*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Seperti
halnya sejarah Indonesia, sejarah Malaysia juga memiliki sejarahnya sendiri.
Malaysia hari ini adalah negara Federasi Malaysia (Federasi Malaya, Sabah dan
Sarawak minus Singapoera). Dalam hal ni, sejarah Malaysia berumpu pada sejarah
yang terjadi di Semenanjung Malaya (Federasi Malaya). Dalam konteks Federasi
Malaya (Semenanjung Malaya) inilah sejarah Malaysia selalu dibicarakan di
Malaysia.

tentang nama semennajung Aurea Chesonesus (Wikipedia). Akan tetapi peta Aurea
itu dilalui oleh garis ekuator. Tentu saja itu tidak dimiliki Semenanjung
Malaya yang sekarang. Nama semenanjung disebut aurea yang artinya emas, fakta
masa kini tidak ditemukan emas melainkan timah dan besi di wilayah Semenanjung
Malaya. Sejarah Malaysia awal juga mengacu pada Sriwijaya. Sementara Sriwijaya
berada di pantai timur Sumatra. Nama Sriwijaya ditemukan pada prasasti Talang
Tuo (684 M) yang ditemukan di Palembang. Ibu kota (pusat) Sriwijaya berada di
Minanga (prasasti Kedoekan Boekit 682 M yang ditemukan di Palembang. Nama
Minanga harus diartikan nama Binanga di Padang Lawas (Tapanuli). Pintu gerabang
(kerajaan) Sriwijaya berada di wilayah Padang Lawas (lihat prasasti Tanjore
1030 M). Dalam prasasti Tanjorea baru ditemukan nama kerajaan di Semenanjung
Malaya yakni Kadaram (yang diinterpretasi sebagai Kedah). Lantas mengapa armada
Chola hanya sampai di Semenanjung dan Padang Lawas (tidak sampai ke Djambi dan
Palembang)? Karena Sriwijaya yang ditaklukkan Chola beribukota di Padang Lawas. Dalam hal ini
wilayah yurisdiksi (kerajaan) Sriwijaya berada di pantai timur Sumatra dan
pantai barat Semenanjung Malaya. Dalam hal ini wilayah Sumatra bagian selatan
(Palembang, Djambi, Bangka dan Pasemah) adalh wilayah yurisdiksi Sriwija di
selatan dan di utara (hingga Lamuri dan Andaman) dan di timur (Kadaram).
Lantas
bagaimana sejarah awal Melayu dan sejarah awal Malaysia? Seperti disebut di
atas, sejarah awal Melayu dimulai di Sumatra (Malaijur dan Malayu) dan sejarah
awal Malaysia dihubungkan dengan Malaya dan Malaka. Lalu bagaimana sejarah awal
Melayu dan sejarah awal Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Awal Melayu dan Sejarah Awal
Malaysia: Malaijur dan Malayu di Sumatra; Malaya dan Malaka di Malaysia
Satu
sumber tertua di Semenanjung Malaya (Malaysia) adalah prasasti Tanjore (1030
M). Dalam prasasti Tanjore disebut nama (kerajan) Kadaram (diduga Kedah). Dalam
prasasti Tanjore itu juga disebut nama-nama tempat di pantai timur Sumatra
(Padang Lawas, Tapanuli) sebagai (pusat) Sriwijaya.
Pusat Sriwijaya dalam prasasti Tanjore (1030
M) bersesuaian dengan prasasti Kedoekan Boekit 682 M yang ditemukan di
Palembang. Dalam prasasti Kedoekan Boekit disebut (pelabuhan) utama Sriwijaya
di Minanga (kini Binanga). Nama Raja Sriwijaya adalah Sri Jayanaga (prasasti
Talang Tuwo 684 M) dengan gelar Dapunta Hyang (prsasti Kedoekan Boekit dan
prasasti Talang Tuwo). Wilayah Sriwijaya di Sumatra bagian selatan (Palembang
dan Djambi) telah ditaklukkan oleh Singasasri dalam Pamalayu pada abad ke-13.
Singhasari dan Padang Lawas terjaalin kerjasama, hal itu ditunjukkan adanya
kemiripan satu candi di Singhasari dengan candi-andi di Padang Lawas. Dalam
prasasti Batugana di Padang Lawas (abad ke-12 hingga abad ke-14) terdapat nama
Batu Gana, Darmasraya dan Pannai yang mana raja-raja yang disebut bergelar
(om)pu, hang dan hadji. Madjapahit (yang menaklukkan Singhasari) pada abad ke-14
juga menyerang Padang Lawas. Kerajaan di Padang Lawas kemudian begerser ke
utara di Simalungun. Dalam hubungan ini di Semenanjung Malaya didirikan
(kerajaan) Malaka pada tahun 1400.
Sumber
terbaru tentang Semenanjung Malaya adalah Sadjara Malajoe. (Malay
Annals), diterjemahkan oleh J. Leyden, London, 1821. Kapan Kronik Malayu ini
dibuat tidak diketahui secara pasti. Yang jelas di dalamnya terdapat kisah
penaklukan Malaka oleh pelaut-pelaut Portugis (1511). Salah satu yang pertama
mengutip Malay Annals adalah Raffles. Namun dalam perkembangannya tidak sedikit
peneliti yang mengkritisi Annals tersebut karena tidak sesuai fakta (data
terbaru).
Sulalatu’l-Salatin atau Sulalatus Salatin
secara harfiah bermaksud Penurunan segala raja-raja) merupakan karya dalam
Bahasa Melayu dan menggunakan Abjad Jawi. Karya tulis ini memiliki
sekurang-kurangnya 29 versi atau manuskrip yang tersebar di antara lain di
Inggris (10 di London, 1 di Manchester), Belanda (11 di Leiden, 1 di
Amsterdam), Indonesia (5 di Jakarta), dan 1 di Rusia (di Leningrad). Sulalatu’l-Salatin
bergaya penulisan seperti babad, di sana-sini terdapat penggambaran hiperbolik
untuk membesarkan raja dan keluarganya. Namun, naskah ini dianggap penting
karena ia menggambarkan adat-istiadat kerajaan, silsilah raja dan sejarah
Kerajaan Melayu dan boleh dikatakan menyerupai konsep Sejarah Sahih (Veritable
History) Tiongkok, yang mencatat sejarah dinasti sebelumnya. Versi suntingan
Raffles, diterjemahkan pertama kali oleh John Leyden dalam Bahasa Inggris tahun
1821.
Sulalat
Assalatin (Penurunan Segala Raja-Raja) dan Taju Assalatin (Mahkota Segala
Raja-Raja) pertama kali dilaporkan oleh Petrus van der Worm yang terdapat dalam
kata pengantar Malayan Vocabulary yang ditulis oleh Guynier yang diterbitkan di
Batavia tahun 1667 (lihat Java government gazette, 11-03-1815). Tentang
buku-buku tersebut juga telah disebutkan oleh Francois Valentijn dalam bukunya
Oud en Nieuw Oost Indien (Volume V) yng diterbitkan pada tahun 1726 di Amsterdam,
Dalam buku-buku tersebut tidak ada penanggalan
yang tepat, hanya berupa susunan (cerita lisan) yang telah diturunkan dari
waktu ke waktu. Buku-buku tersebut sangat dijunjung oleh orang Melayu sebagai
karya sejarah utama yang mereka miliki, Di masa lalu, karya itu disimpan dalam
bungkus sutra kuning oleh para raja dan raja. digunakan pada acara-acara
perayaan. Pembacaan itu dimulai dan diakhiri dengan beberapa tembakan meriam
(lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
28-07-1869). Buku-buku sejarah Melayu
tersebut menjadi yang terbaik pada jamannya sebelum ditemukan (buku) teks
Negarakertagama (1365) pada tahun 1894. Selain itu, sumber sejarah Melayu juga
merujuk pada Hikayat Hang Tuah.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Malaijur dan Malayu di Sumatra;
Malaya dan Malaka di Malaysia: Apakah Sejarah Malaysia Juga Mencakup Sumatra
dan Indonesia?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar
rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog
hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang
tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





