الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat, amma ba’du:
tentang al amtsal (perumpamaan-perumpamaan), semoga Allah
menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
كَمَثَلِ رَجُلٍ كَانَتْ عَلَيْهِ دِرْعٌ ضَيِّقَةٌ قَدْ خَنَقَتْهُ، ثُمَّ عَمِلَ
حَسَنَةً، فَانْفَكَّتْ حَلْقَةٌ، ثُمَّ عَمِلَ حَسَنَةً أُخْرَى، فَانْفَكَّتْ حَلْقَةٌ
أُخْرَى، حَتَّى يَخْرُجَ إِلَى الْأَرْضِ
perumpamaan orang yang mengerjakan keburukan lalu mengerjakan kebaikan adalah
seperti seorang yang mengenakan baju besi yang sempit yang menghimpit badannya.
Ketika ia mengerjakan kebaikan, maka terlepaslah ikatan yang satu, dan ketika
ia mengerjakan kebaikan lagi, maka terlepaslah ikatan kedua sehingga ia terasa bebas
(lega) di muka bumi.” (Hr. Ahmad dan
Thabrani dengan dua isnad; dimana salah satu isnadnya adalah para perawi kitab
shahih. Dishahihkan oleh Al Albani dalam
Shahih At Targhib no. 3157)
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
pernah ditemui Umar dalam keadaan berbaring di atas tikar sehingga membekas di
rusuk Beliau, maka Umar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau aku buatkan
kasur yang lebih empuk dari ini?” Beliau bersabda,
سَارَ فِي يَوْمٍ صَائِفٍ فَاسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ
رَاحَ وَتَرَكَهَا “
urusanku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia ini melainkan seperti seorang
pengendara yang berjalan di hari yang panas, lalu berteduh di bawah pohon hanya
sesaat di siang hari, setelah itu pergi meninggalkannya.”
Ahmad, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan Baihaqi. Disahihkan oleh Al Albani
dalam Shahih At Targhib no. 3283)
radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
مَثَلِي وَمَثَلُ أُمَّتِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَجَعَلَتِ الدَّوَابُّ
وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهِ، فَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ وَأَنْتُمْ تَقَحَّمُونَ
فِيهِ»
perumpamaan aku dengan umatku adalah seperti seorang yang menyalakan api, lalu serangga-serangga
dan laron berjatuhan ke dalamnya, aku berusaha menarik kalian, namun kalian
malah menjatuhkan diri ke dalamnya.”
Bukhari dan Muslim. Dalam sebuah riwayat Muslim disebutkan,
كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ
وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا، وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ
وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا، قَالَ فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ، أَنَا
آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنِ النَّارِ فَتَغْلِبُونِي
تَقَحَّمُونَ فِيهَا»
yang menyalakan api. Ketika api itu telah menerangi sekelilingnya, maka laron
dan serangga ini menjatuhkan diri ke dalamnya. Aku mencegah mereka, namun
mereka malah mendesakku sehingga mereka jatuh ke dalamnya. Demikianlah perumpamaan aku dengan kalian. Aku
mencegah kalian agar jangan masuk neraka sambil mengatakan, “Hindarilah neraka! Hindarilah neraka!” Kalian malah mendesakku sehingga kalian jatuh ke
dalamnya.”
oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 3660)
Meninggalkannya
Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wa salllam,
Beliau bersabda,
قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ
أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا
عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ
نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ
أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا
orang yang menegakkan aturan Allah dengan orang yang melanggarnya seperti
sebuah kaum yang mengambil tempat di sebuah kapal, sebagian menempati bagian
atas, sedangkan sebagian lagi menempati bagian bawah. Mereka yang menempati
bagian bawah ketika hendak mengambil air harus melewati orang-orang yang berada
di atas, akhirnya mereka berkata, “Kalau sekiranya kita lubangi kapal agar kita
memperoleh bagian kita (air) sehingga tidak mengganggu orang-orang yang
menempati bagian atas kapal. Jika mereka membiarkannya, maka mereka binasa
semua, dan jika mereka mencegahnya, maka mereka akan selamat semuanya.” (Hr.
Bukhari dan Tirmidzi. Disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib
no. 2309)
Abu Musa, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا
أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ:
إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak
wangi dan peniup besi (tukang pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, maka
bisa saja ia memberikan minyak wangi kepadamu atau engkau bisa beli daripadanya
atau engkau mendapatkan aroma yang wangi daripadanya, sedangkan tukang pandai
besi, maka bisa saja membuat bajumu terbakar atau engkau mendapatkan aroma yang
tidak sedap daripadanya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Atas Keburukan
bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
رُدِّيَ فِي بِئْرٍ، فَهُوَ يَنْزِعُ مِنْهَا بِذَنَبِهِ
orang yang membantu kaumnya namun tidak di atas kebenaran seperti unta yang
jatuh ke dalam sumur, lalu ia menarik unta itu dengan menarik ekornya (yakni
dia akan ikut jatuh ke dalam sumur).” (Hr. Baihaqi, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu
Hibban, dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no.
5838)
Sikap Manusia Dalam Menerima Ilmu Yang Disampaikan Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam
sallam bersabda,
بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ
مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ،
وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ،
فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا
هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ
فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ
مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ
بِه
dengannya seperti hujan deras yang menimpa sebuah tanah, di antara tanah itu
ada yang subur siap menerima air dan menumbuhkan tanaman dan tumbuh-tumbuhan
yang banyak, ada pula tanah yang tandus, tetapi dapat menampung air, lalu Allah
menjadikannya bermanfaat bagi manusia, kemudian mereka meminum airnya,
mengambil airnya dan bercocok tanam. Hujan itu juga menimpa tanah yang lain
yang seperti tanah datar yang licin yang keadaannya tidak menampung air dan
tidak menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang faham agama Allah dan bermanfaat
baginya (petunjuk dan ilmu) yang Allah mengutusku dengannya, ia pun belajar dan
mengajarkan dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya (tidak
peduli) dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (Hr.
Bukhari dan Muslim)
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam Sebagai Penutup Para Nabi Dengan
Nabi-Nabi sebelumnya alaihimush shalatu was salam
anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
فِي النَّبِيِّينَ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَحْسَنَهَا وَأَكْمَلَهَا وَأَجْمَلَهَا
وَتَرَكَ مِنْهَا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِالبِنَاءِ وَيَعْجَبُونَ
مِنْهُ، وَيَقُولُونَ: لَوْ تَمَّ مَوْضِعُ تِلْكَ اللَّبِنَةِ، وَأَنَا فِي النَّبِيِّينَ
مَوْضِعُ تِلْكَ اللَّبِنَةِ “
seorang yang membangun rumah, lalu ia memperbagusnya, menyempurnakannya dan
memperindahnya, lalu ia tinggalkan satu tempat batu bata (yang tidak
ditutupnya). Kemudian orang-orang mengelilingi bangunan itu dan kagum terhadapnya
sambil berkata, “Kalau sekiranya ditutup tempat batu bata itu (tentu lebih
baik lagi).” Oleh karena itu, aku di tengah-tengah para nabi adalah
(penutup) tempat batu bata itu.” (Hr. Tirmidzi, ia berkata, “Hasan shahih,” Hadits
ini dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami. Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dari Ubay bin ka’ab. Diriwayatkan oleh
Ahmad, Bukhari, dan Muslim dari Jabir. Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan
Muslim dari Abu Sa’id).
yang mengejar dunia seperti orang yang menanam rumput, sehingga tidak tumbuh
padi. Sedangkan orang yang mengejar akhirat seperti orang yang menanam padi,
maka rumput akan ikut pula tumbuh.
yang menutup aurat seperti sebuah makanan yang tertutup rapi sehingga dibeli
oleh orang-orang yang baik, sedangkan orang yang membuka aurat seperti makanan
yang tidak ditutup sehingga didatangi oleh lalat-lalat.
yang ingin masuk surga namun tidak mau beramal saleh sama seperti orang yang
ingin menjadi orang kaya namun tidak mau bekerja.
penuntut ilmu yang belajar namun tidak membawa alat tulis seperti petani yang
pergi ke sawah tidak membawa cangkul.
wa sallam.
Maraji’: Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an (Penulis),
Shahih At Targhib wat Tarhib (Syaikh M. Nashiruddin Al Albani), Shahih
Al Jami Ash Shaghir (M. Nashiruddin Al Albani), Maktabah Syamilah,
dll.






































