الله الرحمن الرحيم
semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan
orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
pembahasan tentang adab memberi nasihat, semoga Allah menjadikan penyusunan
risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Allah Ta’ala berfirman,
الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
dalam kerugian,– Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh,
dan nasihat-menasihati untuk menaati kebenaran dan nasihat-menasihati untuk
menetapi kesabaran.” (Terj. QS. Al ‘Ashr: 1-3)
Rasulullah?” Beliau menjawab,
وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»
muslimin, dan kaum muslimin semuanya.”
radhiyallahu ‘anhu ia berkata,
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ
لِكُلِّ مُسْلِمٍ»
sallam untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat kepada
setiap muslim.” (Muttafaq ‘alaih)
terkait dengan pemberi nasihat dan ada yang terkait dengan orang yang diberi
nasihat.
yakni orang yang memberi nasihat tidak ada maksudnya untuk menampakkan
kecerdasan akalnya, atau membuka aib orang yang dinasihati atau memasyhurkan
kesalahannya, akan tetapi tujuannya adalah menasihati dan memperbaiki serta
mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Ta’ala berfirman,
لِلنَّاسِ حُسْنًا
kepada manusia.” (Qs. Al Baqarah: 83)
رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. ”
(Terj. QS. An Nahl: 125)
satu hak yang wajib ditunaikan untuk saudaranya kaum muslimin.
Seorang mukmin adalah cerminan saudaranya, ia berikan nasihat kepadanya dan
memberitahukan kekurangannya, dan tidak menyembunyikannya. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سِتٌّ»
enam.”
Rasulullah?” Beliau menjawab,
وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ
فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ»
salam kepadanya. Jika ia mengundangmu, maka penuhilah. Jika ia meminta nasihat,
maka nasihatilah dia. Jika ia bersin, lalu memuji Allah, maka doakanlah. Jika
ia sakit, maka jenguklah, dan jika ia meninggal dunia,
maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)
dan tidak menyakiti perasaannya. Orang bijak berkata,
(الْعَلَنِ) فَضِيْحَةٌ
aib.”
فِــي انْفِـــَرادِيْ
فِــي الجَمَاعةِ
بَيـْـنَ النـَّـاسِ نَـوْعٌ
أَرْضَى اسْــتِمَـاعَهُ
sendiri
salah satu bentuk mencacatkan yang aku tidak suka mendengarnya.
apabila hendak menasihati yang hadir, maka Beliau bersabda, “Mengapa
orang-orang melakukan ini?” atau, “Mengapa salah seorang di
antara kamu melakukan itu?” (Tanpa menyebut nama)
memberikan nasihat.
membuat orang yang dinasihati tertipu dan jangan pula menganggap remeh masalah
yang besar. Bahkan hendaknya ia mengerahkan kesungguhan dan berfikir dalam
sebelum memberikan nasihat. Demikian juga hendaknya ia terangkan kerusakannya
jika ada dengan cara tersembunyi dan amanah.
dengan tidak bosan, sempit dada, atau
sombong.
sallam bersabda,
بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ
dan merendahkan manusia.” (Hr. Muslim)
بِأَيِّ وَجْهٍ، وَأَدِّهَا عَلَى أَحْسَنِ وَجْهٍ
tunaikanlah dengan cara yang terbaik.”
dengan kebatilan adalah kehinaan. Oleh karena itu, seorang muslim berhati-hati
agar tidak termasuk orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman tentang mereka,
اتَّقِ اللّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ
الْمِهَادُ
kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa.
Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu
tempat tinggal yang seburuk-buruknya.”
(Terj. QS. Al Baqarah: 206)
yang cerdas memberikan faedah dengan akal dan hikmahnya.
orang yang bodoh atau fasik, karena ia akan menimpakan madharrat kepadanya dari
arah yang tidak ia sangka.
yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka dia tidak berterima kasih kepada
Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
وَ مَنْ لاَ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لاَ يَشْكُرُ الْكَثِيْرَ وَ مَنْ لاَ يَشْكُرِ
النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللهَ وَ الْجَمَاعَةُ بَرَكَةٌ وَ الْفُرْقَةُ عَذَابٌ
meninggalkannya adalah kufur. Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit,
maka ia tidak akan mensyukuri yang banyak, dan barang siapa yang tidak bersyukur
kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Berjamaah adalah keberkahan,
sedangkan perpecahan adalah azab.” (Hr. Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Nu’man
bin Basyir, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3014).
‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam walhamdulillahi Rabbil alamin.
bin Musa
Maraji’:
Mausu’ah
Haditsiyyah Mushaghgharah (Markaz Nurul Islam Li Abhatsil Qur’an was
Sunnah), Maktabah Syamilah versi 3.45, http://islam.aljayyash.net , Modul
Akhlak kelas 9 (Penulis) dll.






































