memberikan berbagai kenikmatan yang
sangat banyak jumlah dan jenisnya kepada manusia. Jika kita mencoba
menghitung nikmat Allah sudah pasti kita
tidak mampu. Allah berfirman : Wain ta’uddu ni’matallahi laa
tuhsuuha” Dan jika kalian menghitung nikmat Allah pastilah tidak bisa menghitungnya. (Q.S Ibrahim 34)
yang kita peroleh adalah kemampuan berbicara atau berkomunikasi dengan sesama. Sungguh sangatlah sulit kehidupan
kita ini sekiranya Allah tidak memberi kita nikmat bisa berbicara.
diantaranya adalah dengan menggunakan nikmat itu sebagai sarana untuk mengabdikan diri dan beribadah kepada Allah. Sungguh, setiap kenikmatan yang kita peroleh
pasti akan kita pertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah.
tidak menggunakan nikmat bicara ini sebagai sarana untuk mengabdi kepada Allah,
bahkan ada yang
digunakan untuk bermaksiat kepada Allah.
Perhatikanlah diantara manusia zaman sekarang yang dengan enteng, bicara
sesuka-sukanya seolah-olah tidak akan dipertanggung jawabkan kelak dihadapan
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
menanggapi semaunya.
Berkomentar sesukanya. Berbicara sesukanya. Tidak ada keinginan sedikitpun
untuk menjaga lisannya. Diantaranya adalah :
tentang sesuatu yang sebenarnya dia tidak tahu, karena bukan bidangnya. Akibatnya, keluar perkataan yang
aneh, lucu bahkan tidak masuk akal.
pembicaraan atau komentarnya tidak diperlukan. Kenapa tidak diperlukan. Ya karena tidak ada hubungan
sedikitpun antara masalah yang dikomentari dengan yang memberi komentar.
Abdullah bin Amr berkata : Tinggalkanlah segala sesuatu yang tidak ada
hubungannya denganmu. Jangan engkau berbicara yang tidak bermanfaat bagimu.
Jagalah lidahmu seperti engkau menjaga hartamu.
tersembunyi ataupun yang tampak. Terkadang pesan sponsor juga berperan. Lalu merasa enteng
untuk berbicara tidak jujur.
berkomentar saja.
Kita masih sangat sering melihat
sebagian saudara kita yang pada saat duduk di masjid mendengar adzan tapi tidak
menyahuti adzan bahkan masih ngobrol dengan jamaah yang duduk didekatnya.
menjaga lisan :
: “Ma
yalfizhu min qaulin illa ladaihi raqibun ‘atid.” Tidak ada satu
ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada padanya malaikat pengawas yang
selalu hadir. (Q.S. Qaaf 18).
bahwa setiap kata yang kita ucapkan akan dicatat dengan sangat lengkap oleh
malaikat yang selalu berada dikiri kanan kita. Imam Hasan al Bashri dan Qatadah
berpendapat bahwa jika melihat kepada zhahir ayat jelaslah bahwa Malaikat akan
mencatat setiap ucapan.
dari Ibnu Abbas bahwa ia (Malaikat) akan menulis setiap kebaikan dan keburukan
yang diucapkan. Bahkan ia akan mencatat ucapan aku makan, minum, datang ,
pergi, melihat dan sebagainya (Tafsir Ibnu Katsir).
berkata : “Andaikata engkau bisa membeli atau memperoleh buku catatan Malaikat
(tentang dirimu), maka engkau akan trauma untuk berbicara”. Kenapa trauma,
karena kita akan kaget berat melihat catatan ucapan lisan kita yang begitu
lengkap dan tanpa kita sadari ternyata lebih banyak buruknya dari baiknya.
wassalam bersabda: “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yaqul
khairan au liyasmut”. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka
hendaklah dia berkata yang baik atau diam. (H.R. Bukhari dan Muslim, dari Abu
Hurairah).
korelasi yang kuat antara aqidah yang shahih dengan berkata yang baik. Disini
Rasulullah mengkaitkan antara beriman kepada Allah dan hari Akhir dengan
berbicara yang baik. Ketahuilah bahwa beriman kepada Allah dan hari Akhir
adalah aqidah yang lurus sedangkan
berbicara yang baik adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Dapat diambil
pemahaman bahwa orang yang aqidahnya lurus maka tentu seharusnya dia akan
berbicara yang baik atau diam.
Ashqalani antara lain menjelaskan : Perkataan itu jika tidak baik pasti jelek,
atau bermuara kepada kepada salah satunya. Termasuk perkataan yang baik adalah
segala perkataan yang dianjurkan dalam syari’at baik yang wajib maupun yang
sunnah. Begitu pula semua perkataan yang mengarah kepadanya. Adapun perkataan
yang buruk dan segala yang mengarah kepada keburukan, maka diperintahkan untuk
diam. (Fathul Bari).
maka hendaklah ia berfikir tentang pembicaraannya. Jika tampak mashlahatnya
maka berbicaralah. Namun jika ragu akan kemashalahatannya maka hendaklah ia tidak
berbicara.
salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut benar-benar
baik dan berpahala, baik dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan
ia mengatakannya. Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan
berpahala atau perkataan itu tampak samar baginya antara haram, makruh dan
mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya. Berdasarkan hal ini, maka perkataan
yang mubah tetap dianjurkan untuk ditingggalkan dan disunnahkan menahan diri
untuk tidak mengatakannya, karena khawatir akan terjerumus kepada perkataan
yang haram dan makruh. Inilah yang sering terjadi (Syarah Shahih Muslim)
“Semoga Allah merakhmati orang yang menahan diri dari banyak berbicara dan
lebih mengutamakan banyak beramal”. (Uyun al Akhbar, Ibnu Taimiyah).
perhatikan kebanyakan manusia sekarang ini. Sungguh akan kita dapati
sebaliknya. Mereka lebih mengutamakan banyak berbicara sementara amal mereka mungkin
dipertanyakan.
oleh kalian sikap berlebihan dalam berbicara. Cukuplah bagi seseorang untuk berbicara
seperlunya” (Jami’ul Ulum
wal Hikam, Ibnu Rajab al Hambali).
berlaku adillah terhadap telingamu daripada lidahmu. Karena tidaklah diciptakan
telinga itu dua kecuali agar kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara” (Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah).
terimalah doaku, kuatkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku, jagalah lisanku
dan hilangkan rasa dengki dari hatiku. (H.R bu Dawud dan Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas).






































