
“Dalam rumah tangga itu ada nilai hormat. Nggak melulu cinta.”
Cinta terhalang perbedaan etnis
dan keyakinan sejatinya sudah beberapa kali dijadikan topik pembicaraan dalam
sejumlah film Indonesia. Ada yang disisipkan sebagai subplot belaka, tapi tak
sedikit pula yang diajukan sebagai konflik utama. Judul-judul yang saya nilai
berhasil mengulik isu sensitif ini antara lain Cin(T)a (2009), 3 Hati Dua
Dunia Satu Cinta (2010), serta Cinta
Tapi Beda (2012). Ketiganya memberikan gambaran mengenai peliknya memadu
kasih di Indonesia kala dua belah pihak menganut agama yang berlainan. Salah
satu dari mereka harus ada yang bersedia mengalah dengan melepaskan keyakinan
apabila ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Apabila sama-sama kekeuh, maka tentu mustahil untuk
merealisasikan sebuah rumah tangga terlebih dalam khasanah sinema dalam negeri.
Keengganan sineas untuk menghadapi kecaman publik – yang selalu mengikuti tiap
kali muncul film bertema toleransi dalam perbedaan – membuat film memilih jalan
aman dalam konklusi: memenangkan agama alih-alih cinta. Kalaupun ada yang kemudian
berpindah agama, jelas bukan dari kalangan mayoritas kecuali siap menerima
konsekuensi. Bidadari Mencari Sayap
produksi Citra Sinema bersama MD Pictures yang mencoba lebih “berani” dengan
meletakkan fokusnya pada kehidupan rumah tangga ketimbang sebatas berpacaran
seperti film sejenisnya, adalah contoh. Si karakter perempuan yang notabene
non-Muslim (tidak disebutkan secara spesifik agamanya) dikisahkan menjadi
mualaf untuk bisa menikahi kekasihnya yang berasal dari keluarga Muslim taat.
Karakter perempuan yang dimaksud
bernama Angela (Leony Vitria Hartanti). Dia tinggal di sebuah rumah kontrakan yang cukup
nyaman bersama suaminya, Reza (Rizky Hanggono), putra semata wayangnya, serta
ayahnya yang dipanggil Babah (Nano Riantiarno). Meski telah bertahun-tahun
menikah, pasangan ini nyatanya masih kesulitan untuk menyatukan jurang
perbedaan diantara mereka. Reza selalu merasa terusik dengan komentar-komentar
menyentil yang kerap dilontarkan Babah, sementara Angela belum kunjung bersedia
untuk mengenakan hijab sekalipun telah disindir terus menerus oleh mertuanya.
Seolah keadaan masih belum cukup pelik bagi pasangan ini, Babah sering membawa
makanan atau hewan yang dipandang haram oleh Reza tanpa meminta persetujuan
terlebih dahulu. Berhubung dua belah pihak sama-sama mudah tersulut emosi – dan
enggan pula untuk saling memahami keadaan masing-masing – maka pertengkaran
demi pertengkaran pun kerap terjadi. Pertengkaran yang sebetulnya bisa saja
diselesaikan secara mudah melalui dialog hati ke hati, tapi justru dipersulit
saat Reza memilih untuk hengkang sementara dari rumah. Alasannya sih karena
dikirim atasannya untuk tugas di luar kota. Padahal kenyataan yang sebenarnya,
dia dipecat dari pekerjaannya dan terlalu malu untuk mengakuinya kepada Angela.
Ya, Reza terlalu malas untuk menghadapi perdebatan-perdebatan tak penting
dengan sang istri di saat dia tengah berupaya untuk merintis karir sebagai
supir taksi online.

Harus diakui, perdebatan yang
mencuat dalam Bidadari Mencari Sayap
memanglah tidak penting. Kalau enggan disebut, mengada-ada. Andai saja ini
berlangsung ketika usia pernikahan Reza-Angela masih seumur jagung, bisalah
dipahami. Dua manusia dari dua dunia yang bertolak belakang sama-sama mengalami
gegar budaya, seperti bagaimana Angela yang mualaf meraba-raba mengenai
kepercayaan barunya dan Reza yang berpikiran konservatif mesti beradaptasi
dengan gaya hidup keluarga istrinya. Tapi saat keduanya sudah dikaruniai anak –
bahkan si anak sudah bersekolah pula yang artinya mereka telah menikah
setidaknya selama 6 tahun – adanya pertengkaran besar yang dipantik oleh babi,
anjing, atau hijab jelas membuat hamba mengernyitkan dahi. Kalau begitu, itu
artinya mereka tak pernah membahas permasalahan ini di awal-awal menikah dong?
Mereka tak pernah mendiskusikannya, tak pernah mencari solusinya, dan terus
membiarkannya berlarut-larut sehingga kerap berulang setiap tahunnya (atau
setiap harinya). Jika benar demikian, kok sanggup ya bertahan dalam pernikahan
yang sedemikian toxic-nya? Apa karena
ingin menjaga reputasi keluarga masing-masing sehingga bercerai tak pernah
menjadi opsi? Atau jangan-jangan hanya ingin tampil dramatis saja? Aria Kusumadewa yang menyutradarai sekaligus menulis naskahnya
tidak pernah juga memberi alasan untuk menguatkan latar belakang dibalik upaya
keduanya bertahan. Malah, dalam satu adegan Reza berujar, “aku sangat mencintai istriku,” yang ingin rasanya saya balas, “Mbel, cinta kok ditarung tiap hari. Itu
rumah tangga apa Rumah Uya kok isinya ribut mulu?”
Alhasil, sulit untuk bersimpati
kepada dua tokoh utama dalam film ini. Mereka tampak sangat egois dan
menyebalkan. Maksud saya, mereka bisa lho berdialog dengan Babah atau Ibu Reza
soal letak keberatan masing-masing, apalagi Babah tidak juga digambarkan
sebagai mertua yang gemar menyiksa menantunya. Malah, beliau yang terlihat
tertindas di film ini. Reza gemar marah-marah untuk menyikapi setiap persoalan,
sementara Angela pun setali tiga uang. Saya sampai kagum Babah masih sehat
walafiat walau dikelilingi representasi nyata dari netizen julid dan tukang tubir.
Sepanjang durasi Bidadari Mencari Sayap mengalun, isinya hanyalah letupan-letupan amarah, penuh karakter-karakter pendukung bersliweran yang hampir kesemuanya tidak diberi manfaat, dan dialog-dialog kaku (yang tak bisa hamba bayangkan bakal diucapkan oleh
manusia di kehidupan sehari-hari) berisi pesan moral. Dalam setiap langkah
kaki, dalam setiap hembusan nafas, dan dalam setiap kedipan mata, kamu akan
mendengar salah satu karakternya memberikan kritik maupun wejangan
sampai-sampai saya lupa kalau sedang menonton film. Saya mengira sedang
mendengarkan khatib menyampaikan khotbah dalam Sholat Jumat. Sungguh, rasanya
ingin seketika bertaubat karena sudah menyia-nyiakan waktu berharga.
Diri ini tentu paham betul bahwa Bidadari
Mencari Sayap mempunyai tujuan mulia yakni mengajak publik untuk menghargai
perbedaan – apapun itu wujudnya. Mengampanyekan toleransi ditengah iklim yang
kian memecah belah masyarakat Indonesia. Namun, menjejalkan nasihat dalam
setiap dialog yang menjadikannya terdengar amat ceriwis dan menghadirkan
jalinan pengisahan yang sulit diterima oleh logika jelas tidaklah efektif. Apalagi
saat si pembuat film turut menyodorkan konklusi problematis yang membuat saya
kembali mempertanyakan tentang pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.
Bisa ditonton di Disney+ Hostar
Indonesia
Poor (2/5)


























![Koisuru Keigo 24 Ji (2024) Episode 01-09 Subtitle Indonesia [TAMAT] + [BATCH]](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/02/SaveTwitterNet_GA4HaqraYAAZeE7.jpg?fit=456%2C322&ssl=1)





