Azwir B. Chaniago
para ulama terdahulu dalam mencari ilmu. Mereka berjalan dari satu tempat
ketempat lain untuk belajar ilmu dari para
ulama yang telah mumpuni ilmunya. Sangatlah banyak rintangan dan
kesulitan yang mereka hadapi tapi mereka tetap tegar demi mendapat ilmu yang
bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain.
sabda Rasulullah : “Maa min khaarijin
kharaja min baitihi fii thalabil ‘ilmi illaa wa dha’at lahul malaa-ikatu
ajnihatahaa ridhan bima yashna’. Tidak seorang pun yang keluar dari
rumahnya untuk menuntut ilmu, kecuali para malaikat membentangkan sayap
untuknya karena ridha atas apa yang dilakukannya. (H.R Imam Ahmad, Ibnu Majah
dan Ibnu Hibban, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam at Targhib).
yang keluar menuntut ilmu, ia berada dalam jalan Allah hingga ia kembali. (H.R
Imam at Tirmidzi)
Allah berfirman : “Allah akan meninggikan
orang orang yang beriman diantara kamu dan orang orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”. (Q.S al Mujaadilah 11)
mencari ilmu ke negeri yang sangat jauh
dengan berjalan kaki. Lalu harus menyamar sebagai pengemis agar bisa belajar
hadits.
kaki dari negerinya yaitu Andalusia (Spanyol) menuju Baghdad, untuk belajar
ilmu hadits dari Imam Ahmad bin Hambal.
rumah Imam Ahmad dan orang orang dengan mudah menunjukan kepadaku dimana rumah
Imam Ahmad. Sesampainya di rumah Imam Ahmad (setelah memberi salam) lalu aku
mengetuk pintu rumahnya. Dia keluar, lalu aku berkata : Wahai Abdullah,
seseorang asing telah meninggalkan kampung halamannya. Ini adalah pertama kali
aku datang ketempat ini. Aku ingin mempelajari hadits dan mengalungkan sunnah
pada diriku. Tidak ada yang kutuju dari perjalanan ini selain engkau. Imam
Ahmad berkata : Masuklah ke lorong dekat tiang ini agar engkau tidak terlihat (oleh intel intel
penguasa, pen.)
asalmu ?. Jauh dari sebelah barat, jawabku. Dia kembali bertanya : Afrika ? Aku
menjawab : Lebih jauh dari Afrika. Aku harus mengarungi lautan bila ingin pergi
dari negeriku ke Afrika, negeriku Andalusia. Imam Ahmad berkata : Tempatmu
sungguh jauh. Tidak ada yang lebih aku sukai dari pada menjamu orang seperti
engkau. Akan tetapi aku berada dalam keadaan sedang diuji, mungkin engkau sudah
mendengar hal ini.
penguasa Daulah Bani Abbasiah yang
sedang berkuasa. Perselisihan ini dimulai tahun 198 H yaitu setelah meninggal
Khalifah Harun al Rasyid dan digantikan oleh anaknya al Makmun Abu Ja’far bin
Harun al Rasyid. Al Ma’mun dipengaruhi oleh aliran menyimpang yaitu Mu’tazilah
pada hal di zaman Khalifah Harun al
Rasyid Mu’tazilah ini telah dibungkam.
sengit antara Imam Ahmad dengan penguasa yang dipengarui oleh Mu’tazilah adalah :
Penguasa menetapkan bahwa al Qur-an adalah makhluk sedangkan Imam Ahmad
berpendapat dengan dalil dalil yang benar dan sangat kuat bahwa al Qur-an bukanlah makhluk tapi Kalamullah.
adalah diboikot yaitu dilarang keras untuk
mengajarkan ilmu kepada siapapun. Itulah
diantara ujian berat yang pernah dialami Imam Ahmad, pen.)
mendapat ujian. Engkau sedang diboikot tidak boleh mengajarkan ilmu kepada
siapapun. Lalu aku mengusulkan : Di negeri ini tidak ada orang yang kenal
denganku. Jika engkau mengizinkan aku akan datang setiap hari ke sini dengan
penampilan seperti seorang pengemis. Ketika sampai di pintu aku akan berkata
seperti apa yang biasa dikatakan pengemis. Kemudian engkau keluar. Kalau engkau
mengajarkan satu hadits saja setiap harinya, itu sudah cukup bagiku.
syarat engkau tidak menceritakannya kepada siapapun dan tidak juga kepada para
ahli hadits. Kukatakan : Aku memegang syarat yang engkau berikan.
sebuah tongkat dan membalut kepalaku dengan sehelai kain yang sudah sangat
lusuh. Aku tampil sebagaimana layaknya seorang pengemis. Lalu setiap hari aku
datang kerumah Imam Ahmad dan didepan
rumahnya aku berteriak : Kasihanilah aku ! Semoga Allah merahmati engkau.
menutup pintu dan mengajarkan aku dua tiga hadits bahkan terkadang lebih
banyak. Itulah yang aku lakukan terus menerus hingga aku bisa belajar dan mendapatkan
banyak hadits yang
aku bawa pulang kenegeriku yang
jauh, Andalusia. (Dari Kitab Siyar A’lam an Nubala’)
orang orang terdahulu dalam mencari ilmu sehingga mereka menjadi orang orang
yang lebih ‘alim dibanding kita. Ilmunya jadi bermanfaat bagi dirinya dan bermanfaat pula bagi orang lain.
menambah semangat kita untuk senantiasa belajar ilmu syar’i dan ilmu ilmu yang
bermanfaat bagi kaum muslimin. Wallahu A’lam. (544)






































