Aopok – #Waktu sebelum #tidur seharusnya menjadi #kesempatan bagi #tubuh untuk #beristirahat dan memulihkan #kondisi setelah menjalani #aktivitas sepanjang hari. Namun, tanpa disadari, sejumlah #kebiasaan yang dilakukan menjelang #tidur justru dapat berdampak #buruk terhadap #kesehatan jika dilakukan terus-menerus.
Dokter Spesialis Urologi dr. Andika Afriansyah mengingatkan masyarakat untuk lebih memperhatikan kebiasaan pada malam hari, terutama yang berkaitan dengan kesehatan pembuluh darah.
Menurut penjelasan dr. Andika dalam unggahan videonya di media sosial, pembuluh darah memiliki peran penting dalam mendistribusikan oksigen dan nutrisi ke berbagai organ tubuh, termasuk ginjal, jantung, mata hingga organ reproduksi pria.

Ketika kesehatan pembuluh darah terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan pada satu organ. Gangguan pembuluh darah dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan.
Baca: Tren Kerja Pakai Payung di Dalam Kantor, Benarkah Cegah Penuaan Dini?
Karena itu, beberapa kebiasaan sebelum tidur yang terlihat sederhana sebaiknya mulai dikurangi.
1. Merokok Sebelum Tidur
Kebiasaan pertama yang perlu dihindari adalah merokok menjelang tidur.
Sebagian orang mungkin menganggap sebatang rokok pada malam hari dapat membantu membuat tubuh lebih rileks sebelum tidur. Namun, kebiasaan tersebut tetap membuat tubuh terpapar berbagai zat berbahaya dari rokok.
Dr. Andika menjelaskan bahwa rokok dapat merusak lapisan bagian dalam pembuluh darah. Karena itu, tidak ada waktu tertentu yang dapat dianggap sebagai waktu aman untuk merokok.
Kerusakan pembuluh darah yang terjadi secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan.
Dengan demikian, menghindari rokok bukan hanya penting pada pagi atau siang hari, tetapi juga menjelang waktu tidur.
2. Sering Mengonsumsi Makanan Tinggi Garam pada Malam Hari
Kebiasaan berikutnya adalah mengonsumsi makanan tinggi garam menjelang tidur.
Makanan seperti mi instan, keripik, makanan ringan maupun gorengan kerap menjadi pilihan ketika seseorang merasa lapar pada malam hari.
Namun, asupan garam yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, tekanan yang tinggi pada pembuluh darah dapat memberikan dampak terhadap kesehatan pembuluh darah.
Karena itu, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam pada malam hari sebaiknya dibatasi.
Memilih makanan yang lebih ringan dan memperhatikan jumlah garam dalam makanan dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga pola makan tetap sehat.
3. Scrolling Ponsel hingga Larut Malam
Kebiasaan ketiga yang sering dianggap sepele adalah menggunakan ponsel hingga larut malam.
Menonton video, membuka media sosial, bermain gim atau sekadar scrolling berbagai konten dapat membuat seseorang lupa waktu. Tidak jarang aktivitas tersebut membuat waktu tidur semakin mundur hingga dini hari.
Menurut penjelasan dr. Andika, persoalannya bukan semata-mata pada perangkat ponsel, melainkan pada kebiasaan tidur yang menjadi terlalu pendek.
Kurang tidur secara terus-menerus dapat mengganggu proses pemulihan tubuh. Pada malam hari, tubuh seharusnya memperoleh kesempatan untuk beristirahat, termasuk sistem kardiovaskular.
Karena itu, membatasi penggunaan ponsel menjelang tidur dapat membantu seseorang mendapatkan waktu istirahat yang lebih cukup.
4. Memesan Makanan Berat Menjelang Tengah Malam
Kebiasaan terakhir adalah mengonsumsi makanan berat dan tinggi kalori pada larut malam.
Baca: Rutin Minum Kopi Bisa Bantu Pasien Kanker Payudara? Ini Fakta dan Kontroversinya
Makanan seperti martabak, nasi goreng, sate padang atau berbagai menu tinggi lemak dan karbohidrat sering menjadi pilihan ketika seseorang merasa lapar pada malam hari.
Masalahnya, makanan tersebut dapat memiliki kandungan kalori, lemak, gula dan tepung yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi berulang kali dalam jumlah berlebihan, pola makan seperti ini dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak dan berbagai faktor risiko metabolik.
Dalam jangka panjang, kondisi kesehatan yang tidak terkontrol dapat berdampak pada kesehatan pembuluh darah.
Karena itu, mengatur waktu makan dan memilih makanan yang lebih seimbang menjadi bagian penting dari pola hidup sehat.
Mengapa Pembuluh Darah Perlu Dijaga?
Pembuluh darah mempunyai fungsi vital dalam tubuh karena menjadi jalur peredaran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke berbagai organ.
Ketika pembuluh darah mengalami gangguan, berbagai organ dapat ikut terdampak. Inilah alasan mengapa menjaga kesehatan pembuluh darah tidak hanya berkaitan dengan penyakit jantung, tetapi juga penting untuk kesehatan ginjal dan fungsi organ lainnya.
Dalam konteks kesehatan seksual pria, aliran darah juga memiliki peran penting dalam fungsi ereksi. Karena itu, gangguan pembuluh darah dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan masalah disfungsi ereksi.
Namun, perlu dipahami bahwa gagal ginjal maupun impotensi tidak otomatis disebabkan hanya oleh satu kebiasaan sebelum tidur. Keduanya dapat memiliki banyak faktor penyebab dan faktor risiko sehingga diperlukan pemeriksaan medis untuk menentukan penyebabnya.
Mulai Perbaiki Kebiasaan Sebelum Tidur
Menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Mengurangi rokok, membatasi makanan tinggi garam, menghindari makan berat larut malam dan mengatur penggunaan ponsel merupakan beberapa kebiasaan yang dapat diperhatikan.
Pola tidur yang cukup, aktivitas fisik secara teratur, pola makan seimbang dan pemeriksaan kesehatan berkala juga penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Baca: Kulit Kering dan Bersisik Saat Cuaca Panas? Ini 4 Bahan Alami yang Bisa Membantu Melembapkan Kulit
Jika seseorang mengalami keluhan seperti tekanan darah tinggi, gangguan buang air kecil, penurunan fungsi seksual atau keluhan kesehatan lain yang berlangsung terus-menerus, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Intinya, jangan menunggu munculnya penyakit untuk mulai memperbaiki kebiasaan. Waktu sebelum tidur seharusnya menjadi momentum bagi tubuh untuk beristirahat, bukan menjadi waktu untuk melakukan kebiasaan yang justru dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan.























