*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini Klik Disini
Bandara
Sultan Iskandar Muda, kini telah menjadi bandara internasional. Bandara ini
dulu disebut Lapangan Terbang Blang Bintang. Hal ini karena area dimana
lapangan terbang dibangun berada di Blang Bintang (seperti halnya Poloni di
Medan dan Tabing di Padang serta Tjililitan di Batavia atau kini Jakarta).
Lapangan terbang Blang Bintang saat itu dibangun untuk perluasan jaringan
transportasi udara dari Medan ke Kota Radja. Kini bandara Sultan Iskandar Muda
tidak hanya melayani jaringan transportasin udara antar kota antar provinsi
(AKAP) tetapi sudah antar negara dan antar kota dalam provinsi (AKDP).

(kampong) kini namanya dijadikan sebagai nama kecamatan di kabupaten Aceh Besar
(memiliki 26 gampong). Jarak dari pusat kota Banda Aceh ke bandara Sultan
Iskandar Muda sekitar 17 Km. Tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh.
Bandara ini secara geografis berada sedikit di ketiggian (Kota Banda Aceh)
sekitar 20 meter di atas permukaan laut. Mengapa dipilih di situ, besar dugaan
karena secara geografis dan secara aviasi paling sesuai untuk navigasi
penerbangan. Dari bandara ini cukup jelas terlihat gunung Seulawah Agam di
kejauhan. Bandara ini berada di arah timur jalan trans-Aceh ruas Banda
Aceh-Sigli, oleh karenanya mudah dijangkau dari Kota Sigli (ibu kota kabupaten
Pidie).
Lantas
bagaimana sejarah bandara Sultan Iskandar Muda? Kita harus kembali ke era Lapangan Terbang Blang
Bintang. Tidak seperti lapangan terbang Polonia, tetapi suatu lapangan terbang
yang dirintis sejak era pendudukan militer Jepang. Setelah sempat vakum lama,
pada tahun 1953 Ir Tarip Abdullah Harahap mengaktifkannya kembali. Bagaimana
bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya
untuk lebih menekankan saja*.
Lapangan Terbang Blang Bintang:
Ir. Tarip Abdullah Harahap
Pembangunan
lapangan terbang di Blang Bintang, pada dasarnya tidak hanya karena faktor
geografis dan navigasi penerbangan tetapi juga karena faktor (kebutuhan)
militer Jepang. Seperti di berbagai tempat, militer Jepang tidak mengambil
posisi pertahanan di pantai tetapi agak jauh di belakang pantai. Hal itulah
mengapa lokasi yang ditetapkan sebagai lapangan terbang baru berada di Blang
Bintang.

Hindia Belanda. Pada Peta 1898, diidentifikasi Blang Bintang sebagai suatu sub-district
dengan ibu kota di Tjot Mantjang. Wilayah sub district Blang Bintang termasuk
wilayah Distrik XXVI Moekim (satu dari III Sagi). Sub-district Blang Bintang ini
terdiri dari dua mukim yakni IV Moekim Ateue dan III Moekim Lam Rabo yang keduanya
tergabung dalam XIII Moekmi Olee Kareng. Dari wilayah Blang Bintang terdapat
tokoh-tokoh yang menentang kehadiran militer Hindia Belanda yakni Teuku Dram Bintang
dan Teoeku Imam Bintang (lihat Bataviaasch handelsblad, 26-08-1874). Perang di
Blang Bintang ini dilanjutkan tokoh muda berikutnya Teoekoe Moeda Baid (lihat Bataviaasch
handelsblad, 30-10-1878). Yang juga
turut angkat senjata dari kawasan ini adalah Imam Long Batak (lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-07-1879). Di
Blang Bintang terdapat benteng pribumi (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-07-1879). Akhirnya (benteng) Blang
Bintang jatuh ke tangan militer Hindia Belanda. Sebagaimana kelak diketahui
Teoekoe Baid diasingkan ke Banda (setelah lama di Banda dan sudah menua Teokeo
Baid baru dipindahkan dari Banda ke penjara Atjeh pada tahun 1900).
Di
kawasan Blang Bintang inilah kemudian pada era pendudukan militer Jepang
dibangun lapangan terbang. Kawasan Blang Bintang tidak hanya terkenal penghasil
beras yang utama, juga riwayat perang di Blang Bintang selalu dikenang. Hal ini
pernah dikisahkan seorang veteran perang Atjeh.
Sumatra-bode, 24-01-1933: ‘di benteng kami di
Toengkoep, dari sana membentang hampir ke selatan dan terus ke benteng kami.
Pajaoe, Senelop dan Montassik adalah daerah yang cukup berawa dan terpencil,
berpotongan dengan labirin anak sungai, dan sisanya merupakan hutan belantara
tropis sejati yang dilalui oleh beberapa jalan setapak yang sempit dan
diantaranya terletak disana-sini beberapa rumah bambu yang berdiri, yang
kemudian disebut apa yang disebut kampung. Di sebelah timur, di luar jalur yang
padat rimbun itu, medannya lebih terbuka dan ada Blang Bintang yang sangat luas
yang terkenal di Aceh, rantai lapangan sawab yang sangat besar, dimana manusia
memiliki pandangan yang luas dan tidak terhalang tetapi juga di sisi lain.
Cakrawala di mana-mana dibatasi oleh tumbuhan rimbun dan kampung-kampung. Pada
catatan yang lain diketahui bahwa sejak 1921 di kawasan Blang Bintang ini semua
aktivitas militer telah dikosong karena dinyatakan sudah sangat kondusif.
Pasukan marsose direlokasi ke tempat lain di wilayah Hindia Belanda (lihat Deli
courant, 29-06-1935).
Sejak
berakhirnya era kolonial Belanda dan pendudukan militer Jepang, nama Blang
Bintang tidak pernah diberitakan lagi. Blang Bintang kembali sepi sendiri. Baru
setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda dan dibubarkannya RIS pada
17 Agustus 1950 kebandaraan dan aviasi penerbangan diambilalih oleh Republik
Indonesia dari orang Belanda. Sebagai Direktur Penerbangan Sipil diangkat Ir.
Tarip Abdullah Harahap.
Tarip Abdullah Harahap lulus dari Techniche
Hoogeschool di Bandung pada tahun 1939. Awalnya bekerja sebagai konsultan
teknik sipil di Bandoeng dengan mendirikan perusahaan konsultan hingga
pendudukan militer Jepang. Pada saat Belanda (NIC) menguasai Djakarta,
Buitenzorg dan Bandoeng Ir. Tarip Abdullah Harahap ikut berhijrah ke ibu kota
Republik Indonesia di Djogjakarta. Saat itu yang menjadi Menteri Pertahanan RI
adalah Mr Amir Sjarifoeddin Harahap. Di Djogjakarta, Ir. Tarip Abdullah Harahap
ditunjuk untuk mengorganisir transportasi darat di wilayah Republiken. Ir. Tarip
Abdullah Harahap mendirikan perusahaan jawatan peerintah dengan nama Djawatan
Angkoeta Motor Republik Indonesia yang disingkat DAMRI. Inilah awal eksistensi
DAMRI hingga ini hari.
Setelah
selesai urusan penerbangan dan kebandaraan di (pulau) Jawa, Palembang dan Medan,
Ir Tarip Abdullah Harahap mulai mengembangkan pengoperasian jalur penerbangan ke
ujung barat Indonesia di Kota Radja dan ke wilayah timur Indonesia. Pada bulan
Mei 1951, Ir Tarip Abdullah Harahap mengumumkan kesiapan bandara Blang Bintang
untuk didarati pesawat Convairs (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 05-05-1951).
Dari pihak maskapai GIA di Medan mengumumkan
bahwa terhitung mulai 1 Mei hubungan udara antara Medan dan Kotaradja dikelola
oleh GIA empat kali seminggu, yaitu setiap hari Selasa, Rabu, Jumat dan Sabtu.
Pesawat berjadwal dari Jakarta selanjutnya akan terbang ke Aceh setelah singgah
di Medan. Juga diberitakan bahwa lapangan terbang Blang Bintang dekat Kutaradja
telah selesai dibangun, lapangan udara ini akan cocok sebagai tempat pendaratan
Convairs. Sudah dilakukan uji terbang dengan Convair dan hasilnya sangat
memuaskan. Namun masih ada persoalan dengan Blang Bintang yang harus
diselesaikan yang terkait berbagai kendala teknis. Misalnya, tidak ada bangunan
stasiun, tidak ada layanan meteorologi, tidak ada mesin kerek, dll. Selain juga
jalan dari bandara ini ke Kutaradja belum sepenuhnya selesai dan hingga sekarang
ruas jalan sepanjang 8 Km tidak bisa dilewati. Dari Kutaradja kantor berita
Aneta mengabarkan bahwa AURI jika GIA sudah mengoperasikan lapangan terbang Blang
Bintang, AURI akan segera menggunakan lapangan terbang Nga Sekarang.
Tampaknya
bandara Blang Bintang disegerakan diduga terkait dengan kunjungan Presiden
Soekarno ke Atjeh. Sementara persiapan pengoperasian layanan GIA ke Atjeh dan segera
setelah sistem aviasi lapangan terbang Blang Bintang selesai, Presiden Soekarno
berkunjung ke Atjeh di Koeta Radja. Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Kota
Radja pada tahun 1948 pada era Perang Kemerdekaan (saat itu ibu kota RI di
Djogjakarta).

advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-05-1951: ‘Ir. Tarip Abdullah
Harahap di Makasser, Kepala Deparrtemen Penerbangan Sipil Kementerian
Perhubungan berdiskusi dengan tentara dan administrasi sipil, menyangkut
rencana untuk memulihkan hubungan udara antara Djakarta dan Ambon melalui
Makasser.
Presiden
Soekarno melakukan kunjungan dinas ke Atjeh pada bulan Agustus 1951 (lihat Het
nieuwsblad voor Sumatra, 02-08-1951). Dalam kunjungan dua hari di Kota Radja
Presiden Soekarno didampingi Gubernur Sumatra Utara Abadul Hakim Harahap,
Kolonel Simbolon (panglima) dan Darwin Karim (kepala kepolisian Sumatra Utara).
Catatan: Provinsi Sumatra Utara terdiri dari tiga residentie (Tapanoeli, Atjeh
dan Sumatra Timur).
Pada bulan Oktober Ir. Tarip A. Harahap
berangkat ke Australia untuk mempelajari sistem penerbangan sipil yang mencakup
kontrol lalu lintas udara, komunikasi, pelatihan staf dan pilot, serta
penerbangan umum di Australia. (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 17-10-1951).
Sehubungan
dengan semakin banyaknya lapangan terbang yang dioperasikan dan untuk
mengantisipasi standardisasi penerbangan sipil serta peningkatan kapasitas
(berbagai jenis) pesawat-pesawat komersil, Departemen Penerbangan Sipil mulai
bembentuk komisi penerbangan sipil. Komisi dibentuk untuk memperkuat kinerja
Departemen Penerbangan Sipil dan juga melakukan pengawasan langsung terhadap
kelayakan lapangan terbang. Komisi ini terdiri dari berbagai bidang keahlian.
Het nieuwsblad voor Sumatra, 28-07-1952
melaporkan di Medan telah dibentuk sebuah komisi penerbangan (civil aviation)
dalam rangka mengevaluasi kelayakan bandara Polonia Medan dan juga untuk
melakukan studi persiapan bandara Blang Bintang di Kota Radja (kini Banda Aceh)
untuk persiapan pendaratan jenis pesawat Convalrs. Komisi terdiri dari Tarip
Abdullah Harahap (ketua).
Selama
Ir. Tarip Abdullah Harahap menjabat sebagai Kepala Departemen Penerbangan Sipil
(yang pertama), sebanyak 30 bandara dioperasikan untuk penerbangan sipil dan
sebanyak 20 buah bandara baru yang dibangun (termasuk bandara Curug, Tangerang.
Pembangunan bandara di Tjurug, Tangerang, untuk pelatihan pilot, menelan biaya
sebesar Rp 1952. 1.900.000 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-02-1953).
Sementara itu sebanyak 100 siswa saat ini
sedang dilatih untuk menguasai bandara, operator menara, operator telegraf
radio, mekanik dan insinyur radio di Tangerang, disebutkan sudah ada tiga orang
yang pelatihan dari Schiphol dan dua dari Australia yang sudah kembali. Mereka
telah mengikuti pelatihan Airtraffic Controller selama enam bulan. Pada bulan
April, seorang insinyur penerbangan akan berangkat ke Australia, seorang
pejabat ekonomi untuk Kanada, seorang perwira teknis radio untuk Amerika, dan
seorang wakil ketua bandara untuk Inggris. Mereka akan mengikuti kursus enam
hingga dua belas bulan di sana (lihat De nieuwsgier, 03-03-1953).
Pada
bulan Juni 1953 bandara di Indonesia mulai dimodernisasi (lihat De nieuwsgier,
12-06-1953). Disebutkan peralatan kontrol lalu lintas radio yang baru mulai
dioperasikan yang pertama di bandara Talang Betutu di Palembang pada hari Rabu
pagi. Unit ini, yang sangat modern, yang tahun lalu oleh Kementerian Koneksi
dipesan di Inggris. Ir Tarip Abdullah Harahap dari kementerian menyatakan
kepada PIA bahwa total ada sebanyak 30 unit yang dipesan oleh kementerian di
Inggris. Bandara kedua yang akan mendapatkan unit seperti itu setelah Palembang
adalah bandara Makassar, demikian menurut Ir. Harahap.
Setelah jalur Soerabaja ke Ambon via Makassar
selesai, Direktorat Penerbangan Sipil memastikan kelayakan lapangan-lapangan
terbang yang ada di Denpasar, Sumbawa, Waingapu, Kupang, Mauere dan Makassar
(lihat Java-bode:nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
25-03-1954). Sejak saat inilah lapangan terbang Denpasar direvitalisasi dari
lapangan terbang militer menjadi bandara sipil. Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-06-1954: ‘Ir. T Harahap, kepala
departemen teknis dari Layanan Penerbangan Sipil dari Kementerian Perhubungan,
yang telah melakukan perjalanan orientasi satu bulan ke Prancis, baru-baru ini
kembali ke Indonesia. Ir. Harahap menjelaskan kepada PI dan Aneta bahwa
perjalanannya terutama ditujukan untuk mempelajari teknologi untuk pembangunan
bandara.
Dalam
perkembangannya, setelah sistem penerbangan sipil nasional berjalan dengan
baik, akhirnya Ir. Tarip Abdullah Harahap diangkat menjadi Kepala Dinas
Pekerjaan Umum (PU) yang baru di Medan (lihat Sumatra, 15-11-1957).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Bandara Sultan Iskandar Muda:
Bandara Internasional
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



















