengan ampunan dan pahala
yang besar (lihat surah Al Ahzaab: 35).
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا
dan membacakan surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Kemudian dengan dua telapak
tangan itu dia mengusap tubuh yang dapat dijangkau dengannya. Dimulai dari
kepala, wajah dan tubuh bagian depan (tiga kali). (HR. Bukhari dan Muslim)
Bukhari).
سُبْحَانَ اللهِ (33×) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ (33×) وَاللهُ أَكْبَرُ (34x)
Suci Allah (33 x), Segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (33 x).” (HR.
Bukhari dan Muslim)
اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ،
رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ
مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ
وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ
aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku
menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena senang (mendapatkan rahmat-Mu) dan
takut kepada (siksaan-Mu, jika melakukan kesalahan). Tidak ada tempat
perlindungan dan keselamatan dari (ancaman)-Mu, kecuali kepada-Mu. Aku beriman
pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) Nabi-Mu yang telah
Engkau utus.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Al Barra’ bin ‘Azib)
Al
Barra’ berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaba,
“Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhumu
untuk shalat, lalu berbaringlah ke sisi kananmu, dan ucapkanlah…(lihat doa di
atas). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Jadikanlah doa
itu sebagai akhir yang engkau baca.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Membalikkan Badan Ketika Tidur Malam
الْقَهَّارُ، رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ
Esa, Mahaperkasa, Tuhan yang menguasai langit dan bumi dan apa yang ada di
antara keduanya, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.”
(HR. Hakim, ia menshahihkannya, dan disepakati oleh Adz Dzahabi 1/540, Nasa’i
dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dan Ibnus Sunni, lihat Shahihul Jaami’
4/213)
Takut dan Kesepian Ketika Tidur
غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ
وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ
siksaan-Nya, serta kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari godaan setan
(bisikannya) serta agar jangan sampai mereka hadir (kepadaku).” (HR. Abu Dawud
4/12, lihat pula Shahih At Tirmidzi 3/171)
أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
(الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku. (HR.
Seluruh penyusun kitab Sunan, kecuali An-Nasai, lihat Irwa’ul Ghalil 7/47)
Baru
كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ
مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
pakaian ini kepadaku. Aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan
kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepada-Mu dari
kejahatannya dan kejahatan yang ia diciptakan karenanya” (HR. Abu
Dawud, At-Tirmidzi, Al-Baghawi dan lihat Mukhtashar Syamaailit Tirmidzi, oleh
Al-Albani, halaman 47)
Yang Memakai Pakaian Baru
شَهِيْدًا
yang baru, hiduplah dengan terpuji dan matilah dalam keadaan syahid.” (HR. Ibnu Majah 2/1178, Al Baghawi
12/41, dan lihat Shahih Ibnu Majah 2/275)
Pakaian
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا وَضَعَ أَحَدُهُمْ ثَوْبَهُ أَنْ يَقُوْلَ: “بِسْمِ
اللهِ”
ketika salah seorang di antara mereka melepas pakaiannya adalah mengucapkan, “Bismillah.”
(HR. Tirmidzi dan lainnya, lihat Irwaa’ul Ghalil no. 49 dan Shahihul Jaami’
3/203).
بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
dari godaan setan laki-laki dan perempuan”. (HR. Bukhari dan Muslim. Sedangkan
tambahan bismillaah pada permulaan hadits, menurut riwayat Said bin Manshur.
Lihat Fathul Baari 1/244)
kecuali Nasa’i yang meriwayatkan dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah, lihat Takhrij
Zaadul Ma’aad 2/387)
حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.” (HR. Abu
Dawud, Tirmidzi, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/151)
خَرَجْنَا، وَعَلَى رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا،
keluar (darinya) dan kepada Tuhan kami, kami bertawakkal. (HR. Abu
Dawud, menurut Ahli Hadits, hadits ini adalah dha’if. Tetapi maknanya diperkuat
oleh hadits shahih dalam riwayat Muslim, “Apabila seseorang masuk rumahnya,
lalu berdzikir kepada Allah ketika masuk rumah dan ketika makan, maka setan
berkata (kepada teman-temannya), ‘Tidak ada tempat tinggal dan makanan bagi kamu
(malam ini).” Muslim, no. 2018)
اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُورًا وَفِى لِسَانِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُورًا
وَاجْعَلْ فِى بَصَرِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِى نُورًا وَمِنْ أَمَامِى
نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِى نُورًا وَمِنْ تَحْتِى نُورًا . اللَّهُمَّ
أَعْطِنِى نُورًا »
Allah jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku,
cahaya di penglihatanku, cahaya dari belakangku, cahaya dari depanku, cahaya di
atasku dan cahaya di bawahku. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku.” (HR. Muslim)
وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ، [بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ][وَالسَّلاَمُ
عَلَى رَسُوْلِ اللهِ] اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan
kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk.[1] Dengan nama Allah dan
semoga shalawat [2] dan salam tercurahkan kepada Rasulullah [3] Ya Allah,
bukalah pintu-pintu rahmatMu untukku.” [4]
[2] HR. Ibnus Sunni no.88, dihasankan Syaikh Al Albani. [3] HR. Abu Dawud
1/126, lihat Shahihul Jami’ 1/528. [4] HR. Muslim 1/494. Dalam Sunan Ibnu
Majah, dari hadits Fathimah radhiyallahu ‘anha disebutkan, “Allahummagh fir
li dzunubi waftahli abwaba rahmatik”, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
karena beberapa shahid. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/128-129.
وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ،
اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
terlimpah kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari
karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”. (Lihat takhrij hadits pada doa sebelum masuk
masjid, adapun tambahan, “Allaahumma’shimni
minasy syai-thaanir rajim,” adalah
riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 129).
Azan
الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ
وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ،
shalat (wajib) yang didirikan. Berilah Al-Wasilah (derajat di Surga, yang tidak
akan diberikan selain kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keutamaan
kepada Muhammad. Bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji
yang telah Engkau janjikan.” (HR. Muslim)
Tanggal Satu
عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ،
وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ
kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta
mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan ridhai. Tuhan kami
dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR.
At-Tirmidzi, Ad-Darimi dengan lafazh hadits yang sama, dan lihat Shahihut Tirmidzi 3/157.)
bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah membaca,
“Bismillah,” (Artinya: Dengan
nama Allah) apabila lupa pada permulaannya, hendaklah membaca, “Bismillah fii
awwalihi wa aakhirih.” (Artinya: Dengan
nama Allah di awal dan akhirnya.) (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lihat Shahih At
Tirmidzi 2/167)
أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
puji bagi Allah yang memberi makan ini kepadaku dan yang memberi rezeki
kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.” (HR. Penyusun kitab Sunan, kecuali
Nasai, lihat Shahih At Tirmidzi 3/159)
Pemilik Makanan
فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ
Allah, berilah berkah pada apa yang Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah
dan sayangilah mereka.” (HR. Muslim 3/1615)
وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
akan tetap, insya Allah.” (HR. Abu Dawud. Lihat Shahihul Jami’ 4/209)
di Rumah Orang Lain
وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ
yang berpuasa berbuka di dekatmu, orang-orang yang baik memakan makananmu, dan semoga
para malaikat mendoakan rahmat bagimu.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i
dalam Amalul Yaumi wal Lailah, dan dishahihkan oleh Al Albani)
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ . وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ
صَاحِبُهُ : يَرْحَمُكَ اللَّهُ . فَإِذَا قَالَ لَهُ : يَرْحَمُكَ اللَّهُ .
فَلْيَقُلْ : يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ »
mengucapkan, “Al Hamdulillah.” (artinya: segala puji bagi Allah), dan
hendaknya saudara atau kawannya mengucapkan kepadanya, “Yarhamukallah (artinya:
semoga Allah merahmatimu). Jika telah dikatakan yarhamukallah kepadanya,
maka hendaknya ia (yang bersin) mengucapkan, “Yahdiikumullah wa yush-lih
baalakum.” (artinya: semoga Allah menunjukimu dan memperbaiki keadaanmu).”
(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Dan Mengucapkan Al Hamdulillah
عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ
يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ فَيَقُولُ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
Musa ia berkata: Orang-orang Yahudi pura-pura bersin di hadapan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan harapan agar Beliau mengucapkan yarhamukallah kepada
mereka, tetapi Beliau mengucapkan, “Yahdiikumullah wa yushlih baalakum.”
(HR. Tirmidzi, Ahmad, Abu Dawud. Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)
aalihi wa shahbihi wa sallam.
Maraji’: Hishnul Muslim (Dr. Sa’id
Al Qahthani), Al Maktabatusy Syamilah dll.





































