*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Gambaran
pelaut Indonesia temp doeloe hingga kini boleh jadi kurang lebih sama.
Pelaut-pelaut Indonesia di zaman kuno terekam dalam catatan Eropa, Tiongkok,
prasasti dan candi. Dalam perkembangannya muncul teknologi navigasi dan
bentuk-bentuk kapal. Salah satu bentuk kapal Indonesia adalah pinisi yang mengacu
pada jenis sistem layar (rig), tiang-tiang, layar dan konfigurasi tali. Kapal
pinisi terkenal di Makassar. Sejak dari doeloe, Indonesia sebagai kepulauan,
tradisi melaut terdapat di seluruh Indonesia.

setelah China dan Filipina sebagai penyuplai pelaut di kapal asing. Kementerian
Perhubungan mencatat ada 1,2 juta pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing
perikanan maupun kapal asing niaga. “Dari data Kementerian Perhubungan ada
1,2 juta orang pelaut kita bekerja di kapal niaga atau kapal perikanan luar
negeri,” kata Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi,
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Basilio Dias Araujo
dalam Konferensi Pers Virtual terkait Isu Perlindungan Pelaut, Jakarta, Rabu
(17/2/2021). ILO mencatat Indonesia merupakan penyuplai pekerja perikanan
terbesar di dunia. Mereka bekerja di laut bebas maupun bekerja di negara
setempat sebagai pelaut residen (Liputan6.com, 17 Feb 2021).
Lantas
bagaimana sejarah pelaut Indonesia sejak zaman kuno? Seperti disebut di atas, tradisi
melaut sudah ada sejak zaman kuno, yang menghubungkan antara satu daratan
dengan daratan lainnya, antara satu pulau dengan pulau lainnya. Bahkan pelaut
Indonesia sudah mencapai Canton, Taiwan, Maori, Madagaskar. Lalu bagaimana
sejarah pelaut Indonesia sejak zaman kuno? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Pelaut
Indonesia Sejak Zaman Kuno: Berlayar hingga Canton, Taiwan, Maori, Madagaskar
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Pelaut Indonesia Sejak Zaman
Kuno: Era Pinisi hingga Masa Kini
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




