beberapa sahabat diantaranya ada Muadz bin Jabbal. Muadz duduk agak jauh dari
Rasulullah. Rasulullah bersabda : Muadz
mendekatlah. Lalu Muadz segera mendekat karena dia tahu kalau Rasulullah
menyuruhnya mendekat wajib segera dipenuhi dan pasti ada suatu hal penting dan
berharga yang akan disampaikan.
aku mencintaimu karena Allah.” Muadz kaget bercampur gembira karena Muadz ingat
satu hadits dari Anas bin Malik. “Anta ma’a man ahbabta”
Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai. Atau dalam riwayat lain
dari Ibnu Mas’ud : “Al mar’u ma’a man ahabta”.
Seseorang akan bersama dengan siapa yang dicintainya. Terbayang pada pikiran
Muadz bahwa insya Allah dia akan bersama Rasulullah di surga.
oleh Rasulullah.
selesai shalat jangan lupa membaca : Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni
‘ibadatika” Ya Allah aku mohon pertolongan agar aku selalu ingat kepada
engkau, agar aku selalu bersyukur kepada engkau dan agar aku beribadah kepada
engkau dengan baik. (H.R Imam Ahmad dan Abu Dawud).
dimaksudkan oleh beliau untuk diketahui dan diamalkan oleh seluruh pengikut
beliau sampai hari kiamat termasuk kita yang hidup saat ini.
mencakup tiga permohonan atas tiga kebutuhan yang sangat utama bagi manusia
yaitu :
berdzikir kepadaNya.
diberi kekuatan melakukannya.Ketahuilah saudaraku bahwa urusan berdzikir
bukanlah sekedar bibir dan lidah saja tapi berkaitan dengan hidayah Allah.
Berapa banyak manusia memiliki lidah dan
bibir yang sempurna tetapi tidak mampu berdzikir. Kalaupun mampu, mereka
berdzikir sangat sedikit.
adalah kebutuhan manusia. Diantaranya adalah bahwa dzikir itu sebagai ibadah
dan membuat hati menjadi tenang. Allah
berfirman : “Alladzina aamanuu wa tathma-innu quluubuhum bidzikrillah, alaa
bidzikrillahi tathma-innul quluub. (Yaitu) orang orang yang beriman dan
tenteram hatinya dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah
(sajalah) hati menjadi tenang. (Q.S ar Ra’du 28).
bersyukur.
karena dengan banyak bersyukur paling tidak manusia akan mendapatkan dua hal
yaitu nikmat yang ada padanya tetap akan ada dan akan ditambah lagi oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala (Lihat surat Ibrahim ayat 7).
nikmat yang banyak kepada kita dan bahkan kita tidak mampu menghitungnya. Allah
berfirman : “Wain ta’udduu nikmatallahi la tuhsuuhaa” Dan sekiranya
(kamu mencoba) menghitung nikmat Allah maka tidak akan terhitung olehmu. (Q.S.
Ibrahim 34)
baik.
kepadaNya. Adalah menjadi harapan dan keinginan kita agar selalu bisa beribadah
dengan baik. Sungguh kita butuh beribadah dengan baik. Ketahuilah
bahwa,tidaklah kita mampu untuk beribadah dengan baik kecuali dengan
pertolongan Allah.
adalah yang memenuhi dua syarat yaitu : Pertama ikhlas karena Allah.
Kedua ittiba’ yaitu sesuai contoh dan cara yang diajarkan oleh
Rasulullhah.
‘amala” yaitu amalan atau ibadah yang baik. Imam Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa makna ahsanu ‘amala dalam ayat ini adalah
amalan yang ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti contoh
yang diajarkan oleh Rasulullah.





































