penghambaan dan tujuan (Tauhid Uluhiyyah)
وأسمائه وصفاته, وهو رب العالمين المستحق وحده لجميع أنواع العبادة
والإستعانة, والنذر والذبح والتوكل والخوف والرجاء والحب ونحوها لغير الله تعالى
شرك أيا كان المقصود بذلك ملكا مقربا أو نبيا مرسلا أو عبدا صالحا أو غيرهم.
والرجاء جميعا, وعبادته ببعضها دون بعض ضلال. قال بعض العلماء: من عبد الله بالحب
وحده فهو زنديق, ومن عبده بالخوف وحده فهو حروري, ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ.
Allah Ta’ala Maha Esa. Tidak ada sekutu
bagi-Nya, baik dalam rububiyyah, dalam uluhiyyah, asma dan sifat-Nya. Dia-lah
Rabb alam semesta. Hanya Dia sendiri yang berhak ditujukan segala macam ibadah.
Mempersembahkan ibadah, seperti doa, istighatsah
(meminta bantuan), isti’anah (memohon pertolongan), nazar, menyembelih,
tawakal, khauf (takut), raja’ (berharap), mencintai dsb. kepada selain Allah
Ta’ala adalah perbuatan syirk, meskipun perbuatan itu ditujukan kepada malaikat
yang dekat dengan Allah, seorang nabi utusan, kepada hamba yang saleh atau
lainnya.
Termasuk sendi utama ibadah ialah beribadah
kepada Allah Ta’ala dengan penuh rasa cinta, rasa takut dan penuh harap secara bersamaan.
Beribadah kepada Allah dengan sebagian daripadanya tanpa yang lain adalah
kesesatan. Sebagian ulama berkata, “Barang siapa yang beribadah kepada
Allah hanya dengan rasa cinta maka dia seorang zindiq (orang yang sesat dalam
agama dan menyimpang dari jalan kebenaran). Barang siapa yang beribadah kepada
Allah hanya dengan rasa takut maka dia adalah seorang haruri[i],
dan barang siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan penuh harap maka dia
adalah seorang murji’[ii].”
(Mujmal Ushul
Ahlissunah karya Dr. Nashir Al ‘Aql).
bagi-Nya dalam Rububiyyah, yakni hanya Dia yang mencipta, memberi rezki,
menghidupkan dan mematikan, serta yang mengatur alam semesta. Tidak ada Rabb
selain Dia, Dia-lah Rabbul ‘alamin (Tuhan semesta alam).
Uluhiyyah, yakni hanya Dia yang berhak disembah dan ditujukan berbagai macam
ibadah. Oleh karena itu, jika kita berdoa, maka kita hanya berdoa kepada-Nya, jika
kita meminta, maka kita hanya meminta kepada-Nya, jika kita bertawakkal, maka
kita hanya bertawakkal kepada-Nya dsb.
dan Uluhiyyah, kita juga wajib mengesakan Allah dalam Asmaa’ wa Shifat, yakni
menetapkan nama dan sifat bagi Allah menurut yang Allah tetapkan untuk diri-Nya
atau yang Rasul-Nya tetapkan untuk-Nya. Serta menyucikan-Nya dari segala aib
dan kekurangan sebagaimana Allah dan rasul-Nya menyucikan-Nya daripadanya.
uluhiyyah dan asmaa’ wa shifat) harus diakui dan diyakini setiap orang. Tidak
cukup hanya beriman kepada tauhid rububiyyah, lalu ia mengingkari tauhid
uluhiyyah, bahkan yang demikian belum menjadikannya muslim. Hal itu, karena
kaum musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa Allah Pencipta
dan Pemberi rezki mereka, namun yang demikian belum menjadikan mereka muslim,
sampai mereka mau mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah dan
ditujukan berbagai macam ibadah selain Allah (mengakui tauhid uluhiyyah atau Laailaahaillallah).
Mereka juga dikatakan “musyrik” karena mereka beribadah kepada selain
Allah, meskipun mereka mengakui bahwa Allah Pencipta, Penguasa dan Pemberi
rezki mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, Maka
Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?, (Ter. Az
Zukhruf: 87)
Allah dalam uluhiyyah/ibadah dan menjauhi syirk. Allah Ta’ala berfirman:
menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sesembahan
selain Allah) itu.” (Terj. An Nahl: 36)
dan sebagai dosa yang paling besar. Contohnya berdoa kepada selain Allah,
meminta pertolongan kepada selain Allah, bertawakkal kepada selain Allah,
berkurban untuk selain Allah dsb. baik kepada malaikat, nabi, wali maupun
lainnya.
bantuan ada beberapa macam:
bantuan yang ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla, hal ini adalah amal saleh
yang paling utama, inilah kebiasaan para rasul dan para pengikutnya.
bantuan kepada orang yang mati atau orang yang hidup namun tidak hadir di
hadapan dan tidak mampu membantu, hal ini adalah syirk. Karena biasanya
pelakunya menganggap bahwa orang-orang yang diminta tadi memiliki kekuasaan secara
tersembunyi di alam semesta ini..
hidup, mengetahui dan mampu membantu. Hal ini hukumnya boleh.
bantuan kepada orang yang hidup namun tidak sanggup membantu tanpa ada
keyakinan bahwa orang (yang diminta itu) memiliki kekuatan tersembunyi.
Misalnya orang yang hendak tenggelam meminta bantuan kepada seeorang yang
lumpuh, hal ini adalah sia-sia dan mempermainkan orang yang diminta bantuan.
pertolongan ada beberapa macam:
pertolongan kepada Allah, dengan sikap menghinakan diri secara sempurna dari
seorang hamba kepada Tuhannya dan menyerahkan urusan kepada-Nya, disertai
keyakinan hanya Dia saja yang dapat mencukupinya. Hal ini tidak boleh ditujukan
kepada selain Allah, mengarahkannya kepada selain-Nya adalah syirk akbar.
pertolongan kepada makhluk dalam hal yang disanggupi mereka. Jika di atas
kebaikan, maka hukumnya boleh bagi orang yang meminta pertolongan dan
disyari’atkan bagi orang lain membantunya. Jika di atas dosa, maka hukumnya
haram bagi yang memberikan pertolongan maupun yang meminta pertolongan.
pertolongan kepada orang yang hidup dan hadir di hadapan kita namun tidak
sanggup menolong, maka hal ini sia-sia dan tidak ada faedahnya.
pertolongan kepada orang mati secara mutlak atau kepada orang hidup dalam hal
ghaib yang mereka tidak sanggup melakukannya, hal ini juga syirk.
pertolongan dengan amal dan keadaan yang dicintai Allah, maka hal ini disyari’atkan,
berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu…(Terj. Al Baqarah: 45, 153).
untuk mengagungkan yang karenanya dilakukan penyembelihan, juga sebagai rasa
tunduk dan untuk mendekatkan diri kepadanya. Hal ini hanya boleh kepada Allah
Ta’ala saja, mengarahkannya kepada selain Allah adalah syirk akbar.
untuk memuliakan tamu atau untuk acara walimah pernikahan atau lainnya, hal ini
diperintahkan, hukumnya bisa wajib atau sunat.
untuk bersenang-senang dengan dimakan atau untuk dijual-belikan, maka hukumnya
mubah.
iman tidak akan sempurna tanpanya.
sir, yaitu seorang bersandar kepada orang yang sudah mati untuk menarik manfaat
dan menolak bahaya, ini adalah syirk akbar.
kepada orang lain dalam hal yang bisa dilakukan oleh orang lain itu, jika
dengan ketergantungan hati dan rasa bersandar yang kuat, hal ini salah satu
syirk kecil. Namun jika menganggapnya sebagai sebab saja, ia pun tetap
bergantung kepada Allah, maka hukumnya boleh, jika sebab itu memang memiliki
pengaruh dalam hal tercapai atau tidaknya.
orang lain, yakni sifatnya mewakilkan, sebagaimana Rasulullah shallalllahu
‘alaihi wa sallam mewakilkan para amilin dan penjaga zakat untuk menjaga zakat.
Hal ini hukumnya boleh secara garis besar (yakni pada dasarnya boleh),
berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’.
mengandung rasa merendahkan diri dan tunduk tidak boleh ditujukan kepada selain
Allah Azza wa Jalla. Mengarahkannya kepada selain Allah adalah syirk, bisa sebagai
syirk asgar (kecil) dan bisa syirk akbar tergantung hati orang yang berharap.
binatang buas, takut kepada api dan takut tenggelam. Rasa takut ini, orangnya
tidak dicela. (lihat Al Qashash: 18), akan tetapi jika sampai menjadi
sebab meninggalkan kewajiban atau mengerjakan perbuatan haram, maka takut
seperti ini haram.
yaitu seorang takut kepada sesuatu, di mana ia beribadah dengan rasa takut itu.
Takut ini tidak boleh kepada selain Allah, mengarahkanya kepada selain Allah
adalah syirk akbar.
syirk.
karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).
(cinta) ada beberapa macam:
kecintaan kepada Allah. Hal ini tidaklah menafikan kecintaan kepada Allah, seperti
cinta kepada istri, anak dan harta.
selain Allah sama seperti mencintai Allah bahkan lebih, yakni ketika dihadapkan
dua kecintaan antara kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada selain-Nya,
maka dia mengedepankan kecintaan kepada selain Allah.
adalah mencintai seorang wali melebihi cintanya kepada Allah, misalnya ketika
ia diminta untuk bersumpah dengan nama Allah, maka ia bersumpah dengan nama-Nya
dan berani berdusta, tetapi ketika disebut nama seorang wali, maka ia tidak
berdusta. Inilah kecintaan yang syirk, ditambah dengan ia bersumpah menggunakan
nama selain Allah.
berharap dan takut. Oleh karena itu, kecintaan saja yang tidak disertai dengan
rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta terhadap makanan dan harta, tidaklah
termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta,
seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika
suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta maka itulah ibadah.
Dan ibadah tidak ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala semata.
Maraji’: Mujmal Ushul Ahlissunnah
wal Jama’ah fil ‘Aqidah (Dr. Nashir Al ‘Aql), Syarah Ath Thahaawiyyah (Syaikh
Shalih Al Fauzan), Syarh Tsalaatsatil Ushul (M. Bin Shalih Al ‘Utsaimin), Al
Qaulul Mufiid (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin) dll.
menyatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal di neraka.
tidak termasuk iman, iman tidak naik dan turun, serta menganggap bahwa dosa
tidak berbahaya bagi iman.






































