GHULUW DALAM BERAGAMA
ghuluw.
ghala, yaghlu yang maknanya adalah berlebih lebihan atau melampaui batas.
(Lisanul Arab)
melakukan sesuatu dengan melampaui
batas, baik dalam keyakinan maupun amalan yang justru membuatnya menyimpang
dari apa yang telah ditetapkan oleh syari’at.
agama berarti melampaui batas dengan menambah-nambah dalam memuji sesuatu atau
mencela sesuatu sehingga menyimpang jauh dari apa yang menjadi haknya
berlebihan terhadap sesuatu dan menekan hingga melampaui batas (Fathul Bari).
tercela.
yang tercela dan dilarang dalam syariat Islam. Sikap ghuluw tidak akan
mendatangkan kebaikan dan tidak memberikan sesuatu yang bermanfaat dalam segala
urusan terutama dalam menjalankan agama yang lurus.
munculnya berbagai penyimpangan dalam agama kita ini. Kita melihat bagaimana
orang yang ghuluw dalam menjalankan agama akan berbicara tentang agama tanpa ilmu, tanpa
hak sehingga mereka akan sesat dan bahkan membuat orang lain yang mengikutinya
juga sesat. Na’udzubillah.
tentang larangan ghuluw
keburukan yang banyak. Oleh karena itu Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah
melarang untuk berbuat ghuluw dan diantara
dalilnya adalah :
berfirman : “Katakanlah : Wahai ahli
Kitab. Janganlah kamu berlebih lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak
benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang orang yang
telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan
kebanyakan (manusia). Dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S al
Maa-idah 77).
janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang
orang yang melampaui batas. (Q.S al Baqarah 190)
ghuluw dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian
adalah sikap ghuluw mereka dalam agama” (H.R Imam Ahmad, an Nasa’i dan Ibnu
Majah).
diri. Sebaik baik urusan agamamu adalah yang mudah”. (H.R Imam Ahmad)
orang yang dinasehati Nabi agar tidak ghuluw.
rumah. Mereka
tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka bertanya
kepada Aisyah tentang ibadah beliau.
Setelah diberitahukan, mereka merasa ibadah beliau itu hanya sedikit. Mereka berkata : Dimanakah
kedudukan kami dibanding dengan Nabi!? Padahal telah diampuni dosa-dosa beliau
yang lalu maupun yang akan datang.
: Aku akan shalat malam terus menerus dan tidak akan tidur.
terus menerus tanpa berbuka.
Dan yang lain berkata : Aku tidak akan menikah selama-lamanya.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka seraya
mengatakan: “Kaliankah yang
mengatakan begini dan begini?! Adapun diriku, demi Allah Azza wa Jalla , aku
adalah orang yang paling takut dan paling takwa. kepada-Nya, tetapi aku berpuasa
aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur serta aku menikahi wanita!
Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.” (Matafaqun ‘alaihi).
datangnya ghuluw.
dengan cara ikut ikutan saja tidak mau belajar ilmu yang shahih tentang agama
ini. Jika seseorang ikut ikutan saja dalam beragama bahkan sampai taqlid buta
maka ini berpotensi mendatangkan ghuluw. Kenapa bisa begitu. Iya karena
seseorang yang taqlid dia hanyak mengikuti seseorang yang dipercayainya dalam
beragama. Kalau yang dikutinya adalah
orang biasa ghuluw dan mengada ada dalam agama maka iapun mengikutinya.
beribadah. Kalau dirasa baik lalu diamalkan. Diantara contohnya adalah tentang
banyak bershalawat. Bershalawat memang
sesuatu yang sangat baik. Cuma kapan waktu melakukannya dan dengan lafazh
seperti apa ini sudah ada tuntunannya. Tetapi diantara manusia dalam hal ini
ada yang hanya mengikuti perasaan dan akalnya yang pendek maka tidak diragukan
akan jatuh kepada sikap ghuluw.
lemah bahkan palsu. Hadits hadits lemah dan palsu itu sebagiannya diciptakan dan dibuat jadi
masyhur oleh sebagian orang untuk menambah nambah ibadah yang tidak ada
tuntunannya. Akhirnya mereka jatuh kepada ghuluw dalam beribadah.
dalam memaknai ghuluw.
memaknai ghuluw, yaitu :
menggampangkan atau memudah mudahkan segala sesuatu dalam agama. Tujuannya baik
yaitu menghindari ghuluw tapi ternyata akhirnya ghuluw juga yakni berlebihan
dalam menghindari ghuluw, lalu terjebak kepada taqshir.
salah dalam menilai orang orang yang melaksanakan sunnah. Diantaranya adalah
menganggap orang yang selalu menjaga waktu shalat dan setiap waktu shalat ke
masjid dianggap ghuluw. Orang yang banyak berpuasa sunnah dianggap ghuluw.
Banyak menghadiri majlis taklim dianggap ghuluw. Seorang muslimah pakai jilbab
lebar yang syar’i dikatakan ghuluw. Lalu
mereka memberi komentar : Beragama ini jangan berlebihan, biasa biasa sajalah.
Lalu kalau ditanya apa makna biasa biasa saja dalam beragama, mereka
juga tidak tahu.
saudaraku bahwa untuk menangkal itu semua ada jalan yang sangat bermanfaat
yaitu belajar ilmu syar’i dengan sungguh sungguh dan bersungguh sungguh pula
mengamalkannya.
menjauhi sikap yang buruk ini baik dalam keyakinan, ucapan maupun perbuatan
terutama dalam beribadah. Selain itu kita juga harus berhati hati dalam
menghindari ghuluw agar tidak jatuh kepada sikap taqshir yaitu memudah mudahkan
sesuatu dalam agama ini tanpa memperhatukan dalil yang shahih.




































![[Video] Saya seorang Salafy tetapi tidak Ta’ashub dengan Manhaj](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2024/10/1f53a.png?fit=72%2C72&ssl=1)

