الله الرحمن الرحيم
semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang
mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Riyadhush Shalihin yang banyak kami rujuk dari kitab Syarh
Riyadhush Shalihin karya Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy, kitab
Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin Ied Al Hilaliy, dan lainnya. Hadits-hadits di dalamnya merujuk kepada kitab Riyadhush
Shalihin, akan tetapi kami mengambil matannya dari kitab-kitab
hadits induk. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penyusunan risalah ini
ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ: «لَوْ أَنَّكُمْ
تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ
الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا» .
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah
dengan sebenar-benarnya, tentu Dia akan memberikan rezeki kepada kalian
sebagaimana Dia berikan rezeki kepada burung yang berangkat pagi dalam keadaan
perutnya kosong dan pulang di sore harinya dalam keadaan perutnya kenyang.”
(HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan.”)
wa Jalla.
kunci rezeki.
sebagaimana burung berusaha mencari makan; tidak diam di tempatnya.
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَا فُلاَنُ إِذَا
أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ
نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ،
وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ
مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ،
وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ،
فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ فِي لَيْلَتِكَ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ، وَإِنْ أَصْبَحْتَ
أَصَبْتَ أَجْرًا ” (متفق عليه.
وَفِي رِوَايَةٍ فِي الصَّحِيْحَيْنِ، عَنِ الْبَرَّاءِ
قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا
أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى
شِقِّكَ الأَيْمَنِ، وَقُلْ: …وذَكَرَ نَحْوَهُ ثُمَّ قَالَ: وَاجْعَلْهُنَّ
آخِرَ مَا تَقُولُ»
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai fulan! Jika engkau
ke tempat tidurmu, maka ucapkanlah, “Allahumma aslamtu…sampai arsalta.”
(artinya: Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku
kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku meminta perlindungan kepada-Mu
terhadap punggungku dengan rasa harap dan cemas kepada-Mu, tidak ada tempat
berlindung dan tempat keselamatan selain kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab
yang Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang engkau utus). Jika engkau wafat pada
malam harimu itu, maka engkau wafat di atas fitrah, dan jika engkau berada di
pagi hari, maka engkau akan mendapatkan pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
dan Muslim dari Barra’ pula ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda kepadaku, “Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka
wudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat, kemudian berbaringlah ke sisimu
sebelah kanan, dan ucapkanlah…(sama seperti doa di atas), selanjutnya Beliau
bersabda, “Jadikanlah kalimat itu sebagai kalimat terakhir yang engkau
ucapkan.”
Allah Azza wa Jalla.
berbaring miring ke sebelah kanan, dan berdzikr kepada Allah Subhaanahu wa
Ta’ala agar perbuatan itu sebagai penutup amalnya.
dzikr yang terakhir diucapkan.
tidur.
dalam semua urusannya.
عُثْمَانَ بْنِ عَامِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: نَظَرتُ إِلَى أَقْدَامِ الْمُشْرِكِيْنَ
وَنَحْنُ فِي الْغَارِ وَهُمْ عَلَى رُؤُوسِنَا، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ،
لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيهِ لَأَبْصَرَنَا. فَقَالَ: «مَا
ظَنُّكَ يَا أَبا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا» . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Utsman bin Amir radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku melihat kaki kaum musyrik saat
kami berada di gua (Tsur), sedangkan mereka berada di atas kami, lalu aku
berkata, “Wahai Rasulullah, kalau sekiranya salah seorang di antara mereka
melihat ke bawah kakinya, tentu ia akan melihat kita,” maka Beliau bersabda,
“Bagaimana menurutmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah
Allah?” (HR. Bukhari dan Muslim)
maka Dia akan mencukupkannya dan menolongnya.
‘anhu dan cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
dan tenang terhadap penjagaan-Nya setelah berusaha berhati-hati.
wali-Nya, dan janji-Nya akan menolong mereka sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya
Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan
dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” (Terj. QS. Al
Mu’min: 51).
ada yang mengalahkannya.
orang-orang kafir dan orang-orang zalim jika mengkhawatirkan keselamatan
dirinya atau akan mendapatkan cobaan.
Islam.
dan terang-terangan.
dirinya untuk dibunuh tanpa ada buah yang dihasilkannya, dan hendaknya ia
berhati-hati agar dapat menyampaikan risalah Allah kepada manusia.
اللهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إِذَا
خَرَجَ مِنْ بَيتِهِ، قَالَ: «بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ
عَلَى اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ
أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ
عَلَيَّ»
radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keuar dari
rumahnya mengucapkan, “Bismillah tawakkaltu ‘alallah…dst.” (artinya: Dengan
nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, aku meminta perlindungan
kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan,
berbuat zalim atau dizalimi, bersikap bodoh atau dibodohi.” (Hadits shahih, diriwayatkan
oleh Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lain dengan sanad yang shahih. Tirmidzi
berkata, Hadits hasan shahih.” Namun ini adalah lafaz Abu Dawud)
mengawali tindakannya dengan dzikrullah (menyebut nama Allah), bertawakkal
kepada-Nya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya.
perlindungan kepada Allah dari kesesatan, kezaliman, ketergelinciran, dan sikap
bodoh.
atau setan.
seseorang hendak keluar rumah agar senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah
Azza wa Jalla.
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ قَالَ – يَعْنِي – إِذَا
خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ: بِسْمِ اللَّهِ،
تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيتَ، وَوُقِيتَ، وَتَنَحَّى
عَنْهُ الشَّيْطَانُ “
berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang
mengucapkan –yakni ketika hendak keluar rumah-, “Bismillah…sampai ilaa
billah (artinya: Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada
daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah), maka akan dikatakan,
“Engkau telah dicukupi dan dijaga,” setan pun menjauh darinya.” (HR. Abu Dawud,
Tirmidzi, Nasa’i, dan lainnya. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan,” Abu Dawud
menambahkan, “Maka setan akan berkata setan yang lain,
وَوُقِيَ؟
telah ditunjuki, dicukupi, dan dijaga?”)
hanya saja Ibnu Juraij seorang mudallis dan telah melakukan ‘an’anah
(menyebutkan kata “dari”), tetapi ia menyebutkan kata tahdzits (haddatsana)
sebagaimana yang dinyatakan Daruquthni menurut nukilah Al Hafizh dalam Nata’ijul
Afkar (1/164-165).
Jalla dan meminta perlindungan kepada-Nya, dimana hal tersebut merupakan
benteng paling kuat bagi seorang muslim dari tipu daya setan.
Allah dan upaya menjauhi larangan-Nya kecuali dengan pertolongan Allah.
telah mendapat petunjuk dari Allah.
menyesatkan seorang hamba.
rumah agar memperoleh keutamaan sebagaimana yang disebutkan.
Allah dalam melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Maraji’: Tathriz Riyadh Ash Shalihin (Syaikh Faishal bin Abdul
Aziz An Najdiy), Syarh Riyadh Ash Shalihin (Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin), Bahjatun Nazhirin
(Salim bin ’Ied Al Hilaliy), Al Maktabatusy Syamilah versi 3.45, dll.







































