Azwir B. Chaniago
memiliki kemampuan dan kekuatan kecuali
sebatas yang Allah Ta’ala berikan kepada siapa yang dikehendakinya. Allah telah
menetapkan takdir bagi semua makhluk-Nya. Oleh karena itu maka manusia
betapapun keadaannya hendaklah tidak merasa berat menerima ketetapan dari Allah
Ta’ala.
mendatangkan suatu manfaat bagimu yang tidak Allah tetapkan, niscaya mereka
tidak akan pernah mampu melakukannya. Dan jika mereka ingin menimpakan suatu
mudharat kepadamu yang tidak Allah tetapkan bagimu, niscaya mereka tidak akan
pernah mampu melakukannya. (H.R Imam
at Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
oleh seorang hamba di dunia, baik yang mudharat ataupun yang bermanfaat
baginya, semuanya telah ditetapkan. Semuanya telah ditakdirkan dan tidak ada
sesuatupun yang menimpa seorang hamba kecuali apa yang telah ditetapkan dalam
catatan lalu (Lauh Mahfudz), sekalipun semua mereka bersungguh sungguh untuk
melakukannya.
makna seperti ini sebagaimana disebut dalam firman-Nya : (Q.S at Taubah 51). “Qullan yushiibanaa illa maa kataballhu
lanaa huwa maulaanaa , wa ‘alallahi fal yatawakkalil mu’minuun”. Katakanlah:
Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah
untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang
beriman harus bertawakal.
laa dii anfusikum illa fii kitaabin man qabli an nabra-ahaa, inna dzaalika
‘alallahi yasiir”. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. (Q.S al Hadid 22)
khasiina alfa sanah”. Sesungguhnya Allah telah menuliskan takdir takdir
semua makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. (H.R
Imam Muslim)
: Wahai Rasulullah untuk apa kita beramal hari ini ?. Apakah untuk suatu hal
yang mana pena pena telah kering dan takdir takdirpun telah terjadi terhadapnya
atau untuk sesuatu yang akan datang ?.
mengering dan takdir takdirpun telah terjadi terhadapnya. Kata orang itu : Lalu
untuk apa kita beramal ?. Beliau bersabda : Beramallah kalian karena setiap
orang dimudahkan untuk tujuan dia diciptakan. (H.R Imam
Muslim).
oleh Allah maka dialah yang telah diberi kemenangan dan barangsiapa yang
diabaikan oleh Allah maka dialah yang terhina. Inilah realisasi dari makna : ”Laa haula walaa quwaata illaa billahi”.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena (pertolongan) Allah.
itu kata Imam Ibnu Rajab al Hanbali : Siapa yang meninggalkan (tidak) memohon kepada Allah Ta’ala dan justru meminta
pertolongan kepada yang selain-Nya maka Allah akan menyerahkannya kepadanya,
sehingga dia menjadi terabaikan dan terhina.
bahwasanya (dia) tidak akan menerima bagi dirinya kecuali apa yang telah
ditetapkan baginya apakah kebaikan atau keburukan. Manfaat maupun mudharat.
bahwasanya usaha keras makhluk untuk melakukan yang bertentangan dengan apa
yang telah ditakdirkan Allah (baginya), sama sekali tidak ada gunanya.
untuk meng-Esakan Allah Ta’ala dengan
penuh rasa takut, harap, cinta, permohonan, ketundukan dan doa serta ketaatan
kepada-Nya saja, meskipun mengakibatkan kemurkaan makhluk. (Jami’ul Ulum wal Hikam)
terbaik dan memudahkan jalan bagi kita semua untuk mendapatkan kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat kelak.






































