الله الرحمن الرحيم
Majlis/Forum
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat, amma ba’du:
berada di majlis atau forum, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini
ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Meminta Izin
Hendaknya orang yang meminta izin memilih waktu yang tepat ketika meminta izin
mengetuk rumah itu dengan pelan.
anhu ia berkata, “Sesungguhnya pintu rumah Nabi shallallahu alaihi wa sallam
diketuk dengan kuku.” (Hr. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad dan
dishahihkan oleh Al Albani)
isi rumah
menghadap ke sebelah kanan atau kiri agar pandangannya tidak jatuh kepada
sesuatu yang ada di dalam rumah yang pemiliknya tidak suka dilihat. Di samping
itu, meminta izin dilakukan untuk menjaga pandangannya.
meminta izin mengucapkan salam sebelum meminta izin
“Telah menceritakan kepadaku seorang dari Bani Amir, bahwa ia meminta izin
kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedangkan Beliau berada di dalam
rumah, ia berkata, “Boleh saya masuk?” Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda kepada pelayannya,
فَقُلْ لَهُ: قُلِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ؟
katakan kepadanya, “Ucapkanlah “As Salamu alaikum, bolehkah saya masuk?” (Hr.
Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)
Hendaknya ia menyampaikan izin sebanyak tiga kali. Jika mendapatkan izin,
silahkan masuk, dan jika tidak mendapatkan izin atau jawaban, maka hendaknya ia
pulang.
قَالَ: جَاءَ أَبُو مُوسَى إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
هَذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ قَيْسٍ، فَلَمْ يَأْذَنْ لَهُ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
هَذَا أَبُو مُوسَى، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ هَذَا الْأَشْعَرِيُّ، ثُمَّ انْصَرَفَ،
فَقَالَ: رُدُّوا عَلَيَّ رُدُّوا عَلَيَّ، فَجَاءَ فَقَالَ: يَا أَبَا مُوسَى مَا
رَدَّكَ؟ كُنَّا فِي شُغْلٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ: «الِاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ، فَإِنْ أُذِنَ لَكَ، وَإِلَّا فَارْجِعْ»
قَالَ: لَتَأْتِيَنِّي عَلَى هَذَا بِبَيِّنَةٍ، وَإِلَّا فَعَلْتُ وَفَعَلْتُ، فَذَهَبَ
أَبُو مُوسَى. قَالَ عُمَرُ: إِنْ وَجَدَ بَيِّنَةً تَجِدُوهُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ عَشِيَّةً،
وَإِنْ لَمْ يَجِدْ بَيِّنَةً فَلَمْ تَجِدُوهُ، فَلَمَّا أَنْ جَاءَ بِالْعَشِيِّ
وَجَدُوهُ، قَالَ: يَا أَبَا مُوسَى، مَا تَقُولُ؟ أَقَدْ وَجَدْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ،
أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ، قَالَ: عَدْلٌ، قَالَ: يَا أَبَا الطُّفَيْلِ مَا يَقُولُ هَذَا؟
قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ يَا
ابْنَ الْخَطَّابِ فَلَا تَكُونَنَّ عَذَابًا عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ إِنَّمَا سَمِعْتُ شَيْئًا، فَأَحْبَبْتُ
أَنْ أَتَثَبَّتَ.
Abu Burdah, dari Abu Musa Al Asy’ariy ia berkata, “Abu Musa pernah datang
kepada Umar bin Khaththab dan berkata “As Salamu alaikum, ini Abdullah bin
Qais,” namun Umar belum memberinya izin (belum memberikan jawaban). Ia
berkata lagi, “As Salamu alaikum, ini Abu Musa. As Salamu alaikum, ini Al
Asy’ariy, “ lalu Abu Musa pulang. Setelah itu, Umar berkata, “Hadapkanlah
dia kepadaku. Hadapkanlah dia kepadaku!” Lalu Abu Musa datang, Umar pun
berkata, “Wahai Abu Musa, mengapa engkau pulang? Tadi kami sedang sibuk.” Abu
Musa menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Meminta izin itu tiga kali. Jika diizinkan silahkan masuk. Tetapi jika tidak,
maka pulanglah.” Umar berkata, “Hendaknya engkau membawakan bukti terhadap hal
ini. Kalau tidak, aku akan lakukan ini dan itu kepadamu.” Maka Abu Musa pergi.
Umar berkata, “Jika ia mendapatkan bukti, maka kalian akan jumpai dia di dekat
mimbar nanti sore. Jika ia tidak mendapatkan bukti, maka kalian tidak akan
menjumpainya.” Di sore hari Abu Musa datang sehingga mereka menjumpainya. Umar
berkata, “Wahai Abu Musa, apa yang akan kamu katakan? Apakah engkau telah
membawakan buktinya?” Abu Musa menjawab, “Ya, yaitu Ubay bin Ka’ab.” Umar
berkata, “Seorang yang adil.” Lalu ia berkata kepada Ubay, “Wahai Abu Thufail
(panggilan Ubay), apa pendapatmu tentang yang dikatakannya ini?” Ubay menjawab,
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda demikian wahai
Ibnul Khaththab, maka janganlah engkau menjadi siksaan bagi para sahabat
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Umar menjawab, “Subhanaallah. Aku
hanya ingin lebih yakin terhadap hal yang aku dengar.” (Hr. Muslim)
Apabila seorang yang meminta izin ditanya tentang namanya, maka sebutlah nama
dan panggilannya dan jangan katakan ‘saya’
ini berdasarkan hadits Jabir ia berkata, “Aku datang kepada Nabi shallallahu
alaihi wa sallam terkait dengan utang yang menimpa ayahku, lalu aku ketuk
pintu, kemudian Beliau bertanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Saya.” Beliau
bersabda, “Saya. Saya.” Sepertinya Beliau tidak suka jawaban itu.” (Hr. Bukhari
dan Muslim)
Hendaknya orang yang meminta izin pulang dengan hati yang puas jika dikatakan
kepadanya “Pulanglah!”
ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا
ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27) فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا
أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا
فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (28)
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu
sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu
lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.–Jika kamu tidak menemui seorangpun
di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika
dikatakan kepadamu, “Kembali (saja)lah,” maka hendaklah kamu kembali. itu
bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. An Nuur: 27-28)
izin tidak boleh masuk ke dalam rumah jika tidak ada penghuninya.
atas.
memberi salam kepada orang-orang yang berada di majlis ketika masuk dan ketika
keluar
hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
إِلَى الْمَجْلِسِ، فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ، فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ
الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الْآخِرَةِ»
salah seorang di antara kamu tiba di majlis, maka ucapkanlah salam. Jika ia
hendak berdiri, maka ucapkan pula salam, karena salam yang pertama tidaklah
lebih berhak daripada salam yang terakhir.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi,
dishahihkan oleh Al Albani)
Duduk di tempat sampainya di majlis (tempat yang masih tersedia di majlis)
ini berdasarkan hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu ia berkata, “Kami
ketika datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka salah seorang di
antara kami duduk di tempat sampainya di majlis.” (Hr. Abu Dawud, dishahihkan
oleh Al Albani)
membangunkan seseorang dari tempat duduknya lalu duduk di tempatnya, akan
tetapi hendaknya ia memperluas majlis itu
ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,
ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا»
duduknya lalu ia duduk di situ, akan tetapi lapangkan dan luaskanlah.” (Hr.
Bukhari dan Muslim)
Tidak duduk di tengah majlis
duduk di antara dua orang yang sedang duduk bersama kecuali dengan izin
keduanya
ini berdasarkan hadits Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
اثْنَيْنِ إِلَّا بِإِذْنِهِمَا»
duduk kecuali dengan izin mereka berdua.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi,
dishahihkan oleh Al Albani)
duduk di tempat seseorang yang bangun karena suatu keperluan
ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
مَجْلِسِهِ، ثُمَّ رَجَعَ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ
salah seorang di antara kamu bangun dari majlisnya, lalu ia kembali lagi, maka
ia lebih berhak terhadapnya.” (Hr. Ibnu Majah dari Abu Hurairah, dishahihkan
oleh Al Albani)
berduaan melakukan obrolan padahal ada orang yang ketiga
ini berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
دُونَ الْآخَرِ، حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْزِنَهُ»
meninggalkan yang lain. Hendaklah kalian bergaul dengan manusia, karena hal itu
dapat membuat saudaranya bersedih.” (Muttafaq
alaihi)
terlalu banyak tertawa
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ»
banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (Hr. Ibnu Majah,
dishahihkan oleh Al Albani)
Menjaga amanah majlis
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ»
(ke kanan atau ke kiri), maka itu tanda sebagai amanat (yang patut
dirahasiakan).” (Hr. Abu Dawud dari Jabir bin Abdullah, dishahihkan oleh Al
Albani)
Hendaknya tidak berdiri dari majlis dengan menampakkan hal yang bertentangan
dengan perasaan di majlis
berdiri sambil menguap, buang ingus,
atau bersendawa.
Tidak memata-matai dan mencari kesalahan
الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا،
وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا»
prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian
berusaha menyimak pembicaraan orang lain, jangan cari-cari kesalahan mereka,
janganlah saling berlomba-lomba mengejar dunia, janganlah saling hasad, janganlah
saling membenci dan jangan saling berpaling. Jadilah kalian hamba-hamba Allah
yang bersaudara.” (Hr. Bukari dan Muslim)
Akhiri majlis dengan Kaffaratul majlis
Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa
salla bersabda,
فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ
kegaduhan di situ, lalu ia mengucapkan sebelum bangun dari majlis itu, “Subhaanakallahumma
…dst. sampai wa atuubu ilaik (artinya: Mahasuci
Engkau ya Allah
sambil memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah
selain Engkau. Aku meminta ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan akan
diampuni hal yang terjadi di majlis itu.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al
Albani).
shahbihi wa sallam.
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45,
Adabul Muslim Fil Yaumi wal Lailah (Darul Wathan), dll.






































