perangai atau yang
tercela. Oleh karena itu
tidaklah patut seorang muslim mengikuti prasangka buruknya kepada sesama
muslim. Tidak boleh bagi
siapapun merusak harga diri saudaranya sesama muslim apalagi hanya berdasarkan
dugaan dan prasangka yang belum tentu benar.
yattabi’u aktsaruhum illaa zhanna, innazh zhanna laa yughnii minal haqqi
syai-a, innallaha ‘alimun bimaa yaf’aluun” Dan kebanyakan mereka tidak
mengikuti kecuali persangkaan saja. Sungguh persangkaan itu tidak sedikitpun
berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka kerjakan (Q.S Yunus 36)
aiyuhal ladzina aamanuj tanibuu katsiran minazh zhaani, inna ba’dhazh zhanni
itsmun” Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka
(kecurigaan) karena sebagian prasangka itu adalah dosa”. (Q.S al Hujurat 12).
Ibnu Katsir berkata : Allah melarang para hamba-hambaNya yang beriman, dari
perbuatan curiga, prasangka, dan dugaan, baik kepada keluarganya, kerabat atau
manusia pada umumnya jika tidak pada tempatnya. Sebab pada sebagian prasangka
dan curiga itu terdapat dosa, maka jauhilah perbuatan banyak curiga sebagai
pencegah dari dosa.
selalu memberi udzur kepada orang lain sehingga batinnya selamat. Sedangkan
orang munafik adalah orang yang selalu mencari-cari kesalahan dan aib orang lain
karena batinnya buruk.
zhanna ahdzabul haditsi” Waspadalah kalian terhadap prasangka
karena prasangka adalah seburuk buruk perkataan (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
“Janganlah kamu curiga terhadap suatu ucapan yang terlontar dari saudaramu
sesama muslim, melainkan kebaikan, selagi dirimu masih mendapatkan celah
kebaikan dalam ucapan tersebut (Kitab az Zuhd, Imam Ahmad).
prasangka. Beliau meninggalkan nasehat untuk kita, diantaranya adalah :
carilah udzur untuknya. Jika engkau tidak mendapatkannya. Maka katakanlah : Barangkali
dia punya udzur yang tidak aku ketahui.
rukuk dan sujud dia
menangis. Aku berprasangka jangan-jangan orang ini menangis karena riya. Setelah itu aku
tidak bisa menangis (dalam shalatku) selama satu tahun.
ini kecuali engkau berbaik sangka kepadanya maka lakukanlah.
bin Abdul Aziz berkata : Ayahku berkata kepadaku, wahai anakku apabila kamu
mendengar ucapan dari seorang muslim maka janganlah engkau membawanya pada
kejelekan selagi engkau masih mendapatkan celah kebaikan dalam ucapan tersebut.
tergelincir maka carilah untuknya tujuh puluh udzur. Jika
hatimu tidak menerimanya maka ketahuilah bahwa celaan itu ada pada dirimu
sendiri yaitu ketika tampak olehmu tujuh
puluh udzur tetapi engkau tidak menerimanya.
(755).





































