

Berbekal rasa penasaran, saya pun menyusuri trotoar jalan menuju arah selatan. Ada ornamen unik yang menghiasi sisi dinding bangunan. Patung kepala singa yang garang menyembul di salah satu sudut dinding bangunan seolah menjadi penjaga bangunan tua berwarna putih kusam tersebut. Di bagian belakang bangunan utama tersebut terdapat bangunan yang sekilas mirip seperti dinding kastil. Ah, tapi sial, di bagian ini bau kotoran kelelawar teramat menyengat menusuk indera penciuman. Jika tidak kuat dengan aromanya rasanya ingin muntah.


Di belakang bangunan tua tersebut terdapat sebuah rumah yang masih dihuni. Bangunan tersebut memiliki halaman yang menghubungkan ke bagian halaman Omah Lowo. Rasanya saya ingin nyelonong masuk agar dapat melihat bangunan Omah Lowo lebih dekat. Ah, sayang, tidak ada orang di luar rumah, hanya terdapat sebuah mobil yang sedang terparkir. Tak etis rasanya jika saya nekat memasuki halaman rumah tanpa izin dari si pemiliknya.
Saya pun hanya bisa mengagumi keindahan bangunan Omah Lowo dari luar pagar. Ah, andai saja saya datang di saat yang tepat, mungkin saja saya dapat bertemu dengan si lowo penghuni bangunan tersebut keluar dari rumah terbang bebas ke angkasa.










