HUKUM BERMUAMALAH DENGAN PENGANUT SYIAH

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
Pertanyaan:
Saya seorang pengajar. Bersama kami juga ada beberapa pengajar penganut Syiah. Saya bekerja bersama mereka. Saya memohon nasihat Anda tentang bermuamalah dengan mereka.
Jawaban:
Anda hendaknya menasihati dan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Anda ajari mereka bahwa menganut agama Rafidhah itu tidak diperbolehkan; memang kita wajib mencintai dan meridhai Ali radhiallahu โanhu, tetapi kita tidak boleh ghuluw (melampaui batas). Tidak boleh dikatakan bahwa Ali mengetahui perkara gaib dan maksum. Tidak boleh pula Ali dijadikan tujuan dipanjatkannya doaโbersama Allahโdan tidak boleh beristighatsah dengannya atau dengan Fathimah radhiallahu โanha, al-Hasan, al-Husain, Jaโfar ash-Shadiq, dan selainnya.
Anda ajari mereka bahwa inilah yang wajib dilakukan. Anda nasihati mereka. Jika mereka bersikeras di atas bidโah tersebut, Anda wajib meng-hajr (memboikot) mereka, meski mereka bekerja bersama dengan Anda. Anda meng-hajr mereka dengan tidak menjawab salam, tidak pula memulai mengucapkan salam kepada mereka.
Akan tetapi, apabila mereka tidak menampakkan bidโah mereka dan secara lahiriah menampakkan kesamaan dengan Anda, mereka dihukumi sebagai munafik. Anda bermuamalah dengan mereka sebagaimana muamalah dengan orang munafik, tidak mengapa. Hal ini seperti Nabi shallallahu โalaihi wa sallam bermuamalah dengan kaum munafik di Madinah yang menampakkan keislaman dan tidak berbuat jahat (kepada kaum muslimin); Nabi shallallahu โalaihi wa sallam memperlakukan mereka layaknya kaum muslimin sedangkan urusan batin mereka diserahkan kepada Allahโazza wa jalla.
Majmuโ Fatawa wa Maqalat Mutanawwiโah, Ibnu Baz, 28/265
Majalah Asy Syariah online
Majmu’ah Ashhaabus Sunnah
Channel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah









































