Aopok – #Kebiasaan #meluapkan #amarah #ternyata #bukan #hanya #berdampak #pada# kondisi #mental, #tetapi #juga #dapat #memberikan #efek #serius #terhadap #kesehatan jantung. Para ahli mengingatkan bahwa seseorang yang sering marah, terlebih hingga kehilangan kendali, memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan irama jantung atau aritmia.

Baca: 7 Manfaat Kismis untuk Kesehatan Tubuh
Informasi ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, melalui unggahan edukasi di media sosial. Menurutnya, ledakan emosi yang terjadi berulang kali dapat memengaruhi sistem kelistrikan jantung sehingga meningkatkan risiko terjadinya aritmia, terutama pada orang yang sudah memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Marah Memicu Pelepasan Hormon Stres
Saat seseorang marah, tubuh secara alami melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan noradrenalin. Kedua hormon tersebut berfungsi mempersiapkan tubuh menghadapi situasi darurat, tetapi jika terjadi terlalu sering, dampaknya dapat membebani sistem kardiovaskular.
Peningkatan hormon stres menyebabkan:
- Denyut jantung menjadi lebih cepat.
- Tekanan darah meningkat.
- Sistem kelistrikan jantung menjadi lebih mudah terpicu.
- Beban kerja jantung bertambah.
Kondisi tersebut membuat risiko gangguan irama jantung meningkat, terutama pada individu yang memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, gangguan elektrolit, maupun faktor genetik tertentu.
Siapa yang Paling Berisiko?
Meski setiap orang dapat mengalami lonjakan denyut jantung saat marah, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, di antaranya:
- Penderita penyakit jantung koroner.
- Pengidap hipertensi.
- Pasien dengan riwayat aritmia.
- Penderita gangguan elektrolit.
- Orang dengan diabetes atau penyakit metabolik.
- Individu yang mengalami stres kronis.
Pada kelompok tersebut, ledakan emosi dapat menjadi pemicu munculnya gangguan irama jantung yang berpotensi berbahaya apabila tidak ditangani dengan baik.
Apa Itu Gangguan Irama Jantung?
Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan kondisi ketika detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan akibat gangguan pada sistem listrik jantung.
Beberapa gejala aritmia yang perlu diwaspadai meliputi:
- Jantung berdebar-debar.
- Dada terasa tidak nyaman.
- Pusing.
- Mudah lelah.
- Sesak napas.
- Pingsan pada kasus yang lebih berat.
Apabila gejala tersebut sering muncul, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Penelitian Juga Mendukung
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemarahan yang intens dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem kardiovaskular. Respons stres menyebabkan peningkatan aktivitas saraf simpatis sehingga jantung bekerja lebih keras.
Sejumlah studi juga menemukan bahwa ledakan emosi dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung maupun serangan jantung, khususnya pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung sebelumnya. Karena itu, pengelolaan emosi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Cara Mengurangi Risiko
Untuk menjaga kesehatan jantung sekaligus mengendalikan emosi, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:
- Latih teknik pernapasan saat mulai merasa marah.
- Tidur yang cukup setiap hari.
- Rutin berolahraga.
- Mengurangi konsumsi alkohol dan rokok.
- Mengelola stres melalui meditasi atau relaksasi.
- Segera memeriksakan diri apabila sering mengalami jantung berdebar atau nyeri dada.
Mengendalikan emosi bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan mental, tetapi juga membantu menjaga fungsi jantung tetap optimal dalam jangka panjang.
























Comments 1