Seorang
karyawan yang sudah mapan bekerja, sering kali terganggu dengan pikiran
untuk membuka usaha sendiri. Namun, sering kali pula mereka tidak yakin
dengan waktu, kapan saat yang tepat memulai bisnis? Jawaban atas
pertanyaan tersebut sangat bergantung pada situasi si karyawan dan
jenis bisnis yang akan dijalankan. Namun, sebagian orang akhirnya
mengambil keputusan untuk memulai bisnis sebagai pekerjaan sambilan.
Mereka lakukan di sela-sela waktu rutin bekerja atau akhir pekan.
Sebagian lagi justru memilih berhenti dari pekerjaan dan mulai berbisnis
secara penuh. Alasannya, mereka tidak ingin dikacaukan dengan
pekerjaan. Di samping itu, mereka perlu menunjukkan komitmen
terhadap konsep bisnis yang ingin mereka bangun. Pandangan-pandangan
tersebut pun diakui sejumlah pakar bisnis. Sebagian pakar menilai
seorang karyawan bisa berwirausaha secara paruh waktu untuk awalnya.
Kemudian secara perlahan, mereka menetapkan komitmen untuk
menjalankannya secara penuh. Namun, sebagian pakar lainnya justru
menekankan agar karyawan yang ingin berwirausaha harus menunjukkan
komitmen yang kuat sejak awal. Kendati begitu, Therese Prentice,
seorang konsultan bisnis asal New York, mencoba jalan tengah terhadap
dua pandangan tersebut. Menurut dia, calon pengusaha tidak harus
meninggalkan pekerjaan sampai mereka membuktikan ide-ide bisnis berjalan
dengan baik. Prentice menyarankan seorang karyawan jangan meninggalkan
pekerjaannya meski berniat mendirikan usaha, walaupun si karyawan
memiliki cukup modal. “Anda harus menguji segala sesuatunya. Anda bisa
punya ruang untuk merencanakan, melakukan, dan mengkaji bisnis meski
masih menjadi karyawan sebuah perusahaan,” ujarnya seperti dilansir The
Saturday Post. Seorang calon pengusaha harus menunggu sampai
usaha barunya meraih pendapatan sekitar dua pertiga dari pendapatan
mereka menjadi karyawan. Setelah itu, mereka bisa mengambil keputusan
untuk berhenti bekerja. Sebaliknya, Patrick K FitzGerald, seorang
pengajar entrepreneur di Universitas Pennsylvania, tidak setuju dengan
pendapat Prentice. Menurut dia, seorang calon pengusaha jangan bermain
di dua kaki. Satu di perusahaan tempat dia bekerja, sementara kaki yang
lain di dunia usaha yang dia jalankan. “Orang akan menilai konsep
bisnis semacam itu setengah matang. FitzGerald, yang juga salah satu
pendiri Recyclebank di Philadelphia, meyakini entrepreneurship adalah
sebuah pilihan yang berkaitan dengan konsumen dan itu sangat tidak
mungkin dilakukan setengah hati dalam paruh waktu. “Tidak ada istilah
bertaruh dalam menjalankan wirausaha. Semua harus dijalankan secara
total,” tegas Fitz Gerald. Hal senada disampaikan Phillip
Moorcroft, seorang konsultan bisnis di Moorcroft Group Professional
Services (MGPS) di Toronto, Kanada. Menurut dia, berniat menjadi
wirausaha secara paruh waktu sangat krusial bisa mengurangi psikologis
binis dan keuangan. Hal ini akan menjadi satu kendala untuk
berhasil. “Ada orang yang berniat wirausaha, tetapi memiliki rencana
lain. Misalnya dia mencoba selama enam bulan, kalau gagal dia akan
bekerja pada orang lain. Cara itu tidak bisa diterapkan,” ujarnya. Beberapa
contoh kasus pengusaha sukses karena berkomitmen secara total dilakoni
dua saudara, Shep dan Ian Murray. Dua bersaudara ini awalnya hanya
karyawan biasa di Manhattan. Keduanya merasa “frustrasi” dengan
pekerjaan yang hanya berkutat di belakang meja. Shep sebelumnya
bekerja sebagai account executive di sebuah perusahaan periklanan,
sementara Ian bekerja di sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang
hubungan masyarakat. Pada 1998, keduanya memutuskan untuk keluar
kerja,hanya berselang 10 menit setelah salah satunya mengajukan
pengunduran diri. Mereka selanjutnya mengambil uang tunai dari kartu
kredit untuk mulai mendirikan Vineyard Vines, sebuah industri dasi
rumahan. Ide mereka mengambil uang tunai dari kartu kredit sempat
dicemooh dan dinilai bodoh. Pada awalnya, mereka menjual
dasi-dasi itu di tas ransel, di pantai, di kapal, dan di bar. Mereka
menjual habis 800 dasi dalam pekan pertama. Karena keduanya berkomitmen
secara total, akhirnya bisa sukses dan memiliki kantor sendiri. Saat ini
ada 18 toko ritel Vineyard Vines di seluruh Amerika, dan jaringannya
dapat ditemukan di hampir 500 toko. Vineyard Vines mampu mencetak
penjualan hingga USD100 juta pada 2011. Berbagai kisah sukses itu
membuktikan bahwa untuk mengambil keputusan berhenti dari pekerjaan
tidak ada kata lain selain berkomitmen total. Pasalnya, wirausaha adalah
terkait keputusan melakukan atau bangkrut. (*/Harian Seputar Indonesia) |