yang hidup saat ini sedang dalam perjalanan menuju akhirat. Dalam perjalanan
menuju akhirat ini tidak seorangpun tahu siapa yang lebih dahulu sampai yaitu
melalui pintu kematian.
perjalanan ini walau sejenak apalagi mundur kebelakang untuk menghindar atau
keluar dari rute perjalanan. Perhatikanlah firman Allah : “Yaa aiyuhal
insaanu innaka kaadihun ila rabbika kad-han famulaaqiih.” Wahai manusia
sesungguhnya kalian itu benar-benar sedang berjalan menuju Rabb kalian dan
kalian pasti akan menemui-Nya. (Q.S al Insyiqaq 6).
Mencurahkan seluruh tenaga, pikiran, waktu dan apapun demi mempersiapkan
kebutuhan atau bekal untuk dunia yang hanya sesaat. Mereka begitu hebat dalam
menyusun semua rencana dan langkah langkah untuk mendapatkan kesuksesan
duniawi.
sebagai bekal. Ya boleh jadi dia tidak mau mengerti dan tidak peduli tentang
bagaimana nasibnya di akhirat kelak. Pikiran mereka kosong dari mempersiapkan
bekal untuk negeri akhirat yang abadi.
dalam al Qur’an surat ar Rum ayat 7. “Ya’lamuuna
zhahiran minal hayatid dun-yaa, wahum ‘anil aakhirati hum ghaafiluun.” Mereka
mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap
(kehidupan) akhirat mereka lalai.
kebanyakan manusia, mereka tidak punya pengetahuan kecuali tentang dunia dan
pergulatan serta kesibukannya. Juga segala yang ada didalamnya dan mereka cukup
cerdas untuk mencapai dan menggeluti berbagai kesibukan dunia. Tapi mereka
lalai terhadap urusan agama dan berbagai hal yang bermanfaat bagi mereka di
alam akhirat kelak. Seakan akan seorang dari mereka yang lalai itu tidak
berakal dan tidak memiliki pemikiran.
berbekal dan menyuruh kita untuk memperhatikan apa yang telah kita lakukan
sebagai persiapan menuju hari akhirat.
taqullaha wal tanzhur nafsun maa qaddamat lighad, wattaqullaha, innallaha
khabirun bimaa ta’maluun.” Wahai orang-orang yang beriman. Bertakwalah
kalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Hasyr 18).
tiga perintah Allah :
bertakwa kepada Allah dalam firmanNya : “Bertakwalah kalian kepada
Allah.” Takwa bermakna mengerjakan segala hal yang diperintahkan dan
meninggalkan segala hal yang dilarang
Allah dan RasulNya.
yang akan ia bawa untuk menghadap Allah di hari akhir kelak, sebagaimana
firmanNya “Hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok.”
penegasan dari perintah bertakwa yang pertama.
diinginkan adalah ketakwaan yang
benar–benar kuat mengakar dalam jiwa dan dibuktikan dalam amalan nyata. Itulah
ketakwaan yang telah diperkuat oleh proses evaluasi diri (muhasabah) sehingga
mengantarkan seorang hamba kepada tingkatan merasakan pengawasan Allah yang
melekat (muraqabah).
terutama dan paling utama adalah takwa
Allah berfirman : “Wa tazauwaduu, fainna khairaz zaadit taqwa,
wattaquuni yaa uulil albaab.” Dan bawalah bekal, sesungguhnya sebaik-baik
bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepadaKu wahai orang orang yang berakal
sehat. (Q.S al Baqarah 197).
hari akhirat itu memiliki tempat yang paling diidamkan oleh setiap muslim yaitu
surga. Dan ketahuilah bahwa surga itu hanya disediakan untuk orang yang
bertakwa tidak untuk yang selainnya.
mirrabbikum wa jannatin ardhuhas samaawatu wal ardhu, ‘u’iddat lil muttaqiin. Dan
bersegeralah kamu mencari ampunan Allah dan mendapatkan surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang–orang
yang bertakwa. (Q.S Ali ‘Imran 133).
mempersiapkan takwa sebagai bekal terbaik bagi akhirat kita, yaitu dengan
sungguh sungguh melakukan apa yang diperintahkan Allah serta berhenti dari segala yang dilarang-Nya.





































