الله الرحمن الرحيم
Shalat Ied/Hari
Raya (3)
semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya
dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
karya Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah,
semoga Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjadikan risalah ini ikhlas karena-Nya dan
bermanfaat, aamin.
selamat
Nufair ia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat
berjumpa pada hari raya, maka sebagian mereka berkata kepada yang lain,
menerima amal kami dan kamu.” (Al Hafizh As Suyuthiy dalam Wushulul Amani fi
Ushulit Tahani berkata, “Isnadnya hasan,”)
dalam Al Jauharun Naqi 3/320 menyebutkan riwayat Muhammad bin Ziyad, ia
berkata, “Aku bersama Abu Umamah Al Bahiliy dan lainnya dari kalangan para
sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Mereka apabila pulang, maka sebagian
mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Taqabbalallahu minna wa minka.”
(Imam Ahmad bin hanbal berkata, “Isnadnya jayyid.”)
hari raya
hari raya adalah sunnah.
saat Idul Fitri, Allah Ta’ala berfirman,
تَشْكُرُونَ
kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al Baqarah: 185)
takbir pada saat Idul Adh-ha, Allah Ta’ala berfirman,
(dengan menyebut nama) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (Qs. Al Baqarah: 203)
berkata, “Maksudnya adalah hari-hari tasyriq.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
berfirman,
الْمُحْسِنِينَ
telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap
hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang
berbuat baik.” (Qs. Al Hajj: 37)
(mayoritas) para ulama, bahwa takbir pada saat Idul Fitri dari sejak keluar
menuju lapangan shalat Ied sampai dimulai khutbah. Mengenai hal ini ada
riwayat-riwayat namun dhaif, tetapi ada riwayat yang shahih dari Ibnu Umar dan
sahabat lainnya. Hakim berkata, “Ini adalah Sunnah yang berlaku di kalangan
Ahli hadits.” Bahkan ini pula yang dipegang oleh Imam Malik, Ahmad, Ishaq, dan
Abu Tsaur.
ulama berpendapat, bahwa takbir pada saat Idul Fitri dimulai dari sejak melihat
hilal (bulan sabit tanda awal bulan Syawwal) sampai berangkat ke lapangan dan
sampai imam hadir.
Idul Adh-ha waktunya dari subuh hari Arafah sampai Ashar hari tasyriq, yakni
11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
praktek hal ini dari Ali, Ibnu Abbas, dan Ibnu Mas’ud.
Fath berkata, “Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang hal itu dari
Nabi shallallahu alaihi wa sallam, namun
yang paling shahih adalah riwayat dari para sahabat, dari pernyataan Ali dan
Ibnu mas’ud, bahwa waktunya dari Subuh hari Arafah sampai akhir hari-hari
Mina.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dan lainnya).
yang dipegang oleh Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad, dan menjadi
madzhab Umar dan Ibnu Abbas.
hari-hari tasyriq tidak pada waktu tertentu, bahkan dianjurkan di setiap waktu
pada hari-hari itu.
berkata, “Umar radhiyallahu anhu bertakbir di kemahnya di Mina, lalu penghuni
masjid mendengar takbirnya, maka mereka pun bertakbir dan penghuni pasar juga
bertakbir hingga Mina bergemuruh suara takbir.”
bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah shalat, ketika di tempat
pembaringan, di kemah, di majlis, dan saat berjalan pada hari-hari itu.
maka ia bertakbir pada hari nahar. Kaum wanita juga bertakbir di belakang Aban
bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam hari tasyriq bersama kaum pria di
masjid.
“Atsar-atsar (riwayat dari para sahabat) tersebut menunjukkan adanya takbir
pada hari-hari itu setelah shalat dan dalam keadaan lainnya, hanyasaja ada
khilaf di kalangan ulama tentang waktunya. Di antara mereka ada yang hanya
melakukan takbiran pada saat selesai shalat, ada pula yang hanya melakukan
seusai shalat fardhu, tidak seusai shalat sunah. Ada pula yang mengkhususkan
untuk kaum laki-laki, tidak bagi kaum wanita. Demikian pula ada yang
mengkhususkan dalam keadaan berjamaah, tidak sendiri. Demikian pula ada yang
mengkhususkan untuk shalat yang dilakukan pada waktunya, bukan shalat yang
diqadha, atau untuk orang yang mukim bukan untuk orang yang sedang safar, atau
untuk penduduk suatu kota, bukan yang tinggal di pelosok kampung. Namun yang
tampak dari pendapat pilihan Imam Bukhari adalah bahwa takbiran itu untuk
semuanya, dan atsa-atsar yang disebutkannya menguatkan hal itu.”
shahih terkait lafaz takbir adalah riwayat yang disebutkan Abdurrazzaq dari
Salman, ia berkata, “Ucapkanlah takbir:
Allah Mahabesar. Allah Mahabesar-sungguh Mahabesar.”
riwayat dari Umar dan Ibnu Mas’ud, bahwa mereka bertakbir:
اَللهُ أَكْبَرُ وَِللهِ الْحَمْدُ
Allah mahabesar. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Allah
mahabesar, dan milik Allah segala pujian.”
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, yakni dengan menyebutkan lafaz Allahu akbar
2 x, sedangkan dalam riwayat lain milik Ibnu Abi Syaibah juga dengan
menyebutkan tiga kali lafaz Allahu akbar, meskipun yang lebih terkenal adalah
yang menyebutkan 2 x (Lihat Al Irwa 3/125-126).
meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ucapan takbirnya,
Allah mahabesar. Allah mahabesar, dan untuk Allah segala puji. Allah Mahabesar
dan Mahaagung. Allah Mahabesar atas petunjuk-Nya kepada kami.”
shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam
walhamdulillahi Rabbil alamin.
Maraji’: Fiqhus Sunnah (Syaikh Sayyid
Sabiq), Tamamul Minnah (M. Nashiruddin Al Albani), Subulus
Salam (Imam Ash Shan’ani), dll.






































