yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, beliau Imam as Syafi’i dan Imam
Ahmad bin Hambal.
bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syaafi’ bin As-Saaib bin ‘Ubaid bin
Abd Yaziid bin Haasyim bin Al-Muthallib bin ‘Abdi Manaaf, sehingga nasab beliau
sampai kepada Abdu Manaf kakek buyut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Muthallib adalah saudaranya Hasyim ayahnya Abdul Muthhalib kakek Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. (Siyar A’laam An-Nubalaa).
karena ayah beliau Idris merantau ke Palestina. Beliau dilahirkan di Ghazza,
Palestina. Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir di Asqalan. Beliau lahir pada tahun 150 Hijriah dan wafat tahun 204
Hijriah.
keadaan masih muda. Lalu ibunya membawanya ke Mekah pulang ke kampung halamanya
pada usia dua tahun. Beliau tumbuh
berkembang di Mekah dalam kondisi yatim. Beliau memiliki kecerdasan yang sangat
hebat. Pada usia 7 tahun beliau telah hafal Al-Qur an dan tatkala berumur
10 tahun beliau menghafal kitab al Muwattha’ yaitu Kitab Hadits yang ditulis
oleh Imam Malik yang memuat 1.594 hadits.
dilepas ibunya berangkat ke Madinah untuk belajar kepada ulama Besar Madinah
yaitu Imam Malik bin Anas. Sebelum berangkat dia berkata kepada ibunya : Wahai
ibu, berilah aku nasehat !.
berjanjilah kepadaku untuk tidak berdusta. Imam asy-Syafi’i rahimahullah
berkata : Aku berjanji kepada Allah, lalu kepadamu untuk tidak berdusta.
ibunya uang 400 dirham. Beliau menaiki hewan tunggangannya dan berangkat
bersama rombongan atau kafilah menuju
Madinah, Imam asy-Syafi menyimpan uang itu didalam sebuah kantong yang ia jahit
di sela-sela bajunya.
yang merampas seluruh harta rombongan tersebut. Tatkala sampai di hadapan Imam
asy-Syafi’i yang masih kecil, diantara perampok itu bertanya : Apakah kamu
membawa uang ?. Imam asy-Syafi’i yang masih kecil ini menjawab : Iya ada.
Asy-Syafi’i kecil menjawab : Aku membawa uang 400 dirham. Para perampok tersebut
tertawa, sambil mengejek asy Syafi’i kecil dan mereka berkata : Pergilah,
apakah kamu mau mengolok-olok kami ?. Apakah orang seperti kamu membawa uang
sebanyak empat ratus dirham ?., kata para perampok dengan nada tak percaya.
kepada anak buahnya : Apakah kalian telah mengambil harta semuanya ?. Para
anggota perampok menjawab : Ya, sudah
semua. Pemimpin perampok berkata lagi : Apakah kalian tidak meninggalkan
seorang pun ?.Salah seorang anak buah perampok menjawab : Tidak, kecuali seorang anak kecil
yang mengaku telah membawa uang sebanyak 400 dirham, namun anak tersebut gila
atau hanya ingin mengolok-olok kita, sehingga kami pun menyuruhnya pergi.
membawa asy-Syafi’i kecil kehadapannya. Kemudian pemimpin rampok itu bertanya
kepada asy-Syafi’i : Apakah kamu membawa uang, wahai anak kecil ?. Syafi’i
kecil menjawab : Iya, ada.
uang yang kamu bawa ?. Asy Syafi’i kecil menjawab : Empat ratus
dirham. Pemimpin perampok itu bertanya lagi : Dimana uang itu ?. Lalu asy Syafi’i
kecil mengeluarkan uang tersebut dari balik bajunya dan menyerahkannya kepada pemimpin kawanan
perampok tersebut.
uang-uang tersebut ke pangkuannya, lalu ia memandangi asy Syafi’i kecil dengan
keheranan dan berkata : Kenapa kamu jujur kepada ku ketika aku tadi bertanya
kepada mu, dan kamu tidak berdusta kepadaku, padahal kamu tahu bahwa uangmu
akan hilang ?.
jujur kepada engkau karena aku telah berjanji kepada ibuku untuk tidak berdusta
kepada siapa pun. Mendengar penuturan asy Syafi’i kecil itu, tiba tiba
tangan pemimpin rampok itu berhenti memain-mainkan uang 400 dirham tersebut,
karena hatinya telah tergetar, karena saat itu datang hidayah dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
: Sambil mengembalikan uang tersebut kepada asy Syafi’i kecil : Ambillah uang
mu, kamu takut akan mengkhianati janjimu kepada ibumu, sedangkan aku tidak
takut berkhianat kepada janji Allah Subhanahu wa Ta’ala.
keadaan aman dan tenang, karena aku telah bertaubat kepada Dzat yang Maha
menerima taubat lagi Maha Penyayang, melalui kedua tangan mu dengan taubat ini
dan aku tidak akan pernah mendurhakai-Nya lagi selamanya.
itu memandang anak buahnya dan berkata :
الأمانات إلى أهلها
menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya. (Q.S an Nisa ayat 58).
membawa harta rombongan kafilah yang
telah mereka rampok tadi dan mereka mengembalikannya. Mereka para anak buah
perampok berkata kepada pemimpin perampok : Wahai tuan, engkau telah bertaubat
dengan Dzat Yang Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang, sedangkan engkau
adalah pemimpin kami. Oleh karena itu kami lebih pantas untuk bertaubat
daripada engkau. Akhirnya mereka semua bertaubat kepada Allah, tersebab kejujuran Imam asy Syafi’i kecil. (Diringkas
dari Biografi Imam Syafi’i, Syaikh Aziz asy Syinawi).
waktu kecil telah membuat bertaubat sekawanan perampok KARENA KEJUJURANNYA.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.693).






































