الله الرحمن الرحيم
Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya
hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.
اللهِ تَعَالَى إِنْ دَلَّتْ عَلَى وَصْفٍ مُتَعَدٍّ, تَضَمَّنَتْ ثَلاَثَةَ أُمُوْرٍ
:
Allah Ta’ala jika menunjukkan sifat yang muta’addiy (ada objek yang terkena),
maka ada tiga yang dicakupnya:
Allah Azza wa Jalla.
dari nama itu bagi Allah Azza wa Jalla
konsekwensinya.
kaedah ini, maka ahli ilmu berdalih dengan ayat:
orang-orang yang bertobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai
(menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Terj. QS. Al Maa’idah: 34)
menunjukkan gugurnya had terhadap quththaa’uth thariiq (para pengacau keamanan
dan pembajak) ketika mereka bertobat. Hal itu, karena nama-Nya Al Ghafuur
dan Ar Rahiim konsekwensinya menghendaki bahwa Allah Ta’ala telah
mengampuni dosa mereka dan menyayangi mereka dengan menggugurkan had terhadap
mereka. Ini hanyalah contoh untuk cakupan yang ketiga.
lainnya adalah nama-Nya As Samii’ (Allah Maha Mendengar). Nama ini
berdasarkan kaedah di atas mencakup:
tersebut untuk Allah Azza wa Jalla.
sifat mendengar bagi Allah Azza wa Jalla.
hukum dan konsekwensinya, yaitu bahwa Dia mendengar semua suara, baik yang
rahasia maupun yang terang-terangan dsb.
اللهِ تَعَالَى إِنْ دَلَّتْ عَلَى وَصْفٍ غَيْرِ مُتَعَدٍّ تَضَمَّنَتْ أَمْرَيْنِ
:
وَجَلَّ
Allah Ta’ala jika menunjukkan sifat yang tidak muta’addiy (tidak ada objek),
maka mengandung dua hal:
bagi Allah Azza wa Jalla.
dikandung dari nama itu untuk Allah Azzza wa Jalla.
kaedah ini adalah nama-Nya Al Hayyyu (Allah Maha Hidup), nama ini mengandung
dua hal; ,menetapkan nama tersebut bagi Allah Azza wa jalla dan menetapkan
sifat hidup bagi Allah Ta’ala.
اللهِ تَعَالَى عَلَى ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ تَكُوْنُ بِالْمُطَابَقَةِ وَبِالتَّضَمُّنِ
وَبِالْإِلْتِزَامِ
(kandungan) nama-nama Allah Ta’ala terhadap dzat dan sifat-Nya ada yang berupa
muthaabaqah, tadhammun dan iltizaam.”
Maha Pencipta), menunjukkan kepada dzat Allah, demikian juga menunjukkan sifat
mencipta, ini disebut muthaabaqah (artinya: menunjukkan secara bersamaan),
yakni nama tersebut menunjukkan kedua-duanya secara bersamaan.
kepada masing-masingnya; dzat dan sifat mencipta, yakni nama Al Khaaliq ini
sudah mengandung dzat dan mengandung sifat, inilah yang disebut tadhammun
(artinya: terkandung dan sudah termasuk di dalamnya).
Khaaliq menunjukkan adanya sifat ilmu (mengetahui) dan sifat qudrah (memiliki
kemampuan), inilah yang disebjut iltizam (artinya: menghendaki demikian). Allah
Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah Berlaku
padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,
dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath
Thalaaq: 12)
iltizam (kandungan yang menghendaki memasukkan bagian lain ke dalamnya), jika
dipelajari sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu, yakni apabila ia mencoba
memahami suatu makna dan diberi taufiq oleh Allah Ta’ala berupa pemahaman
adanya iltizam (yang lain ikut terikat), maka dengan memahami iltizam dia dapat
mengeluarkan banyak faedah dari satu dalil.
bahwa laazim (sesuatu yang ikut dan menjadi bagian) dari firman Allah Ta’ala
dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila betul lazim adalah
memang hak (benar). Hal itu, karena firman Allah dan sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hak, menempel dengan yang hak memang betul
suatu hak (kebenaran). Yang demikian karena Allah Ta’ala mengetahui hal yang
lazim dari firman-Nya dan sabda Rasul-Nya sehingga memang itulah maksudnya.
فِيْهَا
Tauqifiyyah (diam menunggu dalil), tidak ada ruang bagi akal di sana.
membatasi diri dalam masalah nama-nama dan sifat menurut apa yang disebutkan
dalam Al Qur’an dan As Sunnah saja. Tidak boleh menambah maupun mengurangi.
Karena akal tidak mungkin dapat menjangkau nama-nama-Nya. Dalil kaedah di atas
adalah firman Allah Ta’ala:
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.” (Terj. QS. Al Israa’: 36)
اللهِ تَعَالَى غَيْرُ مَحْصُوْرَةٌ بِعَدَدٍ مُعَيَّنٍ
Allah Ta’ala tidak dibatasi dalam jumlah tertentu.”
kaedah ini adalah doa ketika sedih yang diajarkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam:
عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ
قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ
عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ
اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ
رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي
Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu, anak hamba-Mu yang laki-laki, anak hamba-Mu
yang perempuan, ubun-ubunku berada di Tangan-Mu, berlaku kepadaku hukum-Mu, adil
sekali keputusan-Mu. Aku meminta kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu yang
Engkau namai Diri-Mu dengan nama-nama itu, atau Engkau ajarkan kepada salah
seorang di antara makhluk-Mu, atau yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau
hanya Engkau sendiri saja yang mengetahuinya dalam ilmu gaib yang ada pada
sisi-Mu. Jadikanlah Al Qur’an penyejuk hatiku, cahaya dadaku,
penghilang sedihku dan keresahanku.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah no. 199)
hadits:
مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ » .
Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama; seratus dikurang satu. Barangsiapa
yang mengihsha’nya[1],
maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
menunjukkan bahwa nama-nama Allah hanya terbatas sampai 99. Karena jika sampai
99, tentu kata-katanya:
nama-nama Allah Ta’ala ada 99 nama,..dst.”
yang sama seperti itu. Oleh karena itu, lafaz hadits di atas itu sama seperti
pada kata-kata, “Saya memiliki seratus dirham yang saya siapkan untuk
sedekah.” Hal ini tidaklah menutup kemungkinan, bahwa ia memiliki
beberapa dirham lagi yang disiapkan untuk selain sedekah.
juga tidak shahih riwayat yang di sana disebutkan nama-nama Allah Ta’ala,
bahkan nama-nama tersebut merupakan idraaj (selipan) dari perawi.
Maraji’:
Al Qawaa’idul Mutsla fi Asmaa’illahi wa shifaatihil ‘Ula karya Syaikh
Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
mengetahui lafaz dan makna serta beribadah kepada Allah sesuai konsekwensinya.
Ada pula yang mengartikan dengan menghapalnya.






































