Aopok – #Presiden #Amerika Serikat (AS) #Donald Trump menolak #proposal #Iran berupa #peta jalan #tujuh hari yang ditujukan untuk menghentikan #konflik sekaligus membuka kembali #Selat Hormuz.
Penolakan tersebut disampaikan Trump pada Sabtu, 26 September 2026. “Saya menolak proposal mereka,” kata Trump seperti dikutip dari Al Jazeera.
Proposal Iran tersebut menjadi bagian dari upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Dalam rencana yang disampaikan melalui mediator Qatar, Teheran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap dan dimulainya kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran.

Baca: Bom Bunuh Diri di Masjid Kohat Pakistan Tewaskan Puluhan Orang Saat Salat Jumat
Namun, sebagai bagian dari kesepakatan, Iran meminta sejumlah langkah dari Amerika Serikat, termasuk pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran, pengurangan tekanan terhadap ekspor minyak, serta komitmen terhadap gencatan senjata.
Trump Tolak Proposal Gencatan Senjata Iran
Trump secara terbuka menyatakan bahwa proposal yang diajukan Teheran tidak sesuai dengan kesepakatan yang diinginkannya.
Menurut laporan yang dikutip Okezone dari sejumlah sumber, Trump disebut skeptis terhadap kemampuan Iran memenuhi tuntutan yang diajukan Washington. Trump juga mengatakan Iran memang menginginkan kesepakatan, tetapi proposal tersebut bukan kesepakatan yang dapat diterimanya.
Reuters juga melaporkan bahwa Trump menolak proposal Iran pada 26 September. Proposal tersebut bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri permusuhan di kawasan dalam waktu tujuh hari.
Apa Isi Proposal 7 Hari dari Iran?
Proposal Iran disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui mediator Qatar.
Dalam rencana tersebut, Iran menyatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali untuk pelayaran komersial setelah sejumlah persyaratan dipenuhi. Pembukaan jalur pelayaran tersebut kemudian diikuti dengan dimulainya kembali pembicaraan mengenai isu nuklir Iran.
Menurut penjelasan Araghchi, tahapan awal pelaksanaan rencana membutuhkan sekitar empat hingga lima hari. Selat Hormuz ditargetkan mulai dibuka pada hari keenam, sementara pada hari ketujuh pembicaraan dengan Amerika Serikat dapat dimulai.
Iran juga meminta Washington memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, pengabaian sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta penerapan gencatan senjata di kawasan yang mencakup Lebanon.
Baca: Viral Pasutri Bertengkar di Mal China, Istri Lepas Pakaian di Tengah Keramaian
Selat Hormuz Menjadi Titik Penting
Selat Hormuz menjadi salah satu bagian terpenting dalam proposal tersebut karena merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Gangguan terhadap pelayaran melalui selat tersebut dapat memberikan dampak terhadap pasokan minyak dan gas serta pasar energi global. Karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu fokus utama dalam upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Proposal Iran pada dasarnya menghubungkan persoalan keamanan, aktivitas pelayaran, sanksi ekonomi, dan pembicaraan mengenai program nuklir dalam satu rangkaian kesepakatan.
Iran Masih Membuka Pintu Diplomasi
Meski proposalnya ditolak Trump, pejabat Iran menyatakan bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Tehran menunggu respons resmi Amerika Serikat melalui mediator. Pada 29 September, CBS News melaporkan bahwa Iran masih menyatakan proposal tujuh hari tersebut belum berubah dan Tehran menunggu tanggapan formal Washington.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan melalui perundingan. Namun, pemerintah Iran tetap menegaskan bahwa mereka tidak menerima tekanan atau ancaman sebagai dasar penyelesaian konflik.
Trump Tetap Membuka Kemungkinan Perundingan
Penolakan terhadap proposal tujuh hari tersebut tidak berarti seluruh jalur komunikasi AS-Iran berhenti.
Dalam perkembangan berikutnya, Trump mengatakan pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran masih dapat berlanjut melalui mediator. Pada 28 September, laporan CBS menyebut Trump mengonfirmasi adanya pertukaran pesan antara negosiator AS dan Iran melalui pihak ketiga.
Trump juga mengatakan bahwa dirinya memperkirakan pembicaraan dengan Iran dapat kembali berlangsung. Namun, kedua pihak masih memiliki perbedaan mengenai sejumlah persoalan utama, terutama terkait program nuklir Iran dan bentuk kesepakatan yang dapat diterima.
Baca: Daftar Lengkap 16 Tim Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026, Jadwal Big Match dan Hasil Terbaru
Situasi AS-Iran Masih Penuh Ketidakpastian
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun proposal gencatan senjata tujuh hari telah ditolak Trump, upaya diplomatik belum sepenuhnya berakhir.
Di satu sisi, Iran menyatakan kesiapan untuk kembali berunding dan menawarkan pembukaan Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan. Di sisi lain, pemerintahan Trump masih menilai proposal tersebut belum memenuhi tuntutan Amerika Serikat.
Hingga 29 September 2026, kedua pihak masih menyampaikan pernyataan yang menunjukkan adanya komunikasi melalui mediator. Namun, belum terdapat kesepakatan final mengenai gencatan senjata maupun penyelesaian konflik secara menyeluruh.
Dengan demikian, penolakan Trump terhadap proposal tujuh hari Iran menjadi perkembangan penting dalam hubungan AS-Iran, tetapi belum menutup kemungkinan berlangsungnya perundingan lanjutan melalui jalur diplomasi.






















