Aku masih dapat merasakan permen karet yang tak berasa
Dengan hati yang masih belum terbangun dari mimpi
Setelah kehilangan segalanya satu per satu
Aku memiliki sesuatu yang tersisa
Jika itu bukan cinta, maka harus disebut apa?
Aku tak mengetahuinya
Katakanlah dengan keras bunga satu-satunya itu
Seperti merobek segalanya
Aku menyumbat hidungku dan nafasku pun terhenti
Tak apa jika rasa sakit itu tak menghilang
Apa makna dari mata yang kelelahan itu?
Aku berjalan sambil menyembunyikan luka
Entah kenapa bayangan bagaikan tersebar
Aku ingin seseorang menyadarinya
Apakah masih bisa berjalan? Rasa pasir yang dikunyah
Di atas padang rumput di malam yang berembun
Pertanyaan dari hatiku yang sedang gundah
Rasanya terlalu cepat untuk diakhiri
Senyuman yang dapat membuat semua orang tak sedih
Aku tak dapat melakukannya
Dengan melindunginya satu saja sudah cukup bagiku
Begitu saja membuatku bahagia
Harapanku yang konyol itu takkan pernah hilang
Jiwa yang tak dapat direbut siapa pun
Apa yang harus dibandingkan?
Bekas luka yang masih tersisa di antara kau dan aku itu
Akan berlanjut jika terhubung ke hari yang cerah
Mari kita pergi sebelum bunga itu mekar
Jika itu bukan cinta, maka harus disebut apa?
Aku tak mengetahuinya
Katakanlah dengan rasa takut nama dari bunga itu
Tak bisa jika itu bukan dirimu
Aku menyumbat hidungku dan nafasku pun terhenti
Tak apa jika rasa sakit itu tak menghilang
Harapanku yang konyol itu takkan pernah hilang
Takkan berhenti
Note:
[1] Jika “uma to shika” (馬と鹿) diartikan secara terpisah maka artinya adalah “kuda dan rusa”. Tetapi jika kedua kanji tersebut digabungkan, maka artinya adalah baka (馬鹿) atau “bodoh”.
[2] Makna lain dari lagu ini adalah tentang hidup atau mati, yaitu berasal dari “uma(re) to shi(nu) ka?” yang artinya “hidup atau mati?”