TERPELIHARA
suatu waktu, kita diperlakukan tidak baik, mungkin pula dizhalimi dan yang
lainnya, Dalam perkara ini hendaklah seorang hamba suka memaafkan saudaranya.
Ketika seseorang tak mau memaafkan saudaranya maka KERUGIAN YANG NYATA PADANYA
adalah hubungan persaudaraan menjadi rusak bahkan bisa jadi terputus.
sangatlah terpuji dalam syariat Islam. Bahkan suka memaafkan merupakan salah
satu sikap orang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman :
وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ
يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S Ali Imran 134)
akan memperoleh kebaikan yang banyak. Pahalanya dijamin oleh Allah Ta’ala,
sebagaimana firman-Nya :
مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا
يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
yang setimpal tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang
berbuat buruk) maka pahalanya dari Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang
orang yang zhalim. (Q.S asy Syura 40).
: Hendaklah setiap orang memiliki sifat mudah memaafkan yang lain. Tidak semua
isu yang sampai ke telinganya ia terima mentah mentah. Lantas dia membenci
orang yang menyuarakan isu yang tidak menyenangkan itu.
Allah Ta’ala sangat menyukai orang yang memiliki sikap mulia tersebut, yang
mudah memaafkan orang lain. Lantaran itu, ia akan diberi ganjaran. Karena jika
dibalas dengan saling mempermalukan dan menjatuhkan pasti konflik yang terjadi
tak kunjung usai. Permusuhan akan tetap ada. Jika dibalas dengan diam,
rampunglah perselisihan yang sedang berkecamuk. (Syarh Riyadhus Shalihin)
suka memaafkan manusia adalah memperoleh ampunan Allah Ta’ala. Allah berfirman :
تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
dada. Apakah kamu tidak menginginkan Allah mengampunimu dan Allah Maha Pengasih
dan Maha Penyayang. (Q.S an Nur 22)
Bakar Abu Zaid antara dijelaskan bahwa : Ayat ini turun berkenaan dengan sumpah
Abu Bakar ash Shiddiq bahwa dia tidak akan memberi apa apa lagi (tidak membantu
lagi, pen.) kepada kerabatnya (diantaranya adalah Miisthah bin Utsasah) ataupun
orang lain (karena kesalahan mereka, pen.) yang terlibat dalam menyiarkan dan
menyebarkan berita bohong tentang fitnah yang keji yang ditujukan kepada Aisyah
putri beliau. Maka turunlah ayat ini, melarang beliau melaksanakan sumpahnya
itu, menyuruh berlapang dada terhadap mereka.
kesalahan saudaranya bahkan ingin membalas dan kalau bisa dengan balasan yang
lebih berat. Ketahuilah ini bukanlah suatu yang dianjurkan dalam Islam.
lalu memaafkan dianggap sebagai satu kehinaan. Pada hal orang yang MEMAAFKAN
AKAN MENDATANGKAN KEMULIAAN BAGINYA. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam
bersabda :
ثَلَاثٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ
مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ
أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
harta karena shodaqoh, dan TIDAKLAH MENAMBAH BAGI SEORANG PEMAAF KECUALI
KEMULIAAN dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan
diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.. (H.R at Tirmidzi).
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjanjikan rumah di surga bagi tiga
golongan dan satu diantaranya adalah bagi orang yang memaafkan orang yang
berbuat buruk kepadanya yaitu sebagaimana sabda beliau :
الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ،
وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ
hendaknya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil
padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya. (H.R ath Thabrani).
itu, orang orang beriman hendaklah suka memaafkan saudaranya sehingga mendapat
kebaikan yang banyak. Ketahuilah bahwa dengan suka memaafkan maka hubungan
persahabatan akan terus terpelihara
bahkan bisa berlanjut sampai ke akhirat kelak. Insya Allah ada manfaatnya bagi
kita semua. Wallahu A’lam. (1.632).







































