Teliti Ideologi Kitab Kuning
Meneliti pesantren tidak terlepas dengan kitab kuning. Kitab kuning
adalah kitab khas kaum pesantren yang ditulis dengan huruf Arab pegon. Biasanya
kitab ini terbagi dalam kitab matan (dasar), syarah (menengah), hasiyah
(tinggi), dan mukhtasar (ringkasan).
adalah kitab khas kaum pesantren yang ditulis dengan huruf Arab pegon. Biasanya
kitab ini terbagi dalam kitab matan (dasar), syarah (menengah), hasiyah
(tinggi), dan mukhtasar (ringkasan).
Dalam ujian
promosi doktoral yang berlangsung, salah satu
bahasan Iksan yang menarik dalam disertasinya adalah pada bagaimana ideologi
yang terkandun dalam kitab kuning dan dianut serta diajarkan di pesantren
tradisional. Iksan mencoba melihatnya dari kacamata antropologi pendidikan.
promosi doktoral yang berlangsung, salah satu
bahasan Iksan yang menarik dalam disertasinya adalah pada bagaimana ideologi
yang terkandun dalam kitab kuning dan dianut serta diajarkan di pesantren
tradisional. Iksan mencoba melihatnya dari kacamata antropologi pendidikan.
Menurutnya
terdapat kandungan ideologi Islam Tradisional yang terkandung dalam kitab-kitab
kuning yang diajarkan di pesantren tradisional. Kandungan itu terjabarkan dalam
mata rantai kurikulum yang dikembangkan oleh pihak pesantren. Dalam konteks
pesantren tradisional, Iksan menyatakan bahwa implementasi ideologi Islam
Tradisional itu termanifestasikan dalam teologi asy’riyah maturudiyah, menganut
mazhab fikih tradisional, menerima ajaran tasawuf, dan memiliki cara pandang
kesejarahan Islam dari sisi Sunni yang mengakui empat kekhalifahan awal dalam
Islam.
terdapat kandungan ideologi Islam Tradisional yang terkandung dalam kitab-kitab
kuning yang diajarkan di pesantren tradisional. Kandungan itu terjabarkan dalam
mata rantai kurikulum yang dikembangkan oleh pihak pesantren. Dalam konteks
pesantren tradisional, Iksan menyatakan bahwa implementasi ideologi Islam
Tradisional itu termanifestasikan dalam teologi asy’riyah maturudiyah, menganut
mazhab fikih tradisional, menerima ajaran tasawuf, dan memiliki cara pandang
kesejarahan Islam dari sisi Sunni yang mengakui empat kekhalifahan awal dalam
Islam.
Walau sama-sama
berupaya mempertahankan kitab kuning di institusi pendidikannya. Pesantren
menurutnya memiliki respons yang berbeda terkait upaya intervensi negara
terhadap tata kelola pendidikannya. Ia menegaskan bahwa respons pesantren
tersebut lebih dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakatnya yang cenderung
berkembang dibanding pengaruh intervensi negara secara langsung.
berupaya mempertahankan kitab kuning di institusi pendidikannya. Pesantren
menurutnya memiliki respons yang berbeda terkait upaya intervensi negara
terhadap tata kelola pendidikannya. Ia menegaskan bahwa respons pesantren
tersebut lebih dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakatnya yang cenderung
berkembang dibanding pengaruh intervensi negara secara langsung.
Iksan juga
menemukan bahwa terdapat perbedaan antara pembelajaran di pesantren salaf 30
tahun yang lalu dengan pesantren salaf yang sekarang. Jika dahulu semua
pembelajaran berjalan secara
konvensional maka sekarang pesantren lebih transformatif dengan cara pengadaan
kelas matrikulasi, akselerasi, dan pengembangan metode pembelajaran yang
berbasis konten dibanding berbasis judul kitab.
menemukan bahwa terdapat perbedaan antara pembelajaran di pesantren salaf 30
tahun yang lalu dengan pesantren salaf yang sekarang. Jika dahulu semua
pembelajaran berjalan secara
konvensional maka sekarang pesantren lebih transformatif dengan cara pengadaan
kelas matrikulasi, akselerasi, dan pengembangan metode pembelajaran yang
berbasis konten dibanding berbasis judul kitab.
Apa yang
dilakukan Iksan K. Sahri ini meneruskan penelitian pesantren lagendaris lainnya
yaitu Zamakhsyari Dhofier yang meneliti Tradisi Pesantren, Bruinessen yang
meniliti kitab kuning dan tarekat, Mastuhu yang meneliti kepemimpinan di
pesantren, dan peneliti-peneliti pesantren lain baik dari luar dan dalam
negeri. Sedikit yang membedakan Iksan dengan mereka adalah kenyataan bahwa
Iksan sendiri adalah orang pesantren, sehingga penelitiannya lebih tepat
disebut sebagai penelitian pesantren dari sisi insider (orang dalam) – Red.
dilakukan Iksan K. Sahri ini meneruskan penelitian pesantren lagendaris lainnya
yaitu Zamakhsyari Dhofier yang meneliti Tradisi Pesantren, Bruinessen yang
meniliti kitab kuning dan tarekat, Mastuhu yang meneliti kepemimpinan di
pesantren, dan peneliti-peneliti pesantren lain baik dari luar dan dalam
negeri. Sedikit yang membedakan Iksan dengan mereka adalah kenyataan bahwa
Iksan sendiri adalah orang pesantren, sehingga penelitiannya lebih tepat
disebut sebagai penelitian pesantren dari sisi insider (orang dalam) – Red.
ADVERTISEMENT


























