jiwa agar taat kepada Allah. Menahannya dari berbuat maksiat dan menahan jiwa
dari rasa tidak ridha terhadap takdir-Nya, sehingga seseorang bisa menahan
jiwanya dari menampakkan rasa marah, jemu dan bosan.
cobaan. Dalam melakukan ketaatan juga diperlukan kesabaran agar keikhlasan dan
istiqamah dalam beribadah bisa terpelihara.
melakukan ketaatan. Diantaranya adalah dalam
firmanNya : “Inna nahnu nazzalna ‘alaikal qur ana tanziilaa. Fashbir li
hukmi rabbika walaa tuthi’ minhum aatsiman au kafuuraa. Sesungguhnya Kami telah
menurunkan al Qur an kepadamu (wahai Muhammad) dengan berangsur angsur. Maka
bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu dan janganlah kamu ikuti
orang orang yang berdosa dan orang orang yang kafir (Q.S al Insaan 23-24).
: Berkaitan dengan ketaatan, maka seorang hamba haruslah sabar dalam hal ini.
Sebab tabiat jiwa manusia suka
menghindari ibadahnya. Adapula diantara ibadah yang tidak disukai karena malas,
seperti shalat. Adapula yang tidak disukai karena bakhil, seperti zakat.
Adapula (ketaatan) yang tidak disukai
karena malas dan bakhil seperti haji dan jihad.
membersihkan noda noda riya’
Allah saat beribadah. Jangan malas melaksanakan adab (suatu ibadah) dan sunah
sunahnya. Dia juga perlu sabar meninggalkan segala kesibukan agar hatinya
menjadi tenang (dalam melaksanakan ibadah).
dan tidak menceritakannya karena riya’ dan mencari nama serta hal hal yang bisa
menggugurkan amalnya. Siapa yang tidak sabar setelah bershadaqah dari perkataan
yang menyakiti hati orang yang diberi shadaqah dan menceritakannya kepada orang
lain, maka pahala sadhaqah itupun gugur.
ketaatan dan dalam segala keadaan. Terimalah
amal amal kami. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. (125)








































